18 Juli 2023

HIJRAH : HARI DEMI HARI, DARI HABASYAH KE MADINAH

 Oleh: Drs. H. Uus Muhammad Ruhiat

 

Dua Kali Hijrah ke Habasyah

Bulan Rajab tahun kelima kenabian. Dua belas laki-laki dan empat  perempuan diam-diam menyelinap ke balik legamnya malam Kota Makkah. Cemas dan mencekam. Mereka menuju laut,  dan sampai ke Pelabuhan Syaibah.  Tujuan mereka Habasyah, sebuah kerajaan di  Benua Afrika. Penyeberangan mesti dilakukan, secepatnya, sebelum kaum Quraisy datang menghadang.

Takdir Allah  menjemput mereka yang sedang  mencari tempat yang aman untuk beriman. Dua buah kapal dagang yang sedang berlajar menuju Habasyah bersandar di Pelabuhan Syaibah itu. Mereka ikut berlayar dalam kapal yang tak pernah lelah menggergaji laut ini.  Benar, kaum Quraisy berhasil melacak mereka, tetapi terlambat. Muhajirin dan muhajirat pertama yang dipimpin Usman bin Affan itu sudah jauh meninggalkan pesisir Laut Merah yang terletak di Jedah ini.

Raja Habasyah, Najasyi,  atau disebut pula Negus, dikenal sebagai penerima tamu yang ramah. Media massa menyebut Habasyah sebagai negeri penyelamat sahabat Nabi Muhammad saw, sekaligus tempat hijrah pertama umat Islam.

Muhajirin dan muhajirat ini tinggal sekitar tiga bulan di Habasyah. Mereka pulang ke Makkah, dengan harapan, tak ada lagi intimidasi, ancaman, atau kekerasan fisik. Ternyata, kaum Quraisy tak pernah berubah, tetap kasar dan semakin bengis. Nabi Muhammad saw memerintah para sahabatnya hijrah lagi  ke Habasyah.  Inilah hijrah ke Habasyah yang kedua, dipimpin Jafar din Abi Thalib, dengan jumlah muhajirin sebanyak 83 orang (kalau Ammar bin Yasir ikut) dan muhajirat sebanyak 18 atau 19 orang (Al-Mubarakfury, penerjemah Hanif Yahya, 1422 H/2001 M : 125).

Kalau hijrah pertama tanpa pengejaran sampai ke Habasyah, kini kaum Quraisy mengutus dua orang cerdik, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah (keduanya kemudian masuk Islam). Kepada Raja Najasyi, kedua utusan ini meminta agar mengembalikan muhajirin dan muhajirat ke Makkah. Para uskup setuju, apalagi kedua diplomat Quraisy sebelumnya memprovokasi para uskup itu. Mereka dianggap pendatang haram di bumi Habasyah.

Raja Najasyi meminta penjelasan kepada Jafar bin Abi Talib, yang sekaligus juga sebagai juru bicara. Terjadilah dialog. Jafar bertutur santun dan “flamboyant”. Penjelasannya sampai ke otak dan hati. Diksi dan gaya bahasanya membangkitkan kesadaran, bukan membakar emosi. Cara dan ciri lomunikasi Jafar pantas dikaji. Komunikasinya sebening kristal. Raja Najasyi terkesima, lalu meminta bukti yang dibawa Jafar. “Buktinya ada,”  jawab Jafar, lalu membacakan permulaan surat Maryam. Raja Najasyi menangis. Kedua kelopak matanya jadi telaga air mata. Janggutnya basah. Para uskup pun menangis. Raja Najasyi kemudian menolak permintaan kedua diplomat kaum Quraisy ini. Hadiah-hadiah pun dikembalikan. Raja Najasyi tak punya alasan mengusir mereka, bahkan kemudian memberi  suaka (pengamanan dan perlindungan). Jafar jadi bintang di langit Kerajaan Habasyah. Cahayanya langsung menembus jantung sang Raja,  sehingga kemudian masuk Islam.

Habasyah, atau Abyssinia, sebuah kerajaan di daratan Benua Afrika itu,  kini jadi  Republik Demokratik Federasi Etiopia (ada presiden dan perdana menteri),  ber-ibu kota Addis Ababa, dengan penduduk  sekitar 110  juta jiwa. Jumlah umat Islam menempati posisi kedua setelah penganut aliran kepercayaan Ortodoks setempat (Kristen Ortodoks).

Perjalanan Historis dan Patriotis.

Darun Nadwah jadi saksi tentang  skenario pembunuhan  yang didesain kaum Quraisy. Kaum muslimin, termasuk Nabi Muhammad saw,  akan dihabisi. Kebencian kepada umat Islam  meluas dan memuncak di kalangan mereka. Tetapi, umat Islam kian kokoh nan teguh mempertahankan keyakinan tauhid. Nabi Muhammad saw kemudian tahu persis  rencana jahat kaum Quraisy itu melalui wahyu.  Firman-Nya :

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِين

“Dan ingatlah tatkala orang-orang kafir mengatur tipu daya terhadapmu buat menawanmu atau membunuhmu atau mengusirmu, mereka mengatur tipu daya, tetapi Allah balas mengatur tipu daya, karena Allah sebaik-baik pembalas tipu daya mereka” (Al-Anfal : 30)

Berdasarakan ayat ini, Nabi Muhamad saw memerintah kaum muslimin Makkah hijrah ke Madinah.  Para sahabat berhijrah secara bertahap, lalu Nabi Muhamad saw berhijrah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam perjalanan historis dan patriotis ini, mereka berdua sempat beristirahat di Gua Saur. Pada episode hijrah ini, Nabi Muhammad saw berhasil mengecoh kaum Quraisy di Makkah, sehingga bisa lolos ke Madinah. Di Makkah, Nabi Muhammad saw menugaskan Ali bin Abi Talib agar tidur di kamarnya. Kaum Qurasy mengira, Nabi Muhammad saw masih berada di rumahnya, padahal sudah lolos menuju Madinah.

Dua anak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah dan Asma, pun mampu mengecoh kaum Quraisy. Pada saat kaum Quraisy mencari-cari  Nabi Muhammad saw, dan bahkan penemunya akan diberi hadiah, dua anak muda inilah yang pergi pulang dari rumah ke Gua Saur. Asma membawa perbekalan yang disembunyikan di balik baju hijabnya. Abdullah membawa domba di belakang untuk menghapus jejak kaki mereka berdua. Supaya sulit dilacak, jejak  kaki kedua orang ini dihapus dengan jejak kaki domba.

Purnama dari Sela-Sela Bukit Wada’

Gemuruh dan gempita penyambutan terhadap Nabi Muhammad saw luar biasa. Penduduk seisi Yatsrib (yang kemudian diganti jadi Madinah) berhamburan keluar rumah. Keceriaan dan kegembiraan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Madinah. Nabi Muhammad saw dikawal pasukan bersenjata dari kalangan Bani An-Najjar.

Takbir, tahmid, dan taqdis bergema memenuhi ruang dan waktu. Gadis-gadis Madinah mendendangkan  bait demi bait puisi sanjungan sebagai ekspresi kegembiraan. Nabi Muhammad  saw mereka ibaratkan purnama yang muncul dari sela-sela Bukit Wada’.

Ya, laksana purnama yang muncul dalam legamnya malam Madinah. Nabi Muhammad saw laksana sinar kehidupan di tengah-tengah  zaman The Dark Age. Thalaal badru ‘alaina/min tsaniyyatil Wada’… (Purnama muncul/dari sela-sela Bukit Wada’….) Nabi Muhammad saw memasuki Kota Madinah, Senin, 1 Rabiul Awal tahun 1Hijriah. Tsaniyyatul Wada’ ini. kabarnya, digunaan masyarakat Madinah sebagai tempat melepas sahabat atau kerabat yang akan pergi jauh.

Ibnu Qayyim menampik bait demi bait syair itu didendangkan saat menyambut kedatangan Nabi Muhamad saw. Dalam kitab Zaadul Ma’aad, karyanya, Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai ilusi, alias wahm. Bagi Ibnu Qayyim, bait demi bait puisi ini didendangkan untuk menyambut kehadiran Nabi Muhammad saw sekembalinya dari perang Tabuk. Tetapi, sebagaimana dalam catatan kaki buku Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw, Al-Mubarakfury mengutip Al-Allamah Mansyurfury, bahwa bait demi bait puisi itu memang benar didendangkan untuk menyambut Nabi Muhammad saw saat tiba di Madinah.

Argumentasi Ibnu Qayyim dianggap tak memuaskan (Al-Mubarakfury, 1421 H/2001 : 250). Kata peneliti historical fact,  Staniyyatul Wada’ itu tidak dilewati dalam perjalanan Makkah – Madinah, tetapi dilewati dalam perjalanan Syam (Siria) – Madinah. Hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, dan – tentu saja -  bukan dari Syam ke Madinah.   Kita telaah hadis demi hadis tentang dendang puisi dan hijrah ini. Kita punya Dewan Hisbah.

Ayat-Ayat Hijrah

Al-Qur’an memuat ayat hijrah, baik berupa intruksi maupun motivasi (khabariyah atau insyaiyyah). Firman-Nya :

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  

Lalu Luth beriman kepadanya (ajakan Ibrahim) dan ia berkata, “ Sesungguhnya aku akan berhijrah kepada Tuhanku, karena sesungguhnya Ia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-‘Ankabut : 30)

Keterangan di atas menunjukkan, Nabi Luth as (keponakan Ibrahim as) beriman kepada ajakannya dan menyatakan kesediaannya berubah dan berpindah, asal  diperintah oleh Tuhan. Dialah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam segala hal.

Orang-orang  yang beriman, berhijrah, dan berjihad, baik dengan harta, maupun dengan jiwa, akan  Allah angkat derajat mereka, dan dinyatakan sebagai orang-orang yang meraih kemenangan. Firman-Nya :

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ  

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (At-Taubah : 20)

Ayat Al-Qur’an ini menunjukkan, di sisi Allah Swr,  betapa tingginya derajat orang yang memiliki paket kumplit beriman, berhijrah, dan berjihad,  baik dengan harta maupun dengan jiwa.

Pada ayat selanjutnya, Allah memberi kabar gembira dengan rahmat-Nya. Di sorga ada  kenikmatan yang kekal. Khusus  bagi orang yang berhijrah, Allah Swt menjanjikan keluasan tempat, rezeki,  dan pahala. Firman-Nya :

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.  

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya ( sebelum sampai ke tempat yang dituju ), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (An-Nisa : 100)

Refleksi Hijrah

Malaikat akan “menggugat” orang yang menolak hijrah, padahal agama dan pengamalan agamanya terancam. Ini sebetulnya perbuatan zalim terhadap diri sendiri. Firman-Nya dalam An-Nisa : 97, “Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh Malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri mereka (para malaikat) bertanya, Bagaimana kamu ini ? Mereka menjawab,” Kami orang-orang yang tertindas di bumi ini (Makkah). Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu . Maka mereka itu tempatnya di neraka Jahannam dan Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali.”

Adanya keinginan untuk hidup dalam masyarakat yang tertib dan patuh terhadap aturan, undang-undang, dan hukum-hukum Allah Swt, berarti adanya keinginan hijrah untuk kehidupan yang lebih baik.

Hijrah dari kehidupan semrawut  menuju kehidupan yang tertib tentu akan mendapat derajat yang tinggi  di sisi Allah Swt, baik derajat hidup di dunia maupun di akhirat.  Janji-Nya memang begitu.

Para ulama membagi tiga bagian hijrah. Pertama, meninggalkan atau berpindah dari negeri yang berpenduduk kufur menuju negeri yang berpenduduk muslim. Kedua, meninggalkan syahwat dan akhlak buruk menuju kebaikan dan akhlak mulia Ketiga, mujaahadatu ‘n-nafs, melawan diri sendiri dari perilaku buruk untuk capaian  martabat  manusia yang hakiki.

Hijrah dari  Makkah ke Habasyah, juga dari Makkah  ke Madinah, tentu tak akan ada lagi. Kini, hari demi hari, kita isi dengan hijrah yang lain, yang berlaku sepanjang masa,  Seperti  Nabi Ibrahim as, “Sesungguhnya aku hijrah kepada tuhanku”. (Al-‘Ankabut : 26). Juga, kita jadi muhajir seperti  dalam hadis di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ رواه البخاري  

Dari Abdullah bin 'Amr, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah " (Al-Bukhary). =

 

01 Juni 2022

BEKERJA ADALAH IBADAH

                                                         

 عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ –ر.ع. – أَنَّ النَّبِيَّ –ص– سُئِلَ: أَيُّ اْلكَسَبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: "عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ" رواه البزّار و صححه الحاكم

Dari Rifa‘ah ibn Rafi‘ r.a. bahwasanya Nabi Saw. ditanya, “Pekerjaan (mencari rezeki) apa yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrûr (baik dan halal).” HR Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim.

 

Dalam ajaran Islam, tidak ditemukan satupun dalil yang mengharuskan umatnya hidup miskin dan tidak perlu mencari rezeki dengan alasan apapun. Bila ada anggapan demikian dengan alasan bahwa Rasulullah Saw. dan para sahabatnya tidak meninggalkan apa-apa untuk keluarganya yang berarti selama hidup mereka hidup miskin adalah salah besar. Ada banyak alasan yang membantah kesimpulan tersebut. Pertama, hadis di atas. Jelas dan sangat gamblang Rasulullah mengisyaratkan bahwa setiap Muslim tidak diperkenankan membiarkan tangannya tidak bekerja. Tangan seorang Muslim yang diguakan untuk bekerja mencari rezeki adalah tangan yang paling baik; disusul kemudian oleh mereka yang berdagang sesuatu yang halal dan dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mereka oleh Rasulullah Saw. dipuji sebagai orang-orang yang baik.

Kedua, banyak sakali ibadah dalam Islam yang harus dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah biaya tertentu. Pada bulan Dzulhijjah ini, misalnya, umat Islam diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji dan menyembelih hewan qurban. Sudah sangat maklum di antara kita bahwa beribadah haji, apalagi dari negeri-negeri di luar Mekah termasuk Indonesia, berangkat haji memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada masyarakat Indonesia, siapa yang bisa menunaikan haji dengan biaya sendiri pasti orang itu tergolong berpunya (the have). Menyembelih hewan qurban hanya bisa kita kerjakan kalau kita memiliki sejumlah uang untuk membeli hewannya atau kita sudah memiliki hewan itu. Belum lagi syari‘at zakat, infaq, sedekah, menuntut ilmu, dan sebagainya. Semuanya mengisyaratkan bahwa umat Islam harus memiliki sejumlah harta tertentu agar bisa mengerjakan banyak jenis ibadah.

Ketiga, sejarah mencatat bahwa Rasulullah dan para sahabat bukanlah para pengangguran yang hidup miskin. Sekalipun kelihatannya tidak punya apa-apa, bahkan saat meninggal tidak meninggalkan apapun, sebenarnya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka tidak punya apa-apa bukan karena miskin dan pengangguran, melainkan harta mereka digunakan untuk membiayai segala ibadah yang diperintahkan Allah Swt. pada mereka.

Kita perhatikan bagaimana keseharian Rasulullah Saw. bagi Rasulullah, menerima harta, zakat, infaq, dan sedekah adalah haram. Rasulullah hanya diperkenankan menerima hadiah. Itupun dalam jumlah terbatas. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu pada beliau yang tidak diberi. Itu artinya Rasulullah selalu memiliki sesuatu (harta) untuk diberikan pada orang lain? Dari mana Rasulullah memilikinya kalau dia tidak bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencari nafkah. Istri Rasululah tercatat paling tidak ada sembilan orang. Allah mewajibkan pada setiap suami untuk membelanjai istrinya. Dari mana beliau bisa menghidupkan begitu banyak istri dan anak-anak mereka bila belaiu tidak memiliki sejumlah harta. Melihat ke sana jelas Rasulullah bukan seorang pengangguran yang miskin.

Berdasarkan bukti-bukti di atas, jelas bahwa umat Islam diharuskan berpikir dan bertindak kreatif untuk menghasilkan sumber-sumber rezeki bagi kehidupannya. Umat Islam tidak diperbolehkan hanya tinggal diam. Sekalipun dalam perkiraan statistik ekonomi kesempatan kerja sangat sempit, perkiraan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bekerja atau membiarkan diri menganggur. Jadi, secara normatif, sama sekali tidak dibenarkan ada satu pun orang yang mengaku “Muslim” sampai menganggur tanpa udzur. Seorang Muslim harus mengaktifkan kedua tangannya melakukan apa saja.

Selain itu, banyak sekali isyarat-isyarat dalam Al-Quran dan hadis yang mengharuskan setiap Mukmin bekerja, tidak berpangku tangan menganggur dan malas. Perhatikan ayat-ayat dan hadis berikut.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami jadikan siang hari sebagai (waktu) mencari penghidupan. (QS Al-Naba’ [78]: 11).

 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي اْلأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَاتَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A‘râf [7]:10)

 

 فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10).

ِلأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبَلَهُ فَيَخْتَطِبُ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنَ يَأْتِيَ رَجُلاً أَعْطَاهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلُهُ أَعْطَاهُ  أَوْ مَنَعَهُ

Lebih baik bagi salah seorang di antara kalian untuk mengambil tali miliknya lalu mencari kayu bakar (dipundak) di atas punggungnya, daripada mendatangi seseorang yang diberi rezeki oleh Allah, lalu ia meminta-minta padanya, diberi ataupun tidak. (Muttafaq Alaih)

Berdasarkan dalil-dalil di atas lebih jelas lagi tentang bagaimana sikap Islam terhadap para pengangguran yang hanya hidup meminta-minta, bepangku tangan tanpa bekerja. Namun, harus digarisbawahi bahwa dalam Islam “bekerja” bukan hanya “menjadi pegawai” di suatu perusahaan atau istitusi. Dalam Islam konsep bekeja adalah enterpreneurship (kewirausahaan). Kewirausahaan bukan hanya sekedar berbisnis dalam arti berjualan (marketing), namun melakukan kretivitas apa saja dari mulai hulu produksi sampai penjaualan yang dapat menjadi wasilah datangnya rezeki dari Allah Swt.

Dalam hal ini, Islam mendorong umatnya untuk secara kreatif menggali sumberdaya yang ada dalam diri orang tersebut dan dari lingkungan alam yang ada di sekitaranya hingga dapat diolah menjadi sumber-sumber ekonomi. Urusan bentuk usaha dan besar-kecilnya volume usaha yang dilakukan bukan ketentuan baku yang ditentukan secara rigid dalam syari‘at. Itu berarti bahwa seberapa pun hasil yang kita dapat, kalau itu hasil jerih payah sendiri tetap leboh baik daripada hasil meinta-minta. Bila disertai dengan sikap kita yang selalu bersyukur atas hasil yang kita dapat, maka pasti Allah akan melipatgandakan berkahnya. Artinya, bila disyukuri besar akan bermanfaat, kecil tetap akan dapat mencukupi segala kebutuhan kita.

Dengan konsep seperti ini, tidak ada ceritanya bahwa seorang Muslim memilih untuk diam di rumah karena lamaran pekerjaannya belum ada yang diterima atau belum menjadi PNS. Belum diterima bekerja bukan alasan untuk mendiamkan kedua tangan tanpa kerja. Masih banyak sumber daya di dunia ini yang bisa digali. Rezeki Allah pintunya disiapkan berjuta-juta tanpa batas. Jadi, kalau kita terpaku pada satu pintu saja, sama saja kita tidak percaya bahwa Allah Mahakaya. Oleh sebab itu, Islam sangat tidak menyukai orang yang diam berpangku tangan dan peminta-minta. Kalau kita sungguh-sungguh mau melepaskan tangan untuk bekerja, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Insya Allah Allah akan mengalirkan rezeki-Nya dari jalan yang seringkali kita tidak tahu. Wallâhu A'lamu bi al-shawwâb.    

____________ Risalah Jum'ah edisi 147

JANGAN BIARKAN SETAN TERTAWA

 Oleh : Deni Solehudin

 

S

etan adalah Iblis yang putus asa dari rahmat Allah. Karena ia telah terusir dari surga dan dicopot dari jabatannya sebagai penjaga surga. Dengan kehasudannya ia tidak suka melihat orang lain berada dalam kesenangan dan keni’matan. Oleh sebab itu ia bersumpah akan menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Dalam QS. Al A’raf ayat: 16-17 diterangkan : 

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis berkata : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)".

Ketika ia diusir dari surga dan dinyatakan sebagai penghuni utama neraka jahannam, maka tidak ada keperluan lain baginya terhadap kita, manusia kecuali bagaimana ia menjadikan kita sebagai teman setia yang akan menemaninya kelak di neraka. Dari situ, tepatlah Allah SWT. menyatakan bahwa setan itu adalah musuh yang nyata, musuh yang sebenar-benarnya.

Menurut Ust. Aceng Zakaria (Etika Muslim: 178), kalau kita mengukur kekuatan setan, baik dari segi usia dan pengalaman, sangat jauh berbeda dengan manusia. Setan telah berusia jutaan tahun semenjak ia ada sampai sekarang belum ada yang meninggal. Setan memiliki segudang pengalaman untuk menjatuhkan manusia sekaliber apa pun. Selain itu, Setan mempunyai kelebihan dapat melihat diri kita sementara kita tidak dapat melihat sosok Setan.

Di sisi lain, musuh yang satu ini mempunyai millitansi yang sangat tinggi. Ia akan menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan lawannya. Serangan yang bertubi-tubi ia lancarkan; tidak mampu dari depan maka dari belakang, tidak mampu dari belakang maka dari samping kanan, tidak mampu dari samping kanan maka dari samping kiri. Menghadapi musuh semacam itu, akan mampukah kita memenangkan pertempuran dengannya??? Atau justru malah kita sendiri yang kalah dan menjadi bahan ejekan dan tertawaan setan???!!!.

 

Apa yang membuat Setan gembira? Secara garis besar tentunya adalah perbuatan-perbuatan yang menjauhkan kita dari surga dan sebaliknya mendekatkan kita ke neraka. Setan sangat senang apabila manusia berprilaku seperti dia, karena hal itu akan menambah teman abadinya kelak di neraka. Menganggap sepele terhadap suatu amalan misalnya makan, minum, merokok dengan tangan kiri adalah sudah cukup membuat Setan gembira. Rasulullah SAW. bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنْ رَضِىَ أَنْ يُطَاعَ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تُحَاقِرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوْا إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُم مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ.

 “Sesungguhnya Setan itu telah putus asa untuk disembah (langsung) di bumi kamu ini (Mekkah). Tetapi ia sudah cukup senang untuk ditaati selain hal itu, yaitu mengenai amal-amal yang anggap kamu sepele, maka hati-hatilah!”. Rasul berkata (lagi) : “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua pusaka, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya. (Al Hakim, dalam Al Hidayah :3).

 

Setan tertawa lebar ketika manusia menuruti hawa nafsu dan melupakan permohonan ampun kepada Allah SWT. (istighfar) atas kesalahan-kesalahanannya. Nampaknya hal inilah hasil akhir yang dibidik oleh Setan terhadap manusia. Oleh sebab itu, Rasululah SAW. telah mewanti-wanti kepada kita dengan sabdanya : 

عَلَيْكُمْ بِلاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَالْاِسْتِغْفَارِ فَأَكْثِرُوْا مِنْهُمَا ، فَإِنَّ إِبْلِيْسَ قَالَ : أَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوْبِ وَأَهْلَكُوْنِى بِلاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَالْاِسْتِغْفَارِ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ فَلاَ يَسْتَغْفِرُوْنَهُ.

"Jagalah oleh kamu kalimat  “LA ILAAHA ILLALOOHU” dan Istighfar. Perbanyaklah (mengucapkan dan mengamalkan) keduanya. Karena Iblis berkata : Aku celakai manusia dengan dosa tetapi mereka mencelakaiku dengan “LA ILAAHA ILLALOOHU” dan Istighfar. Ketika Aku melihat yang demikian, ku celakai mereka dengan mengikuti hawa nafsu dan mereka meyakini bahwa mereka mendapat petunjuk. (HR. Abu Ya'la; dalam Jami'us Shogir: 65, Al Hidayah: 7).

 

Orang-orang yang hakikatnya berada dalam kesesatan tetapi mereka merasa bahkan yakin bahwa mereka itu berada dalam kebenaran inilah yang menjadi target utama setan. Mengapa? Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits di atas, bahwa dengan Maha Pengasih dan Penyayangnya, Allah SWT. Akan senantiasa mengampuni manusia sebanyak apapun dosa mereka asalkan mereka mau bertobat dan menyadari dan menyesali bahwa perbuatannya adalah salah, bahkan sesat dan menyesatkan. Oleh sebab itu, berusahalah setan agar manusia mengikuti hawa nafsu dan merasa dalam petunjuk, sehingga karena merasa benar ia tidak akan bertobat dari perbuatannya. Upaya setan itu nampaknya menuai hasil, sebagaimana diinformasikan oleh Allah SWT. Dalam QS. Al-A’raf ayat 30 :

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

 

Buatlah Setan menangis

Dalam suatu  riwayat diceritakan Ibrahim bin Muhammad bin Muflih menyebutkan di dalam tafsir Baqy bin Makhlad :”Sesungguhnya Iblis berteriak histeris (Menangis keras) empat kali yaitu ketika dilaknat oleh Allah, ketika diusir dari surga, ketika Rasulullah dilahirkan dan ketika turun Surat Al Fatihah. Ibnu Abbas menyebutkan, ketika futuh Mekkah, Iblis berteriak histeris sehingga bala tentaranya berkumpul.( Fathul Majid : 400).

Di muka telah diterangkan bahwa Setan adalah makhluk yang militan dalam menaklukkan musuhnya. Bahkan disebutkan ia lebih berpengalaman dibanding dengan kita, manusia. Tetapi Setan juga makhluk, banyak juga kelemahannya. Sebagaimana hadits di atas ia berteriak histeris. Dan kita tidak perlu merasa belas kasihan kepadanya dan jangan memberi peluang untuk balik menertawakan kita. Bahkan secara eksplisit Rasulullah SAW. telah memberikan petunjuk bagaimana supaya ia menangis dan tidak mendapat peluang untuk menggelincirkan kita, di antaranya dengan :

1. Memperbanyak sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم :  إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُوْلُ : يَاوَيْلَهُ ! اُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَاُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. (رواه مسلم)

 Dari Abu Hurairah RA. ia berkata, Rasulullah SAW. telah bersabda : Apabila anak Adam membaca ayat sajdah kemudian ia sujud maka Setan menjauh sambil menangis, ia berkata : Celaka Aku, Anak Adam diperintah untuk sujud kemudian ia sujud maka baginya surga, sedangkan aku diperintah untuk sujud tetapi menolak maka bagiku neraka. (HR. Muslim).

 2.  Mengendalikan Diri Sendiri

 Rasulullah SAW. Bersabda :

 أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ وَعَصَمَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ : مَنْ مَلَكَ نَفْسَهُ حِيْنَ يَرْغَبُ وَحِيْنَ يَرْهَبُ وَحِيْنَ يَشْتَهِى وَحِيْنَ يَغْضَبُ. (الحاكم)

Empat hal, apabila keempat hal itu ada pada seseorang, Allah mengharamkan baginya neraka dan menjaganya dari gangguan Setan, yaitu : orang yang menguasai/ mengendalikan dirinya ketika senang, ketika susah, ketika sangat menginginkan sesuatu dan ketika ia marah. (Hakim, dalam Mukharul Ahadits Nabawiyah : 19).

3. Shalat dan Saling Mencintai Karena Allah

Rasulullah SAW. Bersabda :

اَلصَّلَاةُ تُسَوِّدُ وَجْهَ الشَّيْطَانِ وَالصَّدَقَةُ تَكْسِرُ ظَهْرَهُ وَالتَّحَابُّ فِى اللهِ وَالتَّوَدُّدُ فِىالْعَمَلِ يَقْطَعُ دَابِرَهُ فَاِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ تَبَاعَدَ مِنْكُمْ كَمَطْلَعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا

Sholat itu akan menghitamkan (membuat murung) wajah Setan, Shodaqoh itu akan mematahkan tulang punggungnya, Saling mencintai karena Allah dan membanyakkan amal kebaikan itu memusnahkannya. Apabila kamu berbuat yang demikian itu maka ia (Setan) akan menjauhimu sejauh tempat terbit matahari dengan tempat terbenamnya. (Al Jami’ II : 51).

________ Risalah Jum'ah edisi 145

KEMENANGAN DAN KEKALAHAN; 'IBRAH PENGALAMAN BADAR-UHUD

Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA.

 

Sebagai kitab suci, Al-Qur'anul Kariem merekam dengan jelas, bagaimana Allah 'azza wa jalla mengisyaratkan penggalan peristiwa peperangan yang terjadi di lembah Badar dan bukit Uhud. Semua ini menjadi renungan perjalanan dari peristiwa panjang sejarah (sierah) yang mesti menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mampu menggunakan akal sehatnya (nazhar). Kemenangan dengan segala indikatornya dan kekalahan dengan segala indikatornya, itulah yang patut jadi renungan bagaimana Allah tunjukkan ke-Maha besaranNya. Adapun menang atau pun kalah, keduanya merupakan perkara lazim dalam sebuah pertempuran. (Lihat QS. Alu 'Imran/ 3: 137)

Diawali dengan menjelaskan, bahwa berkaca pada sejarah itu adalah penting; di mana sejarah dapat berfungsi sebagai pemberi keterangan rekam jejak perjalanan (bayaan), petunjuk yang mencerahkan (hudan) dan nasihat yang mengingatkan (mau'izhah) bagi mereka orang-orang yang bertakwa. (Lihat QS. Alu 'Imran/ 3: 138)

Sungguh peperangan Badar, sebuah pertempuran yang sangat membekas dalam sejarah; kekompakkan para shahabat dan kepatuhan serta ketaatan mereka kepada Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam begitu kentalnya dan kaum Muslimin pun mengalami kemenangan. Sekalipun jumlah mereka tidak seimbang; 313 orang pasukan Muslimin harus berhadapan dengan kekuatan 1000 orang pasukan musuh, namun Allah menangkan mereka dengan gemilang.

"Dan sungguh Allah menolong kalian di Badar padahal kalian lemah, maka bertakwalah kepada kepada Allah mudah-mudahan kalian termasuk orang yang bersyukur."  (QS. Alu 'Imran/ 3: 123)

Berbeda dengan peperangan Uhud, secara kasat mata kaum Muslimin harus menderita kekalahan. Bahkan paman Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam yang diandalkan dan kebanggaan kaum Muslimin pun gugur bersama shahabat Mush'ab bin 'Umair radhiyallaahu 'anhumaa (sang pemegang bendera/  liwa'). Namun demikian, kekalahan ini pada akhirnya menjadi kemenangan ketika kaum Muslimin secepatnya mawas diri dan mengambil pelajaran dari kekalahannya.

Kekalahan kaum Muslimin di bukit Uhud, bukan tanpa alasan, kekuatan penuh kaum musyrikin Quraisy sejumlah 3000 orang pasukan dikerahkan; didukung 700 pasukan baju besi, diikuti pula para wanita, diiringi 3000 ekor unta dan 200 ekor kuda. Sedangkan kaum Muslimin, terdiri dari 1000 pasukan yang dalam perjalanannya berkurang menjadi 700 orang, dikarenakan 300 orang pasukan berbelot dibawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafiq).

Tak kalah pentingnya, krisis kepatuhan kepada pemimpin pun terjadi, yang hakikatnya tidak mematuhi Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam ketika 50 orang pasukan elite regu pemanah ditempatkan di bukit 'ainain (dikenal dengan jabal rumaat) dibawah komandan 'Abdullah bin Jubair al-Anshary radhiyallaahu 'anh. Dipicu dengan berita hoax sebelumnya bahwa Rasulullaah gugur (padahal Mush'ab yang wajahnya mirip dengan sang Rasul), juga sikap tergesa-gesa (isti'jaal) kaum Muslimin waktu itu yang mengklaim bahwa mereka "menang perang" dan perang telah selesai. Itulah yang membuat euforia para pemanah tergiur dengan rampasan perang (ghanimah), yang akhirnya pasukan Khalid bin Walid (yang waktu itu belum masuk Islam) menggempurnya dari balik bukit secara sporadis dan mematikan lawannya. Para shahabat pun banyak berguguran menjadi syahid di lembah ini. Inilah yang dilukiskan Al-Qur'an Surat Alu 'Imran ayat 140:

إن يمسسكم قرح فقد مس القوم قرح مثله، وتلك الايام نداولها بين الناس وليعلم الله الذين امنوا ويتخد منكم شهداء، والله لايحب الظالمين

 "Jika luka (di perang Uhud) menimpa kalian, sungguh luka sebanding (di perang Badar) menimpa kaum musyrikin. Dan itulah hari-hari Kami gulirkan di antara manusia agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan menjadikan mereka sebagai syuhada. Dan Allah itu tidak menyukai orang-orang zhalim."

Namun demikian, sungguh Allah 'azza wa jalla memiliki kehendak yang manusia tidak tahu di balik semua rahasiaNya. Khalid bin Walid sang komandan Quraisy itu mendapatkan anugerah hidayah, dirinya masuk Islam setelah "memikirkan" kegigihan para shahabat dalam mempertahankan agamanya sekalipun "kalah perang". Para shahabat begitu yakin apa yang diperjuangkan mereka itu benar dan akan berbuah manis berupa syahaadah dan jannah-Nya. Lalu, bagaimana dengan Khalid? Di atas landasan apa, akan dapat apa dan untuk siapa sebenarnya dirinya berjuang "mati-matian". Sejak itu pula, jawara pedang Quraisy ini tersentak dan berjanji kepada Allah akan senantiasa turut sera berjihad fie sabielillaah seperti halnya para shahabat Nabi. Yakni bercita-cita mati syahid di jalanNya.

Benar apa yang difirmankan Allah 'azza wa jalla dalam ayat lainnya (QS. Alu 'Imran/ 3: 139):

ولا تهنوا ولا تخزنوا وأنتم الاعلون إن كنتم مؤمنين

"Janganlah kalian merasa hina dan janganlah kalian bersedih hati, dan kalian adalah manusia-manusia unggul jika kalian beriman."

Semoga kita dapat mengambil mutiara berharga dan pandai mengambil pelajaran dari gugusan ayat-ayat ini. Allaahumma a'izzal Islaama wal Muslimiena ... Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin

______ Risalah Jum'ah Edisi 144

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi 'Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da'wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

17 Januari 2019

NESTAPA MUSLIM UIGHUR


Oleh: Yusuf Burhanudin


Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah laporan menyebutkan, semakin banyak orang Uighur dan minoritas Muslim lain ditahan di Xinjiang. Penindasan terhadap warga Muslim Uighur, yang berjumlah sekitar 11 juta dari 24 juta penduduk Xinjiang, meningkat sejak Xi Jinping menjadi pemimpin partai Komunis tahun 2012 dan presiden pada tahun 2013. Xi mengklaim tindakan itu diperlukan untuk mengalahkan terorisme Islam dan “virus ideologis” separatisme, meskipun ada bukti anekdotal bahwa tindakan ini memberi efek sebaliknya. Sebuah gerakan nasionalisme palsu yang mengabaikan hak-hak kemanusiaan dan kebangsaan sekaligus.
Pihak berwenang di Cina melakukan sebuah kampanye berskala besar dan sistematis terhadap komunitas Muslim minoritas di negara itu. Pemerintah Beijing mengirim satu juta warga Uighur ke kamp-kamp konsentrasi. Warga Muslim yang taat beribadah dan melakukan perintah agama di wilayah barat laut Xinjiang, seperti: sholat, puasa, tidak makan babi dan minum alkohol, memelihara jenggot, atau berpakaian secara Islami, ditahan oleh pihak aparat dan diperlakukan seolah mereka adalah para penderita kelainan jiwa.
Muslim Uighur dipaksa kerja tanpa upah (Hashar), anak-anak dipaksa bekerja, posting konten Islam di media sosial langsung ditangkap, petani Muslim diwajibkan menjual hasil di bawah harga pasar, lahan pertanian mereka diklaim sepihak oleh pemerintah, dilarang memakai nama-nama islami, dibatasi untuk mengajarkan Islam, tidak ada perayaan Ramadhan setiap tahunnya, dilarang menumbuhkan jenggot, tak ada aturan jelas tentang hak-hak Muslim Uighur, dilarang menggelar acara pernikahan, muslim dipaksa menjual alkohol, kebijakan satu anak, wanita hamil dipaksa untuk aborsi, dan Muslim Uighur pun dilarang pergi dari China (Kiblat, 28/12/18).
Warga Uighur diperlakukan sebagai “musuh negara” karena identitas agama mereka. Tahanan Muslim Uighur ditangkap dan ditahan tanpa proses pengadilan. Mereka dipaksa mengatakan bahwa Allah tidak ada dan Islam agama takhayul. Setiap hari pemerintah menerapkan kebijakan baru yang bertujuan menghapus identitas keislaman, budaya Uighur diganti dengan Chinaisasi.

Siapakah Muslim Uighur?
Uyghur, Uighur, atau Uygur adalah etnik Turki yang tinggal di Asia Timur dan Asia Tengah. Hari ini, etnik mereka terkonsentrasi dan tinggal di daerah otonomi Xinjiang, Republik Rakyat China (RRC). Mereka termasuk salah satu dari 55 etnis minoritas yang kini hidup di China. Agama mereka Islam, dan sebagaimana kebanyakan orang Eurasia tengah (Kaukasus), ras mereka lebih dekat kepada dua ras, baik Eropa maupun Asia Timur.
Di China sendiri tercata ada 56 etnis, di mana etnis Han adalah mayoritas dengan komposisi 90 persen lebih dari seluruh rakyat China, sementara 55 etnis lain adalah minoritas. Dari 55 etnis minoritas, sedikitnya 10 etnis mayoritas beragama Islam Sunni. Mulai yang paling besar; Uighur (14 juta jiwa), Hui (10 juta jiwa), disusul Bonan (Mongol), Tatar (Rusia), Salar (Turki), Uzbek, Kyrghiz, Dongxiang/Gengis Khan, Tajik (Persia), dan Kazakh.
Muslim Uighur tercatat etnis minoritas Muslim terbesar di China dan minoritas paling terkenal saat ini dikarenakan pemerintah China sering menuding etnis Uighur sebagai dalang berbagai aksi teror di Xinjiang. Sementara etnis Hui Muslim, satu suku dari lima suku terbesar di China, tercatat etnis Muslim terbesar kedua setelah Uighur. Agama suku ini Islam Sunni dan tersebar di seluruh provinsi di Tiongkok, namun terkonsentrasi di Ningxia, Hainan, Gansu, Yunnan, dan Qinghai. Ningxia sendiri adalah daerah otonomi bagi suku Muslim Hui.

Suku Hui banyak menghasilkan tokoh-tokoh terkenal seperti Laksamana Cheng Ho alias Zheng He atau Haji Mahmud Syams (1371-1433 M.). Cheng Ho adalah seorang pelaut, penjelajah, dan diplomat ulung Tiongkok. Cheng Ho pertama kali datang di Indonesia jauh sebelum Wali Songo. Saat penyebaran Islam di Indonesia masih sangat kecil dan tertutup, sejak Cheng Ho datang berubah 180 derajat. Ada juga Bao Chongxi, Jenderal China Muslim yang terkenal pada perang dunia kedua melawan Jepang, pengaruh dan kecerdasannya setara Jenderal Yamamoto Jepang.
Uighur adalah minoritas Muslim yang sebagian besar berada di Xinjiang, China barat. Sekitar 45 persen penduduk tempat itu adalah Uighur. Sebuah potret sejarah dan identitas Muslim Uighur menyoroti mengapa China—negara komunis yang mengabadikan atheisme dan hak istimewa mayoritas penduduk etnis Han—berkomitmen melenyapkan orang-orang ini. Kaum minoritas Uighur dicap dengan stigma etnis dan agama; Islam dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap atheisme yang didukung negara, dan identitas Uighur sebagai penghalang supremasi etnis Han.
Diskriminasi terjadi karena selain etnis Uighur berbeda ras dari di China juga memiliki bahasa sendiri, altishahr (bahasa Persia; alti artinya enam, shahr artinya kota/dalam bahasa Arab, tsalitsah syahr) sebagai bahasa resmi Tarim Basin (sebelah selatan gunung Tianshan Xinjiang) pada abad 18-19 yang merupakan bahasa Turki. Filosofi bahasa mereka itu kemudian diangkat menjadi nama kota, Kashgaria. Semua bukti ini menunjukkan bahwa mereka adalah entitas bangsa namun penuh dengan rangkaian diskriminasi negara otoritas.

Xianjiang Atau Turkistan Timur?
Xinjiang secara resmi tercatat sebagai daerah otonomi di China, sama seperti Tibet di selatan. Muslim Uighur berasal dari Xinjiang—wilayah otonomi di barat laut China yang berbatasan dengan Mongolia di timur laut—dan segudang negara mayoritas Muslim di sebelah kirinya. Sejarah mencatat, Xinjiang berdiri pada abad ke-2 sebelum masehi. Banyak sekali kerajaan yang dulu menguasai daerah ini, termasuk dinasti Xiongnu, Han, Gokturks, Tang, Turki Uighur, dan kerajaan Mongol.
Muslim Uighur yang tinggal di Xinjiang, awalnya dibawah kekuasaan berbagai dinasti. Mulai dari dinasti Han China, Turki, dan Mongolia. Xinjiang sendiri dalam sejarahnya terbentuk oleh dua wilayah, sejarah, dan ras dengan sebutan wilayah berbeda. Sebelah utara gunung Tianshan disebut Dzungaria (Dzungar Basin), dan selatan maupun timur gunung Tianshan dinamakan Tarim Basin. Sebelum Dinasti Qing China (1759 M.) mencaplok kedua wilayah tersebut menjadi satu entitas politik dan dinamai propinsi Xinjiang tahun 1884. Qing adalah dinasti tradisional terakhir (dinasti ke-17, 1644-1912 M.) berkuasa kurang lebih 268 tahun di negeri tirai bambu.
Xinjiang artinya perbatasan baru dalam bahasa China, dengan ibu kota Urumqi (bahasa Uighur). Urumqi adalah kota terbesar di bagian barat Tiongkok, dan terdaftar dalam Guinness Book of Records sebagai kota terjauh dari laut, sekitar 2.648 km dari garis pantai. Jumlah penduduk Urumqi sekitar 1,6 juta jiwa. Para petani etnis Turki kebanyakan tinggal di wilayah selatan dan timur, yang kemudian dikenal bangsa Uighur, Uighuristan, atau mereka lebih suka dipanggil bangsa Turkistan Timur.
Turkistan Timur adalah negara Islam yang besar wilayah dan populasinya, dibebaskan Bani Umayah oleh komandan Qutaibah bin Muslim Al-Bahiliy. Sejak saat itu menjadi negeri Islam yang dipenuhi ilmu pengetahuan dan keimanan hingga dijajah oleh komunis Cina tahun 1949. Secara geografis, Turkistan terletak di jantung Asia dan dikenal dalam literatur Islam sebagai negara di balik sungai (mâ warâ`an nahri) dinisbatkan pada sungai Sihun dan Jihun. Setelah Islam masuk wilayah ini, beberapa tempat dibangun oleh beberapa negara Islam, diantaranya Al-Qarakhoniyah, As-Sa’idiyah, Al-Ghaznawiyah, dan Al-Khawarizmiyah. Muncul juga para tokoh besar Ahmad Yuknakiy, ilmuwan matematika dan fisika Al-Biruni, penemu ilmu geografi dan peta yaitu penulis buku “Diwan Al-lughah At-Turk” Mahmud Al-Kashghariy, Al-Farabi dan Yusuf Al-Hajib. Dalam Fiqih, Al-Murginani serta dalam ilmu balaghah, Yusuf As-Sakaki dan lainnya.
Dalam sejarah China kuno, daerah itu dikenal sebagai “Xiyu” atau “Kawasan Barat”, nama lazim dalam catatan China selepas Dinasti Han (dinasti kelima, 206-220 SM.) mengambil alih wilayah tersebut. Dinasti/etnis Han ini juga merupakan etnis terbesar dan mayoritas di China saat ini. Untuk Uighur, wilayah ini disebut Sharqi Turkistan (Tanah Timur Turki). Pada abad ke-13, penjelajah Marcopolo menyebut daerah ini disebut bagian Turkistan. Setelah Dinasti Qing merebut daerah ini, daerah itu dinamai Xinjiang, untuk merujuk kepada seluruh daerah bekas kerajaan China yang sebelumnya hilang. Xinjiang, dengan demikian, adalah sebutan daerah pada zaman dahulu; Kawasan Barat, China Turkistan, Turkistan Timur, Uyghuristan, Kashgaria, Uyghuria, Alti Shahr, dan Shahr Yetti.
Alasan perbedaan etnis dan diskriminasi, bangsa Uighur selalu berusaha memisahkan diri dari kekuasaan China komunis sejak tahun 1884 M. Dalam catatan sejarah, perlakuan paling baik bagi penyelesaian multi-etnis di Xinjiang terjadi pada era Dinasti Qing yang membagi wilayah Xinjiang menjadi dua; pemeluk Budha Mongol tinggal di sebelah utara gunung Tianshan dan Turki Muslim di sebelah selatan dengan otonomi daerah masing-masing sesuai agama dan keyakinan mereka di bawah kekuasaan penuh Xinjiang. 
Kini tatanan dunia baru tengah dimulai. Hanya, jika isunya separatisme maka represifitas militer akan semakin memperluas gerak jihad dan spirit separatisme kian meluas dan masif terutama dalam melawan diskriminasi dan ketidakadilan. Bungkamnya para pemimpin dunia dikarenakan kerjasama ekonomi dan perdagangan yang dijalankan China komunis dengan berbagai negara perbatasan di wilayah Asia, Eropa, dan Amerika. Kepedulian barat pun ternyata disinyalir tidak murni kemanusiaan, dikarenakan wilayah Xinjiang memang dikenal banyak tersimpan sumber daya alam yang berlimpah di tanah Muslim tersebut.




Bencana di balik Bencana; Jangan sampai tidak mengambil Pelajaran dari Fenomena Bencana Alam



Manusia, Alam dan Tuhan memiliki korelasi yang kuat. Setidaknya itu yang Al-Quran jelaskan kepada kita. Banyak ayat Al-Quran menjelaskan korelasi timbal balik antara perbuatan manusia dengan balasan alam yang telah Allah ciptakan. Itulah sunnatullahnya, itulah ketetapan Allah-nya.
Ketika manusia mengimani Allah, satu-satunya Rabb yang telah menciptakan alam raya dan dengannya manusia bisa memanfaatkan sumber daya alam tersebut untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Maka keimanan dan ketaqwaan pasti merefleksikan akhlak-akhlak (attitude) yang baik, termasuk berakhlak terhadap lingkungan alam. Keimanan dan Ketaqwaan suatu masyarakat atau penduduk, mendatangkan akibat baik berupa berkah yang bukan datang hanya dari bumi, bahkan Allah turunkan juga berkah dari langit. Sehingga kehidupan mereka penuh berkah, kedamaian dan kenikmatan yang harus disyukuri.
Namun sebaliknya, masyarakat atau penduduk memilih untuk menolak ayat-ayat Allah, lebih mengagungkan akal logika mereka. Memandang ayat Al-Quran sudah tak relevan, sombong dan merendahkan kebenaran Al-Quran ini. Hingga akhirnya perbuatan mereka merefleksikan apa yang mereka yakini. Tak ada aturan Allah yang dipakai, tak ada batasan, melakukan apapun demi syahwat duniawinya termasuk jika mesti merusak tatanan lingkungan alam ini. Hancurnya tatanan sosial akibat degradasi moral dan perbuatan mirip binatang. Hancur pula tatanan ekonomi dan lingkungan hidup. Terjadi berbagai kedzaliman di tengah-tengah masyarakat, dan mereka melupakan kebesaran Allah.
Pola diatas akan terus bergulir, dari masa ke masa. Inilah pelajaran berharga yang mesti kita ambil dan implementasikan dalam kehidupan kita. Sebab kita juga akan terdampak bencana, jika tak melakukan amar maruf nahyi mungkar. Kita juga akan turut terbawa-bawa dalam malapetaka azab manakala kita abai menyampaikan ini kepada mereka yang berbuat dzalim.
Janji Allah adalah kepastian. Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam QS. Al A’raf: 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٩٦)
96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ketika Azab Bencana Mengintai Kapan Saja
Jika ada anggapan bahwa mereka akan tetap aman karena jauh dari adanya potensi bencana di sekitar mereka, maka Al-Quran telah menjelaskan pola azab yang akan mereka tanggung akibat perbuatannya itu. Perhatikanlah apa yang Allah sampaikan dalam lanjutan ayat quran Surah Al-A’raf di ayat 97-99;    
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (٩٧)
97. Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨)
98. atau Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩)
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
Bagi mereka yang mengimani ayat-ayat Al-Quran ini, tentu ini menjadi sebuah pecutan dan pelajaran sangat berharga. Tak akan pernah aman selamanya, ketika Allah sudah menetapkan sebuah kaum, masyarakat atau penduduk akan diberi azab oleh Allah disebabkan kedurhakaan mereka terhadap ayat-ayat Allah ini.
Bila tiba masanya, azab bencana itu ditimpakan, maka sungguh kerugian abadi yang akan terus mereka rasakan, yaitu mati dalam keadaan Allah murka terhadapnya. Mati dalam kondisi maksiat, mati dalam kondisi tak mengimani ayat-ayat Al-Quran.
Dan sungguh menjadi bencana juga bagi kita. Manakala, bencana terjadi di sebuah tempat, lalu kita menggap aman aman saja, tak mengambil pelajaran agar diri kita mentaubati dosa-dosa dan memperbaiki perbuatan. Kita merasa cuek-cuek saja akan hal tersebut, maka inilah bencana yang terjadi pada hati kita. Sangat membahayakan, sekali lagi mestinya kita mengambil pelajaran karena sejatinya kita adalah makhluk yang mampu berpikir.

Ketika Semuanya Dihabisi Azab
Muncul sebuah pertanyaan, bagaimana dengan orang-orang shaleh yang ada di tengah tengah masyarakat yang dzalim dan kufur terhadap ayat-ayat Allah? Orang-orang itu ikut juga merasakan azab yang ditimpakan. Bedanya, bagi mereka yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka kematiannya itu menjadi penggugur dosa dan kebaikan untuknya di akhirat. Nabi Muhammad SAW menjelaskannya dalam sebuah hadits;
عَنْ عَائِشَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ قَالَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan ada sepasukan tentara yang akan menyerang Ka'bah. Ketika mereka sampai di Baida' di suatu bumi, mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir". 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir sedangkan didalamnya ada pasukan perang mereka dan yang bukan dari golongan mereka (yang tidak punya maksud sama)?" Beliau menjawab: "Mereka akan ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir kemudian mereka akan dibangkitkan pada hari qiyamat sesuai dengan niat mereka masing-masing". HR. Bukhori no. 1975
عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ
dari Az Zuhri telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Abdullah bin Umar, ia mendengar Ibnu Umar radliallahu 'anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika Allah menurunkan adzab, maka adzab itu akan mengenai siapa saja yang berada ditengah-tengah mereka, lantas mereka dihisab sesuai amalan mereka." HR. Bukhori no. 6575
عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَقَالَ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِي بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ وَيَمْكُثُ فِيهِ لَا يَخْرُجُ مِنْ الْبَلَدِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ
dari Yahya bin Ya'mar bahwasanya Aisyah radliallahu 'anhuma mengabarkan kepadanya, ia pernah bertanya Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam tentang thaun (penyakit pes, lepra), Nabi bersabda: "Itu adalah siksa yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal disana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala disisi Allah, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-Nya baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid." HR. Bukhori no: 6129
Demikianlah apa yang Allah dan Rasul-Nya jelaskan. Semoga kita terhindar dari hati yang lalai, dimana ada sebuah fenomena bencana kita tak sampai mengambil pelajaran berharga dari kemahabesaran Allah tersebut. Ambil pelajaran, taubati dosa-dosa, perbaiki perbuatan kita dan jaga baik-baik niat kita.