01 Juni 2022

BEKERJA ADALAH IBADAH

                                                         

 عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ –ر.ع. – أَنَّ النَّبِيَّ –ص– سُئِلَ: أَيُّ اْلكَسَبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: "عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ" رواه البزّار و صححه الحاكم

Dari Rifa‘ah ibn Rafi‘ r.a. bahwasanya Nabi Saw. ditanya, “Pekerjaan (mencari rezeki) apa yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrûr (baik dan halal).” HR Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim.

 

Dalam ajaran Islam, tidak ditemukan satupun dalil yang mengharuskan umatnya hidup miskin dan tidak perlu mencari rezeki dengan alasan apapun. Bila ada anggapan demikian dengan alasan bahwa Rasulullah Saw. dan para sahabatnya tidak meninggalkan apa-apa untuk keluarganya yang berarti selama hidup mereka hidup miskin adalah salah besar. Ada banyak alasan yang membantah kesimpulan tersebut. Pertama, hadis di atas. Jelas dan sangat gamblang Rasulullah mengisyaratkan bahwa setiap Muslim tidak diperkenankan membiarkan tangannya tidak bekerja. Tangan seorang Muslim yang diguakan untuk bekerja mencari rezeki adalah tangan yang paling baik; disusul kemudian oleh mereka yang berdagang sesuatu yang halal dan dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mereka oleh Rasulullah Saw. dipuji sebagai orang-orang yang baik.

Kedua, banyak sakali ibadah dalam Islam yang harus dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah biaya tertentu. Pada bulan Dzulhijjah ini, misalnya, umat Islam diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji dan menyembelih hewan qurban. Sudah sangat maklum di antara kita bahwa beribadah haji, apalagi dari negeri-negeri di luar Mekah termasuk Indonesia, berangkat haji memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada masyarakat Indonesia, siapa yang bisa menunaikan haji dengan biaya sendiri pasti orang itu tergolong berpunya (the have). Menyembelih hewan qurban hanya bisa kita kerjakan kalau kita memiliki sejumlah uang untuk membeli hewannya atau kita sudah memiliki hewan itu. Belum lagi syari‘at zakat, infaq, sedekah, menuntut ilmu, dan sebagainya. Semuanya mengisyaratkan bahwa umat Islam harus memiliki sejumlah harta tertentu agar bisa mengerjakan banyak jenis ibadah.

Ketiga, sejarah mencatat bahwa Rasulullah dan para sahabat bukanlah para pengangguran yang hidup miskin. Sekalipun kelihatannya tidak punya apa-apa, bahkan saat meninggal tidak meninggalkan apapun, sebenarnya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka tidak punya apa-apa bukan karena miskin dan pengangguran, melainkan harta mereka digunakan untuk membiayai segala ibadah yang diperintahkan Allah Swt. pada mereka.

Kita perhatikan bagaimana keseharian Rasulullah Saw. bagi Rasulullah, menerima harta, zakat, infaq, dan sedekah adalah haram. Rasulullah hanya diperkenankan menerima hadiah. Itupun dalam jumlah terbatas. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu pada beliau yang tidak diberi. Itu artinya Rasulullah selalu memiliki sesuatu (harta) untuk diberikan pada orang lain? Dari mana Rasulullah memilikinya kalau dia tidak bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencari nafkah. Istri Rasululah tercatat paling tidak ada sembilan orang. Allah mewajibkan pada setiap suami untuk membelanjai istrinya. Dari mana beliau bisa menghidupkan begitu banyak istri dan anak-anak mereka bila belaiu tidak memiliki sejumlah harta. Melihat ke sana jelas Rasulullah bukan seorang pengangguran yang miskin.

Berdasarkan bukti-bukti di atas, jelas bahwa umat Islam diharuskan berpikir dan bertindak kreatif untuk menghasilkan sumber-sumber rezeki bagi kehidupannya. Umat Islam tidak diperbolehkan hanya tinggal diam. Sekalipun dalam perkiraan statistik ekonomi kesempatan kerja sangat sempit, perkiraan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bekerja atau membiarkan diri menganggur. Jadi, secara normatif, sama sekali tidak dibenarkan ada satu pun orang yang mengaku “Muslim” sampai menganggur tanpa udzur. Seorang Muslim harus mengaktifkan kedua tangannya melakukan apa saja.

Selain itu, banyak sekali isyarat-isyarat dalam Al-Quran dan hadis yang mengharuskan setiap Mukmin bekerja, tidak berpangku tangan menganggur dan malas. Perhatikan ayat-ayat dan hadis berikut.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami jadikan siang hari sebagai (waktu) mencari penghidupan. (QS Al-Naba’ [78]: 11).

 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي اْلأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَاتَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A‘râf [7]:10)

 

 فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10).

ِلأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبَلَهُ فَيَخْتَطِبُ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنَ يَأْتِيَ رَجُلاً أَعْطَاهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلُهُ أَعْطَاهُ  أَوْ مَنَعَهُ

Lebih baik bagi salah seorang di antara kalian untuk mengambil tali miliknya lalu mencari kayu bakar (dipundak) di atas punggungnya, daripada mendatangi seseorang yang diberi rezeki oleh Allah, lalu ia meminta-minta padanya, diberi ataupun tidak. (Muttafaq Alaih)

Berdasarkan dalil-dalil di atas lebih jelas lagi tentang bagaimana sikap Islam terhadap para pengangguran yang hanya hidup meminta-minta, bepangku tangan tanpa bekerja. Namun, harus digarisbawahi bahwa dalam Islam “bekerja” bukan hanya “menjadi pegawai” di suatu perusahaan atau istitusi. Dalam Islam konsep bekeja adalah enterpreneurship (kewirausahaan). Kewirausahaan bukan hanya sekedar berbisnis dalam arti berjualan (marketing), namun melakukan kretivitas apa saja dari mulai hulu produksi sampai penjaualan yang dapat menjadi wasilah datangnya rezeki dari Allah Swt.

Dalam hal ini, Islam mendorong umatnya untuk secara kreatif menggali sumberdaya yang ada dalam diri orang tersebut dan dari lingkungan alam yang ada di sekitaranya hingga dapat diolah menjadi sumber-sumber ekonomi. Urusan bentuk usaha dan besar-kecilnya volume usaha yang dilakukan bukan ketentuan baku yang ditentukan secara rigid dalam syari‘at. Itu berarti bahwa seberapa pun hasil yang kita dapat, kalau itu hasil jerih payah sendiri tetap leboh baik daripada hasil meinta-minta. Bila disertai dengan sikap kita yang selalu bersyukur atas hasil yang kita dapat, maka pasti Allah akan melipatgandakan berkahnya. Artinya, bila disyukuri besar akan bermanfaat, kecil tetap akan dapat mencukupi segala kebutuhan kita.

Dengan konsep seperti ini, tidak ada ceritanya bahwa seorang Muslim memilih untuk diam di rumah karena lamaran pekerjaannya belum ada yang diterima atau belum menjadi PNS. Belum diterima bekerja bukan alasan untuk mendiamkan kedua tangan tanpa kerja. Masih banyak sumber daya di dunia ini yang bisa digali. Rezeki Allah pintunya disiapkan berjuta-juta tanpa batas. Jadi, kalau kita terpaku pada satu pintu saja, sama saja kita tidak percaya bahwa Allah Mahakaya. Oleh sebab itu, Islam sangat tidak menyukai orang yang diam berpangku tangan dan peminta-minta. Kalau kita sungguh-sungguh mau melepaskan tangan untuk bekerja, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Insya Allah Allah akan mengalirkan rezeki-Nya dari jalan yang seringkali kita tidak tahu. Wallâhu A'lamu bi al-shawwâb.    

____________ Risalah Jum'ah edisi 147

JANGAN BIARKAN SETAN TERTAWA

 Oleh : Deni Solehudin

 

S

etan adalah Iblis yang putus asa dari rahmat Allah. Karena ia telah terusir dari surga dan dicopot dari jabatannya sebagai penjaga surga. Dengan kehasudannya ia tidak suka melihat orang lain berada dalam kesenangan dan keni’matan. Oleh sebab itu ia bersumpah akan menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Dalam QS. Al A’raf ayat: 16-17 diterangkan : 

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis berkata : "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)".

Ketika ia diusir dari surga dan dinyatakan sebagai penghuni utama neraka jahannam, maka tidak ada keperluan lain baginya terhadap kita, manusia kecuali bagaimana ia menjadikan kita sebagai teman setia yang akan menemaninya kelak di neraka. Dari situ, tepatlah Allah SWT. menyatakan bahwa setan itu adalah musuh yang nyata, musuh yang sebenar-benarnya.

Menurut Ust. Aceng Zakaria (Etika Muslim: 178), kalau kita mengukur kekuatan setan, baik dari segi usia dan pengalaman, sangat jauh berbeda dengan manusia. Setan telah berusia jutaan tahun semenjak ia ada sampai sekarang belum ada yang meninggal. Setan memiliki segudang pengalaman untuk menjatuhkan manusia sekaliber apa pun. Selain itu, Setan mempunyai kelebihan dapat melihat diri kita sementara kita tidak dapat melihat sosok Setan.

Di sisi lain, musuh yang satu ini mempunyai millitansi yang sangat tinggi. Ia akan menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan lawannya. Serangan yang bertubi-tubi ia lancarkan; tidak mampu dari depan maka dari belakang, tidak mampu dari belakang maka dari samping kanan, tidak mampu dari samping kanan maka dari samping kiri. Menghadapi musuh semacam itu, akan mampukah kita memenangkan pertempuran dengannya??? Atau justru malah kita sendiri yang kalah dan menjadi bahan ejekan dan tertawaan setan???!!!.

 

Apa yang membuat Setan gembira? Secara garis besar tentunya adalah perbuatan-perbuatan yang menjauhkan kita dari surga dan sebaliknya mendekatkan kita ke neraka. Setan sangat senang apabila manusia berprilaku seperti dia, karena hal itu akan menambah teman abadinya kelak di neraka. Menganggap sepele terhadap suatu amalan misalnya makan, minum, merokok dengan tangan kiri adalah sudah cukup membuat Setan gembira. Rasulullah SAW. bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنْ رَضِىَ أَنْ يُطَاعَ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تُحَاقِرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوْا إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُم مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ.

 “Sesungguhnya Setan itu telah putus asa untuk disembah (langsung) di bumi kamu ini (Mekkah). Tetapi ia sudah cukup senang untuk ditaati selain hal itu, yaitu mengenai amal-amal yang anggap kamu sepele, maka hati-hatilah!”. Rasul berkata (lagi) : “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua pusaka, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya. (Al Hakim, dalam Al Hidayah :3).

 

Setan tertawa lebar ketika manusia menuruti hawa nafsu dan melupakan permohonan ampun kepada Allah SWT. (istighfar) atas kesalahan-kesalahanannya. Nampaknya hal inilah hasil akhir yang dibidik oleh Setan terhadap manusia. Oleh sebab itu, Rasululah SAW. telah mewanti-wanti kepada kita dengan sabdanya : 

عَلَيْكُمْ بِلاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَالْاِسْتِغْفَارِ فَأَكْثِرُوْا مِنْهُمَا ، فَإِنَّ إِبْلِيْسَ قَالَ : أَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوْبِ وَأَهْلَكُوْنِى بِلاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَالْاِسْتِغْفَارِ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ فَلاَ يَسْتَغْفِرُوْنَهُ.

"Jagalah oleh kamu kalimat  “LA ILAAHA ILLALOOHU” dan Istighfar. Perbanyaklah (mengucapkan dan mengamalkan) keduanya. Karena Iblis berkata : Aku celakai manusia dengan dosa tetapi mereka mencelakaiku dengan “LA ILAAHA ILLALOOHU” dan Istighfar. Ketika Aku melihat yang demikian, ku celakai mereka dengan mengikuti hawa nafsu dan mereka meyakini bahwa mereka mendapat petunjuk. (HR. Abu Ya'la; dalam Jami'us Shogir: 65, Al Hidayah: 7).

 

Orang-orang yang hakikatnya berada dalam kesesatan tetapi mereka merasa bahkan yakin bahwa mereka itu berada dalam kebenaran inilah yang menjadi target utama setan. Mengapa? Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits di atas, bahwa dengan Maha Pengasih dan Penyayangnya, Allah SWT. Akan senantiasa mengampuni manusia sebanyak apapun dosa mereka asalkan mereka mau bertobat dan menyadari dan menyesali bahwa perbuatannya adalah salah, bahkan sesat dan menyesatkan. Oleh sebab itu, berusahalah setan agar manusia mengikuti hawa nafsu dan merasa dalam petunjuk, sehingga karena merasa benar ia tidak akan bertobat dari perbuatannya. Upaya setan itu nampaknya menuai hasil, sebagaimana diinformasikan oleh Allah SWT. Dalam QS. Al-A’raf ayat 30 :

فَرِيقًا هَدَى وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

 

Buatlah Setan menangis

Dalam suatu  riwayat diceritakan Ibrahim bin Muhammad bin Muflih menyebutkan di dalam tafsir Baqy bin Makhlad :”Sesungguhnya Iblis berteriak histeris (Menangis keras) empat kali yaitu ketika dilaknat oleh Allah, ketika diusir dari surga, ketika Rasulullah dilahirkan dan ketika turun Surat Al Fatihah. Ibnu Abbas menyebutkan, ketika futuh Mekkah, Iblis berteriak histeris sehingga bala tentaranya berkumpul.( Fathul Majid : 400).

Di muka telah diterangkan bahwa Setan adalah makhluk yang militan dalam menaklukkan musuhnya. Bahkan disebutkan ia lebih berpengalaman dibanding dengan kita, manusia. Tetapi Setan juga makhluk, banyak juga kelemahannya. Sebagaimana hadits di atas ia berteriak histeris. Dan kita tidak perlu merasa belas kasihan kepadanya dan jangan memberi peluang untuk balik menertawakan kita. Bahkan secara eksplisit Rasulullah SAW. telah memberikan petunjuk bagaimana supaya ia menangis dan tidak mendapat peluang untuk menggelincirkan kita, di antaranya dengan :

1. Memperbanyak sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم :  إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُوْلُ : يَاوَيْلَهُ ! اُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَاُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. (رواه مسلم)

 Dari Abu Hurairah RA. ia berkata, Rasulullah SAW. telah bersabda : Apabila anak Adam membaca ayat sajdah kemudian ia sujud maka Setan menjauh sambil menangis, ia berkata : Celaka Aku, Anak Adam diperintah untuk sujud kemudian ia sujud maka baginya surga, sedangkan aku diperintah untuk sujud tetapi menolak maka bagiku neraka. (HR. Muslim).

 2.  Mengendalikan Diri Sendiri

 Rasulullah SAW. Bersabda :

 أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ وَعَصَمَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ : مَنْ مَلَكَ نَفْسَهُ حِيْنَ يَرْغَبُ وَحِيْنَ يَرْهَبُ وَحِيْنَ يَشْتَهِى وَحِيْنَ يَغْضَبُ. (الحاكم)

Empat hal, apabila keempat hal itu ada pada seseorang, Allah mengharamkan baginya neraka dan menjaganya dari gangguan Setan, yaitu : orang yang menguasai/ mengendalikan dirinya ketika senang, ketika susah, ketika sangat menginginkan sesuatu dan ketika ia marah. (Hakim, dalam Mukharul Ahadits Nabawiyah : 19).

3. Shalat dan Saling Mencintai Karena Allah

Rasulullah SAW. Bersabda :

اَلصَّلَاةُ تُسَوِّدُ وَجْهَ الشَّيْطَانِ وَالصَّدَقَةُ تَكْسِرُ ظَهْرَهُ وَالتَّحَابُّ فِى اللهِ وَالتَّوَدُّدُ فِىالْعَمَلِ يَقْطَعُ دَابِرَهُ فَاِذَا فَعَلْتُمْ ذَلِكَ تَبَاعَدَ مِنْكُمْ كَمَطْلَعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا

Sholat itu akan menghitamkan (membuat murung) wajah Setan, Shodaqoh itu akan mematahkan tulang punggungnya, Saling mencintai karena Allah dan membanyakkan amal kebaikan itu memusnahkannya. Apabila kamu berbuat yang demikian itu maka ia (Setan) akan menjauhimu sejauh tempat terbit matahari dengan tempat terbenamnya. (Al Jami’ II : 51).

________ Risalah Jum'ah edisi 145

KEMENANGAN DAN KEKALAHAN; 'IBRAH PENGALAMAN BADAR-UHUD

Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA.

 

Sebagai kitab suci, Al-Qur'anul Kariem merekam dengan jelas, bagaimana Allah 'azza wa jalla mengisyaratkan penggalan peristiwa peperangan yang terjadi di lembah Badar dan bukit Uhud. Semua ini menjadi renungan perjalanan dari peristiwa panjang sejarah (sierah) yang mesti menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mampu menggunakan akal sehatnya (nazhar). Kemenangan dengan segala indikatornya dan kekalahan dengan segala indikatornya, itulah yang patut jadi renungan bagaimana Allah tunjukkan ke-Maha besaranNya. Adapun menang atau pun kalah, keduanya merupakan perkara lazim dalam sebuah pertempuran. (Lihat QS. Alu 'Imran/ 3: 137)

Diawali dengan menjelaskan, bahwa berkaca pada sejarah itu adalah penting; di mana sejarah dapat berfungsi sebagai pemberi keterangan rekam jejak perjalanan (bayaan), petunjuk yang mencerahkan (hudan) dan nasihat yang mengingatkan (mau'izhah) bagi mereka orang-orang yang bertakwa. (Lihat QS. Alu 'Imran/ 3: 138)

Sungguh peperangan Badar, sebuah pertempuran yang sangat membekas dalam sejarah; kekompakkan para shahabat dan kepatuhan serta ketaatan mereka kepada Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam begitu kentalnya dan kaum Muslimin pun mengalami kemenangan. Sekalipun jumlah mereka tidak seimbang; 313 orang pasukan Muslimin harus berhadapan dengan kekuatan 1000 orang pasukan musuh, namun Allah menangkan mereka dengan gemilang.

"Dan sungguh Allah menolong kalian di Badar padahal kalian lemah, maka bertakwalah kepada kepada Allah mudah-mudahan kalian termasuk orang yang bersyukur."  (QS. Alu 'Imran/ 3: 123)

Berbeda dengan peperangan Uhud, secara kasat mata kaum Muslimin harus menderita kekalahan. Bahkan paman Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam yang diandalkan dan kebanggaan kaum Muslimin pun gugur bersama shahabat Mush'ab bin 'Umair radhiyallaahu 'anhumaa (sang pemegang bendera/  liwa'). Namun demikian, kekalahan ini pada akhirnya menjadi kemenangan ketika kaum Muslimin secepatnya mawas diri dan mengambil pelajaran dari kekalahannya.

Kekalahan kaum Muslimin di bukit Uhud, bukan tanpa alasan, kekuatan penuh kaum musyrikin Quraisy sejumlah 3000 orang pasukan dikerahkan; didukung 700 pasukan baju besi, diikuti pula para wanita, diiringi 3000 ekor unta dan 200 ekor kuda. Sedangkan kaum Muslimin, terdiri dari 1000 pasukan yang dalam perjalanannya berkurang menjadi 700 orang, dikarenakan 300 orang pasukan berbelot dibawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafiq).

Tak kalah pentingnya, krisis kepatuhan kepada pemimpin pun terjadi, yang hakikatnya tidak mematuhi Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam ketika 50 orang pasukan elite regu pemanah ditempatkan di bukit 'ainain (dikenal dengan jabal rumaat) dibawah komandan 'Abdullah bin Jubair al-Anshary radhiyallaahu 'anh. Dipicu dengan berita hoax sebelumnya bahwa Rasulullaah gugur (padahal Mush'ab yang wajahnya mirip dengan sang Rasul), juga sikap tergesa-gesa (isti'jaal) kaum Muslimin waktu itu yang mengklaim bahwa mereka "menang perang" dan perang telah selesai. Itulah yang membuat euforia para pemanah tergiur dengan rampasan perang (ghanimah), yang akhirnya pasukan Khalid bin Walid (yang waktu itu belum masuk Islam) menggempurnya dari balik bukit secara sporadis dan mematikan lawannya. Para shahabat pun banyak berguguran menjadi syahid di lembah ini. Inilah yang dilukiskan Al-Qur'an Surat Alu 'Imran ayat 140:

إن يمسسكم قرح فقد مس القوم قرح مثله، وتلك الايام نداولها بين الناس وليعلم الله الذين امنوا ويتخد منكم شهداء، والله لايحب الظالمين

 "Jika luka (di perang Uhud) menimpa kalian, sungguh luka sebanding (di perang Badar) menimpa kaum musyrikin. Dan itulah hari-hari Kami gulirkan di antara manusia agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan menjadikan mereka sebagai syuhada. Dan Allah itu tidak menyukai orang-orang zhalim."

Namun demikian, sungguh Allah 'azza wa jalla memiliki kehendak yang manusia tidak tahu di balik semua rahasiaNya. Khalid bin Walid sang komandan Quraisy itu mendapatkan anugerah hidayah, dirinya masuk Islam setelah "memikirkan" kegigihan para shahabat dalam mempertahankan agamanya sekalipun "kalah perang". Para shahabat begitu yakin apa yang diperjuangkan mereka itu benar dan akan berbuah manis berupa syahaadah dan jannah-Nya. Lalu, bagaimana dengan Khalid? Di atas landasan apa, akan dapat apa dan untuk siapa sebenarnya dirinya berjuang "mati-matian". Sejak itu pula, jawara pedang Quraisy ini tersentak dan berjanji kepada Allah akan senantiasa turut sera berjihad fie sabielillaah seperti halnya para shahabat Nabi. Yakni bercita-cita mati syahid di jalanNya.

Benar apa yang difirmankan Allah 'azza wa jalla dalam ayat lainnya (QS. Alu 'Imran/ 3: 139):

ولا تهنوا ولا تخزنوا وأنتم الاعلون إن كنتم مؤمنين

"Janganlah kalian merasa hina dan janganlah kalian bersedih hati, dan kalian adalah manusia-manusia unggul jika kalian beriman."

Semoga kita dapat mengambil mutiara berharga dan pandai mengambil pelajaran dari gugusan ayat-ayat ini. Allaahumma a'izzal Islaama wal Muslimiena ... Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin

______ Risalah Jum'ah Edisi 144

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi 'Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da'wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.