17 Januari 2019

Untukmu Wahai Para Pemimpin



Oleh: Abu Hikam El-Hakim

Kepemimpinan baik dari level RT 1 sampai RI 1 maupun dalam sebuah organisasi dan instansi, di manapun itu jabatannya merupakan sebuah amanah yang tidak boleh dikhianati. Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa jabatan itu kelak akan menjadi penyesalan dan kehinaan kalau tidak dilaksanakan semestinya. Ciri-ciri pemimpin yang baik dan yang buruk cukuplah satu pernyataan dari Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam sebagai berikut :
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ
"Para pemimpinmu yang baik adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintaimu; mereka mendoakan kamu dan kamu pun mendoakan mereka. Sedangkan para pemimpinmu yang jahat adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun membencimu; kamu mengutuk mereka dan merekapun mengutukmu." {Muslim 6/24}
Atas dasar apa kita mencintai seorang pemimpin? Apakah karena pemberiannya, atau karena agamanya? Dan siapakah pemimpin yang mencintai rakyatnya? Apakah yang menaikkan pajak, tarif listrik, BBM atau yang suka blusukan sebagai pencintraan belaka?
Kita benar-benar mendambakan pemimpin yang betul-betul mencintai kita, bukan sekedar kamuflase. Khalifah Umar bin Khotob betul-betul blusukan dan dari blusukan tersebut menghasilkan keputusan yang menyenangkan rakyatnya. Pernah suatu hari Umar jalan-jalan ke suatu kampung, tiba-tiba terdengar syair ratapan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya ke medan perang. Istri tersebut merasa terlalu lama ditinggal suaminya yaitu sekitar enam bulan. Maka Umar meneliti berapa lama kekuatan istri maksimalnya ditinggalkan suami. Kemudian dihasilkan jawaban sekitar tiga bulan. Maka dari situ khalifah memutuskan dan mengumumkan bahwa pergantian tentara ke medan perang dirubah menjadi tiga bulan sekali.  Itulah sebagai contoh semangat blusukan yang dilaksanakan oleh Umar, bukan untuk pencitraan diri tetapi benar-benar untuk merasakan bagaimana problematika yang dihadapi rakyatnya kemudian diambil jalan keluarnya.
Kita pun mendambakan pemimpin yang siang malam berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya  Ada suatu riwayat bahwa malapetaka terhindar dari suatu kaum karena doa pemimpinnya. Sebaliknya kita tidak berharap dapat pemimpin dan rakyat saling membenci, saling menyebarkan hoax.  
Keutamaan dan Ancaman Bagi Para Pemimpin
1.   Orang yang Diberi Jabatan dan Ia Mampu Berlaku Adil
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, 'Sesungguhnya para pemimpin yang adil, di sisi Allah, akan berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka akan berada di sebelah kanan Dzat Yang Maha Pemurah, dan kedua tangannya juga berada disebelah kanan-Nya. Mereka itulah orang-orang yang berlaku adil terhadap ketentuan hukum, rakyat, dan terhadap kekuasaan yang dilimpahkan kepada mereka.''" {Muslim 6/7}

2.  Apabila Seorang Pemimpin Memerintahkan untuk Bertakwa kepada Allah dan Berlaku Adil, maka Ia akan Memperoleh Ganjaran Pahala
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau telah bersabda, "Sesungguhnya seorang pemimpin itu bagaikan perisai. Ia akan dimusuhi dari belakang dan ditakuti (dari depan). Apabila ia memerintahkan kaumnya untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia dan berlaku adil, maka dari itu ia akan memperoleh pahala. Tetapi, apabila ia memerintahkan pada perbuatan yang lainnya, maka ia pasti akan menerima balasan sesuai perintahnya tersebut." {Muslim 6/17}
3.     Orang yang Diberi Jabatan, kemudian Ia Membebankan (Menyusahkan) atau Bersikap Lembut
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ مِمَّنْ أَنْتَ فَقُلْتُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ فَقَالَتْ كَيْفَ كَانَ صَاحِبُكُمْ لَكُمْ فِي غَزَاتِكُمْ هَذِهِ فَقَالَ مَا نَقَمْنَا مِنْهُ شَيْئًا إِنْ كَانَ لَيَمُوتُ لِلرَّجُلِ مِنَّا الْبَعِيرُ فَيُعْطِيهِ الْبَعِيرَ وَالْعَبْدُ فَيُعْطِيهِ الْعَبْدَ وَيَحْتَاجُ إِلَى النَّفَقَةِ فَيُعْطِيهِ النَّفَقَةَ فَقَالَتْ أَمَا إِنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي الَّذِي فَعَلَ فِي مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَخِي أَنْ أُخْبِرَكَ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ
Dari Abdurrahman bin Syumasah, dia berkata, "Saya pernah menemui Aisyah untuk menanyakan sesuatu kepadanya." Kemudian ia -Aisyah binti Abu Bakar- bertanya kepada saya, "Siapakah kamu?" Saya menjawab, "Saya adalah seorang lelaki dari negeri Mesir." Lalu ia bertanya lagi kepada saya, "Bagaimanakah sikap pemimpin negerimu di sana?" Saya menjawab, "Menurut hemat saya, kami semua menyukainya. Ia sangat baik hati dan dermawan. Apabila ada seseorang di antara kami yang untanya mati, maka ia pun akan menggantinya dengan unta yang lain. Begitu pula halnya apabila ada seseorang di antara kami yang budaknya meninggal dunia, maka ia pun akan menggantinya dengan budak yang lain. Bahkan, ia tidak segan-segan untuk memberikan bantuan kepada rakyat yang membutuhkannya," Aisyah berkata, "Sungguh saya tidak peduli terhadap apa yang telah dilakukan kepada Muhammad bin Abu Bakar, saudaraku sendiri. Tetapi, di sini, saya hanya hendak memberitahukan sesuatu yang pernah saya dengar langsung dari Rasulullah kepadamu. Pada suatu ketika, beliau pernah berdoa di dalam rumah saya ini, "Ya Allah, barang siapa yang menjadi pemimpin umatku dalam suatu hal, lalu ia menyusahkan mereka, maka balaslah perbuatannya itu dengan kesusahan. Dan barang siapa yang menjadi pemimpin umatku dalam suatu hal, lalu ia bersikap lembut terhadap mereka, maka berikanlah kelembutan (kasih sayang) kepadanya" {Muslim 6/7}
4.     Apa yang Disembunyikan para Pemimpin adalah Penghianatan
عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مِنْ الْأَنْصَارِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ قَالَ وَمَا لَكَ قَالَ سَمِعْتُكَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا قَالَ وَأَنَا أَقُولُهُ الْآنَ مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْهُ انْتَهَى
Dari Adi bin 'Amirah Al Kindi, dia berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian yang aku tugaskan untuk melakukan suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan sebatang jarum atau yang lebih kecil darinya, maka perbuatannya itu akan termasuk hasil korupsi yang akan dipertanggung jawabkannya pada hari kiamat kelak.' Tiba-tiba seorang lelaki berkulit hitam yang berasal dari kaum Anshar berdiri mendekat kepada Rasulullah SAW seraya berkata, "Ya Rasulullah, kalau begitu saya akan tarik kembali tugas yang pernah engkau berikan kepada saya." Rasulullah terkejut dan balik bertanya, "Ada apa denganmu?" Sahabat Anshar itu menjawab, "Saya telah mendengar bahwasanya engkau bersabda begini dan begitu." Rasulullah SAW paham dan akhirnya berkata, "Baiklah. Kalau begitu akan saya nyatakan sekarang bahwa barang siapa di antara kalian yang aku tugaskan untuk melaksanakan suatu pekerjaan, maka hendaklah ia melaksanakan dengan sejujur-jujurnya. Apa yang memang diberikan untuknya, maka ia boleh mengambilnya. Tetapi sebaliknya, apa yang memang dilarang untuknya, maka ia harus dapat menahan diri." {Muslim 6/12}
Demikianlah jabatan bagi seorang muslim disamping amanat, juga merupakan lahan untuk dakwah. Sarana untuk menjalankan khalifah Alloh di muka bumi. Wahai para pemimpin, hati-hatilah dengan jabatanmu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar