17 Januari 2019

UNTUKMU WAHAI PARA RAKYAT



Oleh: Abu Hikam El-Hakim

Islam diakui oleh siapapun, bukan hanya mengurus aturan akidah dan ibadah, tetapi juga urusan muamalah. Kalau kita membuka kitab-kitab turats, maka kita tidak akan kesulitan mendapatkan bab atau judul dan sub judul yang membahas masalah kepemimpinan.
Kepemimpinan dalam Islam begitu pentingnya karena dengannya dinul Islam akan tegak, dengannya syariat Islam dapat dijalankan oleh penganutnya dengan sangat leluasa jauh dari penistaan bahkan cibiran yang berpangkal dari penolakan dan kebencian terhadap syariat Islam. Dan tanpa disadari oleh mereka, dengan membenci syariat Islam berarti mereka telah membenci Alloh dan Rasul-Nya sebagai pembuat syariat (As Syaari’). 
Akidah Islam yang bertolak dari kalimah “Tauhid” La Ilaha Illa Allah memberikan paradigma yang jelas bagaimana seseorang memberikan loyalitasnya. Bagi orang yang benar-benar memahami dan mendalami hakikat tauhid, dia akan jelas kemana arah wala dan baranya. Wala di sini bukan hanya sekedar loyalitas terhadap Islam, tetapi siap mendakwahkan dan memperjuangkannya. Di antara wujud dari al-wala adalah taat terhadap pemimpin. Saking pentingnya sebuah ketaatan terhadap pemimpin, sampai-sampai Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam menyatakan :
"Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah. Barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia telah durhaka kepada Allah. Barang siapa yang taat kepada pemimpin, berarti ia telah taat kepadaku. Barang siapa yang durhaka kepada pemimpin, berarti ia telah durhaka kepadaku." {Muslim 6/13}
Sedangkan bara sikap melepaskan diri dari semua unsur pembelaan terhadap segala kekufuran, dan berusaha menolak kedzaliman dan kebatilan tegak di muka bumi ini.
Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam mengancam bagi orang yang memilih pemimpin karena urusan dunia. Walanya hanya karena ada yang dikejar, bisa berupa jabatan, kedudukan, atau dengan sesuatu yang rendah, semisal hanya dibawa jalan-jalan ke luar negeri. Orang tersebut kelak di akhirat Alloh tidak akan mengajak mereka berbicara, tidak mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih (HR. Muslim 1/72).
Ada suatu masa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash RA, dia berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menghapuskan ilmu agama dengan cara mencabutnya dari hati umat manusia. Tetapi Allah akan menghapuskan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama, hingga tidak ada seorang ulama pun yang akan tersisa. Kemudian mereka akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Apabila mereka, para pemimpin bodoh itu dimintai fatwa, maka mereka akan berfatwa tanpa berlandaskan ilmu hingga mereka tersesat dan menyesatkan.'' {Muslim 8/60}
Para ulama yang benar-benar ulama pewaris para Nabi telah tiada. Telah tiada para ulama mujahid dan mujtahid yang berani mengingatkan para penguasa yang menyimpang. Mereka tidak tergiur dengan urusan dunia, jabatan atau urusan apapun yang membuat lidah mereka jadi kelu dalam menyuarakan yang hak. Tinggallah para ulama jahat, ulama yang telah mati hati nuraninya dalam menyuarakan yang hak dan tinggal pula pemimpin yang bodoh yaitu pemimpin yang tidak tahu mana yang hak dan mana yang bathil. Inilah pemimpin yang bodoh terhadap syariat Islam sehingga mereka menjadi tersesat dan menyesatkan para rakyatnya. Dan yang lebih parah lagi, rakyatnya mau dipimpin oleh pemimpin seperti itu. Bagaimana sikap kita sebagai rakyat dalam menghadapi situasi dan kondisi seperti itu?
Batasan Wala dan Bara
Al-Wala dan Al-Bara terhadap pemimpin tidaklah mutlak, masing-masing mempunyai batas hak dan kewajibannya. Di bawah ini kami sampaikan beberapa keterangan dari Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam mengenai batasan Al-Wala dan Al-Bara sebagai berikut :
1.      Tetap Patuh dan Taat Kecuali Jika Melihat Kekufuran yang Nyata
Dari Junadah bin Abu Umayyah, dia berkata, "Pada suatu hari kami pernah menjenguk Ubadah bin Shamit yang sedang sakit. Lalu kami bertanya kepadanya, "Hai Ubadah, ceritakanlah kepada kami suatu hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah SAW. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat dan kebajikan kepadamu." Lalu Ubadah bin Shamit mulai bercerita, "Rasulullah memanggil kami. Kemudian kami pun membaiat beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami ialah supaya kami bersumpah untuk selalu tunduk dan taat dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan kesulitan ataupun kemudahan, bahkan dalam keadaan yang harus mengalahkan kepentingan kami sekalipun. Selain itu, ditekankan juga kepada kami agar tidak mempersoalkan suatu perkara yang telah berada di tangan ahlinya. Selanjutnya beliau bersabda, "Kecuali jika kamu melihat kekufuran yang jelas-jelas berada di sampingmu dan mengabaikan kepentingan Allah" {Muslim 6/17}

2.      Taat kepada para Pemimpin, Meskipun Mereka Tidak Memberikan Hak
Dari Wa'il Al Hadhrami, dia berkata, "Salama bin Yazid Al Ju'fi pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapat engkau jika ada para pemimpin di tengah-tengah kami yang selalu menuntut haknya kepada kami, tetapi mereka sendiri enggan untuk memberikan hak kami yang ada pada mereka. Apakah yang akan engkau perintahkan kepada kami saat itu?" Ternyata, setelah mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah malah berpaling darinya. Bahkan ketika pertanyaan itu diulang sampai tiga kali, beliau masih tetap saja terdiam dan tidak memberikan komentarnya. Setelah didesak oleh Asy'ats bin Qais, akhirnya beliau menjawab pertanyaan tersebut dan bersabda, "Kalian harus tetap patuh dan taat. Karena, bagaimanapun, mereka akan menanggung perbuatan mereka sendiri dan kalian juga akan menanggung perbuatan kalian sendiri." Dalam satu riwayat Wa'il berkata, "Al Asy'ats mendesaknya, maka Rasulullah SAW bersabda, 'Taatilah dan patuhilah, sesungguhnya atas mereka apa yang telah mereka perbuat dan atas kamu apa yang telah kamu perbuat.' {Muslim 6/19}
3.      Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan kepada Allah, Ketaatan Itu Hanya Ada dalam Perbuatan yang Ma'ruf (baik)
Dari Ali RA, bahwasanya Rasulullah SAW pernah mengutus satu pasukan dan menunjuk salah seorang sebagai pemimpin mereka. Lalu, pada suatu ketika, komandan tersebut menyalakan api seraya berkata kepada mereka, para anak buahnya, "Masuklah kalian ke dalam api itu!" Ternyata, ada beberapa orang anak buah yang mematuhi perintahnya dan bermaksud ingin masuk ke dalam api tersebut. Namun, ada pula sebagian dari mereka yang menolak dan berkata kepada sang komandan, "Kami menolak perintah itu dan kami akan lari menghindar dari api tersebut!" Ketika peristiwa itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW, ternyata beliau berkata kepada mereka yang mematuhi perintah komandan tersebut, "Kalau saja kalian tetap mematuhi perintah komandan kalian dan memasuki api tersebut, maka sampai hari kiamat pun kalian akan tetap berada di sana." Sedangkan kepada mereka yang menolak dan membangkang perintah komandan tersebut, Rasulullah berkata dengan kata-kata yang baik, "Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah pada yang ma'ruf (hal-hal yang baik)' {Muslim 6/15}
4.      Menolak Perintah para Pemimpin dan Tidak Memerangi Mereka Selama Mereka Melaksanakan Shalat
Dari Ummu Salamah RA, istri Rasulullah SAW, bahwasanya Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya ada beberapa pemimpin yang akan ditugaskan untuk memimpinmu. Tetapi kamu tidak menyukai mereka dan bahkan mengingkari perintahnya. Barang siapa yang tidak menyukainya, maka ia akan terbebas dari dosa. Barang siapa yang mengingkarinya, maka ia akan selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya" Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bolehkah kami memerangi pemimpin-pemimpin seperti itu?" Rasulullah SAW menjawab, "Tidak boleh, selama mereka masih tetap melaksanakan shalat" (Maksudnya, barang siapa yang membenci dengan hatinya, maka ia boleh mengingkari dengan hatinya pula). {Muslim 6/23}
5.      Tetap untuk Bersabar dalam Menghadapi Pemimpin yang Egois
Dari Usaid bin Hudhair, bahwasanya ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menugasi saya sebagaimana engkau telah menugasi si fulan?" Rasulullah pun menjawab, "Sepeninggalku kelak, kamu akan mendapatkan para pemimpin yang egois. Oleh karena itu, bersabarlah hingga kita bertemu di telaga surga nanti!" {Muslim 6/19}





Tidak ada komentar:

Posting Komentar