17 Januari 2019

MENCINTAI RASULULLAAH SHALALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM TIMBANGAN 'AQIEDAH



Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA.


Setiap tiba bulan Rabi’ul Awwal, di beberapa negara Islam (terutama Asia Tenggara) penyambutan mayoritas masyarakat Muslim terhadap kelahiran Nabi akhir zaman sangat meriah. Apabila mereka ditanya mengapa hal itu harus dilakukan? Maka jawabannya: “Karena kami mencintai Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.”
Sungguh jawaban yang luar biasa, di mana kecintaan terhadap seseorang yang dicintai melahirkan sikap yang sangat penuh perhatian terhadap orang yang dicintainya itu. Terlebih-lebih Rasulullaah pernah mengisyaratkan para sahabat: “Al-mar’u ma’a man ahbabta.”, artinya  seseorang itu akan berkumpul (di hari qiamat) bersama orang yang dicintainya. Namun apa jadinya, apabila yang dicintainya tidak mencintai orang yang mencintainya. Itu artinya, agar cinta terjadi dua arah sehingga saling mencintai, maka diperlukan kiat-kiat yang dapat menuju kesuksesannya. Dengan mempelajari dan memahami kiat-kiat ini, maka diharapkan cintanya seseorang terhadap yang dicintainya tidak bertepuk sebelah tangan. Demikian pula dalam mencintai nabi kita, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.

Tiga Prinsip Ajaran Islam
Di antara prinsip ajaran Islam, di samping bagaimana seseorang dapat mengenal dan memahami siapa Tuhannya (ma’rifatullaah) dan mengerti apa itu Islam berdasarkan argumen-argumen agama (ma’rifatul Islam bil adillah), juga sangat di wajibkan memahami sosok Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam (ma’rifatu Muhammadin shalallaahu ‘alaihi wasallam) sebagai Nabi dan Rasul yang dapat memberikan bimbingan kepada seluruh ummat manusia. (Hal ini dijelaskan Syaikh Muhammad bin 'Abdil wahhab dalam Risalahnya Al-Ushul as-Tsalaatsah).
Kaitannya dengan pembahasan yang sedang kita bicarakan, adalah prinsip yang ketiga ini. Yaitu,  bagaimana seseorang dapat bersemi rasa cintanya, timbul rasa pembelaannya dan adanya rasa keinginan untuk dapat mengikuti sosok teladan yang jadi panutannya. Semua itu dapat terjadi, apabila kita benar-benar mengenal sosok tersebut.
Tidak terkecuali sosok Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, seseorang dapat memberikan cinta sejati kepadanya, bilamana orang itu mengenalnya dengan baik. Inilah yang ditempuh para ulama kita dalam berbagai karyanya mengenai sejarah kehidupannya. Imam at-Tirmidzi mengarang kitab hadits yang berisikan riwayat-riwayat tentang kelengkapan pribadi nabi (syamailul Muhammadiyyah), lalu kitab ini pun diringkas menjadi Mukhtashar Lis Syamaailil Muhammadiyyah oleh Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu. Dan masih banyak lagi, puluhan bahkan ratusan kitab sejarah tentang pribadi Nabi, baik yang bersifat pengetahuan tentang penanggalan dan peristiwa ('ilmut-taarikh)  atau pun pengetahuan tentang perjalanan dan kepribadian ('ilmus sierah) serta peradaban dan budaya yang dihadapinya ('Ilmul hadhaarah, 'ilmus tsaqaafah). Salah satu kitab sirah yang banyak direkomendasikan para ulama abad ini untuk dibaca kaum muslimin adalah Ar-Rahiequl Makhtuum karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri (pemenang pertama penulisan sierah nabawiyyah Raabithah al-'Alam al-Islaami).

Mengenal Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wa sallam
Mengenal Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, berarti mengenal pribadi Muhammad sebagai manusia biasa, juga mengenal Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul. Mengenal pribadi sang panutan ini, tentu sangat dianjurkan, bahkan wajib. Karena dengan mengenalnya, kita semua akan tahu dan yakin bahwa dirinya adalah Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara yang harus diketahui, minimalnya adalah bahwa dirinya memiliki nasab atau silsilah keturunan, yaitu Muhammad bin Abdil Muthalib bin Hasyim. Bani Hasyim merupakan suku Quraisy , dan suku Quraisy termasuk bangsa Arab. Bangsa Arab turunan Nabiyullaah Ismail, dan Ismail turunan Nabiyullaah Ibrahim 'alaihimus salaam.
Maka, sangat wajar ketika Rasulullaah ditanya oleh seorang  shahabat, “Bagaimana kami harus bershalawat kepadamu wahai Rasulullaah?”. Jawabannya adalah: "Ucapkan olehmu  Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiem wa ‘alaa aali Ibrahiem. Wa baarik ‘alaa  Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin, kamaa  baarakta ‘alaa Ibraahiem wa ‘alaa aali Ibrahiem. Fiel ‘aalamiena innaka hamiedum majied.”
Usianya 63 tahun; 40 tahun sebelum diutus menjadi Nabi dan Rasul, dan 23 tahun setelah diutus menjadi Nabi dan Rasul (13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah). Diangkat menjadi Nabi dengan ditandai turunnya wahyu pertama, yaitu: QS. Al-‘Alaq/ 96: 1 - 5, dan diangkat menjadi Rasul dengan turunnya QS. Al-Mudatsir / 74: 1 - 7.
Adapun yang menjadi tugas risalah dan nubuwwah adalah: menyampaikan tugas kerasulan kepada seluruh ummat manusia. (Lihat: QS. Al-A’raf/ 7 : 158), menegaskan bahwa misi kerasulan yang di maksud adalah “beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi thaaghut, yaitu menghindari segala bentuk yang menyimpangkan dari tauhidullaah.” (Lihat: QS. An- Nahl / 16 : 36), meyakinkan manusia  bahwa ajaran Islam telah sempurna. (Lihat: QS. Al-Maidah / 5 : 3), menjalankan trifungsi kerasulan (tilaawah: membacakan ayat-ayat Allah, tazkiyah: mengikis nilai-nilai jahiliyah dan ta’liem: mengajarkan kitabullaah dan hikmah, yakni sunnah dan ilmu) sebagaimana tertuang dalam QS. Alu 'Imraan/ 3 : 164).
Di samping itu, banyak pula cerminan hidup lainnya yang menunjukkan bahwa dirinya “Benar-benar pribadi panutan” sepanjang zaman. Dalam QS. Al-Ahzaab/ 33 : 44-46 dijelaskan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan Muhammad sebagai Nabi yang menjadi saksi percontohan (syaahidan), pemberi kabar gembira (mubassyiran), pemberi kabar ancaman (nadzieran), menjadi penyeru (daa’iyan) dan menjadi penerang (siraajan munieran).

Uswah Hasanah Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi wa Sallam
Dengan merenungkan paparan sebelumnya, semua kita yakin betapa Allah ‘Azza wa Jalla telah memilihkan untuk ummat manusia seorang Nabi akhir zaman (khaatamun nabiyyien) dan penghulu para Rasul (sayyidul mursalen) sebagai “Manusia teladan” dan “Cerminan pemimpin yang wajib dipatuhi.” Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai “uswatun hasanah”, yakni suri tauladan yang baik dan wajib diikuti. Allah ‘Azza wa jalla berfirman :
“Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullaah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzaab/ 33 : 21).
Ayat lain menuturkan, sebagai berikut: “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang di larangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr / 59 : 7).
Berpijak kepada ayat-ayat tersebut, para ulama ushul menyimpulkannya dengan qaidah: “Al-Ashlu fie af’aalin nabiy al-iqtidaau illaa maa dalla ad-dalelu ‘alal ikhtisaashi", artinya: "Asal perbuatan Nabi adalah wajib diikuti, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa suatu perbuatan itu khusus dilakukan hanya untuk Nabi.” Maka dengan qaidah ini pula, para ulama membagi tauladan Rasulullaah itu menjadi tiga kategori:
Pertama; Bersifat Qurbah, yaitu meneladani Rasulullaah dalam perkara ibadah yang sifatnya benar-benar wajib mengikuti Nabi. Apabila menyalahi sifat-sifat Nabi berarti menyalahi sunnah Nabi, seperti: sifat wudhu, sifat shalat, sifat shaum, sifat haji dan ibadah mahdhah lainnya.
Kedua; Bersifat Thaa’ah, yaitu meneladani Rasulullaah dalam perkara yang berhubungan dengan kepatuhan, yang apabila dilakukan mendapatkan keutamaan dikarenakan mengikuti sifat Rasulullaah, seperti: sifat makan, sifat minum, berpakaian, dan urusan keseharian lainnya.
Ketiga; Bersifat Jibiliyyah, yaitu meneladani Rasulullaah dalam perkara yang bersifat manusiawi, yang apabila seseorang mengikutinya merupakan sesuatu yang utama. Kalau pun tidak dapat mengikutinya, tidak dapat dikatakan melanggar sunnah Nabi, seperti: Nabi apabila tertawa, dirinya tersenyum. Ketika seseorang berupaya untuk tersenyum dengan mengikuti seperti tersenyumnya Nabi, maka hal itu merupakan keutamaan. Jika tidak dapat melakukannya,  tidak berarti melanggar sunnahnya.

Mencintai Nabi Berarti Mencintai Sunnah
Salah satu bukti cintanya seseorang kepada Nabi, berarti mencintai sunnahnya. Antara ”Cinta Nabi” dan “Cinta sunnah”, bukanlah sesuatu yang terpisah. Melainkan satu kesatuan laksana dua keping mata uang, yang keduanya sangat menentukan keaslian cintanya. Apabila dalam Al-Qur’an diisyaratkan bahwa mencintai Nabi itu sama dengan mencintai Allah dan mentaati Nabi itu sama dengan mentaati Allah. (Lihat: QS. Alu Imraan/ 3 : 31 - 32), maka sangatlah ironis apabila seruan akan cinta Nabi diiringi dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan sunnahnya. Atau, bersemangat dengan sesuatu yang dinilainya dapat menbangkitkan gelora cinta kepada Nabi, namun Nabinya sendiri tidak melakukannya. Demikian pula orang-orang hebat yang tidak di ragukan lagi cinta mereka kepada Nabi, baik shahabat, taabi’ien, taabi’ut taabi’ien dan generasi yang mengikuti jejak langkah mereka dari para imam pemberi petunjuk serta orang-orang yang mengikutinya,   juga tidak melakukannya.
Kalaulah ada amalan yang dianggap sunnah di zaman ini, sudah tentu mereka generasi terbaik ummat sudah terlebih dahulu mengamalkannya. Lau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi.
______
Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi 'Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da'wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar