17 Januari 2019

NASIHAT BUAT PARA PEMIMPIN TERPILIH



Oleh : S. Aminulloh

Hiruk pikuk dan dinamika kegiatan Pemilu Pemilihan Gubernur dan Bupati/Wali Kota 2018 telah menyita perhatian masyarakat. Semua berharap pemimpin terpilih merupakan yang terbaik dari sekian pasangan calon yang ada. Semua juga berharap pemenangnya tidak melupakan janji-janji yang pernah dikemukakan selama masa kampanye. Di tengah potret kekuasaan yang buram saat ini ada baiknya pemimpin terpilih merenungkan beberapa kutipan nasihat dari orang-orang bijak sebagai berikut :  Seorang sufi pernah bertandang ke istana Nabi Sulaiman a.s dengan membawa segenggam nasihat, tepatnya sebuah teguran yang cukup gamblang : "Kalau kursi yang kau duduki itu kau anggap sebagai kekuasaan dan bukan sebagai tugas pelayanan kerumahtanggaan bersama, maka tunggu sa'atnya kau akan dikalahkan oleh si kursi itu. Kalau kursi itu kau anggap sebagai sebuah keunggulan dan bukan sebagai sebuah tanggungjawab yang dititipkan kepadamu, maka kepribadianmu akan digerogoti oleh si kursi sampai keropos. Kalau kursi itu kau anggap sebagai kekuatan dan bukannya sebagai amanat yang dibebankan kepadamu, maka kelak kau akan ambruk dicampakkan dari kursi itu.  Kursi jangan dibanga-banggakan, karena ia tak lebih merupakan ancaman terhadap kelemahanmu. Kursi melahirkan getaran yang bisa merusak syaraf matamu, sehingga semakin lama, kamu akan semakin tidak fokus dalam melihat setiap permasalahan yang terjadi. kursi diam-diam melontarkan frekwensi yang bisa meretakkan gendang telingamu, sehingga kau semakin sukar untuk mendengarkan. Kursi bisa membuatmu jadi plin-plan dan pelupa. "
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra pernah berkirim surat berisi nasihat  kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan. Surat yang menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki telah memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat, ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 dan disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.
Berikut cuplikan nasehat-nasehat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga itu: “Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar. Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.
Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka. Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan mengenang  semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Dengan sikap yang waspada itu, kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.
Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan mengambil  sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka. Sesungguhnya manusia itu ada dua jenis, yakni orang-orang yang merupakan saudara seagama denganmu dan orang-orang sepertimu. Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu. Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka.
Janganlah engkau persiapkan dirimu untuk memerangi Allah, karena engkau tidak mungkin mampu menolak azab-Nya dan tidak mungkin dirimu akan meninggalkan ampunan dan rahmat-Nya. Janganlah pernah menyesal atas ampunan yang kau berikan. Begitu juga  janganlah bergembira dengan sebuah hukuman. Jangan pula tergesa-gesa memutuskan atau melakukan semata karena emosi, sementara engkau sebenarnya dapat memperoleh jalan keluar. Jangan katakan: ”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh. Jangan sampai engkau melawan Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam keperkasaan-Nya. Sesungguhnya Allah akan merendahkan setiap orang yang angkuh dan menghinakan setiap orang yang sombong.
Senantiasa belajarlah segala sesuatu hal pada mereka yang memiliki pengalaman yang matang dan penuh kebijakan. Seringlah bertanya pada mereka tentang hal-hal kenegaraan sehingga engkau dapat mempertahankan kebaikan dan perdamaian yang oleh para pendahulumu sudah pernah ditegakkan. Tajamkanlah matamu pada orang-orang yang sejak dulu atau sekonyong-sekonyong dekat denganmu, yang akan cenderung menggunakan posisinya untuk mengambil atau mengorupsi milik dan hak orang lail.  Tekanlah sedalam- dalamnya kecenderungan seperti itu. Buatlah peraturan-peraturan di bawah kendalimu yang tidak memberi kesempatan sekecil apapun pada kerabatmu. Hal itu akan mencegah mereka melakukan kekerasan pada hak orang lain dan menghindarkanmu dari kehinaan di hadapan Allah dan manusia umumnya.”
Sultan Muhammad al Fatih (831M) penakluk Konstatinopel. Ia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah saw sebagai : “Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR Ahmad) pernah berwasiat kepada putranya yang akan menggantikan posisinya :  “Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian. Hindari bid’ah-bid’ah yang merusak. Jauhi orang-orang yang menyuruhmu melakukan itu. Lakukan perluasan negeri ini melalui jihad. Jagalah harta baitul mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengulurkan tanganmu pada harta rakyatmu kecuali itu sesuai dengan aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak. Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang. Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”  Semoga masih tersedia telinga dan hati pada Gubernur/Bupati terpilih untuk menerima dan merenungkan nasihat-nasihat tersebut. Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar