06 Januari 2018

FENOMENA ATHEISME DAN “NO-RELIGION”

 
Menarik mencermati laporan The Guardian 7 Desember 2016 di bawah titel Where is the Wold’s Most “Godless” City? (Di Manakah Kota Paling tidak Bertuhan di Dunia). Laporan ini menyampaikan tentang fenomena atheisme di dunia, terutama di negara-negara Eropa, berdasarkan survey terhadap pendudukan di kota-kota tersebut. Laporan ini menyebutkan bahwa di kota Norwich Inggris 42,5 persen  penduduknya mengaku tidak beragama; di Brighton dan Hove sekitar 42,4 persen; dan di Berlin Jerman sekitar 60 persen. Di Amerika 53 persen penduduknya mengungkapkan bahwa percaya kepada Tuhan bukan merupakan hal penting untuk dijadikan bagian dari moralitas. Sikap ini menunjukkan bahwa percaya kepada Tuhan bukan merupakan hal yang penting dalam kehidupan dan tidak selalu dapat dikatakan sebagai “perbuatan baik”.
Harian ini juga menjelaskan bahwa pada umumnya mereka yang atheis ini berusia muda dan cerdas. Benjamin Beit-Hallahmi, professor psikologi di Universitas Haifa, menjelaskan profil psikologis orang-orang yang menjadi atheis ini. Ia katakan, “Mereka yang tidak memiliki afiliasi kepada agama manapun diketahui umumnya adalah orang-orang yang masih muda, kebanyakan laki-laki, berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, berpikir dan hidup secara liberal, namun umumnya hidup dalam keadaan lebih tidak bahagia dan tersingkirkan dari pergaulan masyarakat.”
Apakah fenomena atheis seperti ini hanya terjadi di Eropa? Mungkin saja tidak. Bisa jadi hal yang sama terjadi di berbagai belahan dunia lainnya, termasuk di Indonesia, walaupun persentasenya lebih kecil. Apalagi dalam dunia yang semakin sekuler mengikuti sekularisme yang telah berubah menjadi “agama” baru di Eropa menggeser agama Kristen yang dominan. Apa yang terjadi di Eropa sesungguhnya dapat dijelaskan asal-usulnya dengan merujuk sekularisme ini. Hanya sayang, para peneliti di Eropa seolah-olah menutup mata atas musabab utama yang menimbulkan gejala semakin maraknya atheisme di negara-negara Barat ini. Lihat saja penuturan peneliti Yahudi di atas. Ia hanya sanggup menjelaskan sebabnya karena “teralienasi dari lingkungan dan hilang kebahagiaan”. Dia lupa bahwa fenomena ini tidak bisa dijelaskan sesederhana itu.
Syed M. Naquib Al-Attas dalam Islam and Secularism (Bandung, 2011: 19) memberikan penjelasan yang subtil mengenai apa yang terjadi di Eropa itu. Fenomena penyingkiran Tuhan dan agama dalam kehidupan masyarakat Eropa adalah konsekwensi yang tidak bisa dihindarkan dari  proses sekularisasi yang terjadi di Eropa sejak tujuh abad belakangan ini. Sebab, sekularisasi sebagaimana yang terjadi sepanjang sejarah di Eropa sangat jelas merupakan suatu proses “pembebasan manusia dari kungkungan agama dan metafisika yang mengontrol pikiran dan bahasa manusia”. Artinya sejak abad ke-14 orang-orang Eropa mencetuskan gagasan ingin melepaskan diri dari kungkungan gereja secara politik dan sosial, secara berangsur-angsur gagasan ini berubah menjadi suatu gagasan pemikiran untuk sepenuhya melepaskan diri dari agama dan metafisika. Sebagai gantinya, pikiran manusia semata-mata dikontrol oleh kesadaran manusia sendiri yang dihasilkan oleh pengalaman hidupnya yang dirasakan dan ditemukan sehari-hari.
Seiring dengan semakin berkembangnya formulasi-formulasi ilmu pengetahuan yang ditemukan ilmuwan di Barat dibarengi dengan kesejahteraan ekonomi yang terus meningkat, maka kemudian masyarakat di Barat menjadi semakin ragu terhadap agama yang mereka anut. Mereka semakin gamang apakah benar agama yang mereka pegang itu ada gunanya. Apalagi ditambah dengan kampanye-kampanye yang memperburuk citra agama seperti konflik antar-pemeluk agama, konflik antar-sekte, dan sebagainya yang semakin membuat mereka semakin tidak yakin dengan agama yang mereka pegang.
Pada mulanya mungkin sikap kurang percaya pada agama ini levelnya rendah. Akan tetapi, seiring dengan terus berjalannya waktu dan semakin banyak ilmuwan-ilmuwan yang berhasil meruntuhkan argumen-argumen agama dalam berbagai masalah kehidupan, ketidakpercayaan terhadap agama pun semakin tinggi. Pada abad ke-19 semasa Kalr Marx memulai debut intelektualnya, ia sudah berani menolak agama dan hidup sebagai atheis. Padahal, zaman itu peran gereja masih cukup besar di Eropa. Dua abad berikutnya memasuki abad ke-21 atheisme seperti yang dianut Marx bukan malah berkurang, tapi justru terus bertambah.
 Komunisme yang diciptakan Marx memang sudah tidak laku di dunia, terutama menyangkut gagasan-gagasan ekonomi dan politiknya. Akan tetapi, atheisme yang inheren di dalamnya malah semakin subur. Ketika tembok Berlin yang membatasi Berlin Barat yang liberal dan Berlin Timur yang komunis runtuh tahun 1991, komunisme di dunia sudah dinyatakan berakhir. Akan tetapi, atheisme justu tumbuh hingga dianut oleh 60 persen penduduk kota ini. Hal demikian mudah saja dijelaskan. Atheisme hanyalah salah satu ciri dari pemikiran komunis, tapi tidak lahir dari komunisme. Atheisme lahir dari rahim pemikiran sekuler yang telah ada sebelum komunisme muncul. Bahkan komunisme inipun merupakan turunan sekularisme yang agar sedikit beda variannya dengan liberalisme dan kapitalisme.
Hingga saat ini, sekularisme masih terus eksis dan cenderung terus dipertahankan di Barat. Masyarakat Barat yang telanjur telah menyingkirkan agama hampir tidak punya alternatif untuk menghadapi berbagai problem kehidupan yang mereka hadapi selain semata-mata mengandalkan rasionalitas dan sains. Sampai taraf tertentu ketika sains mampu mengantarkan sebagian manusia pada kesejahteraan fisik, mereka merasa semua masalah hidup sudah selesai hingga keyakinan tidak diperlukannya lagi agama terus menguat.
Dulu komunisme yang dengan amat berani mengkampanyekan atheisme dipercaya dapat menyejehterakan masyarakat di tengah kapitalisme klasik yang memiskinkan. Saat, bertemu kenyataan bahwa komunisme tidak pernah memberikan kesejahteraan seperti yang dikampanyekan dan kapitalisme terus membenahi dirinya hingga lebih baik performanya, maka komunisme pun disingkirkan. Neo-liberalisme dan neo-kapitalisme dianut kembali. Akan tetapi kali ini neo-kapitalisme dan neo-liberalisme pun sudah dirasuki keberanian berlipat ganda untuk tetap menyingirkan agama; tentu dengan gaya yang berbeda dari gaya komunisme yang radikal. Bila saat ini angka atheisme di negara-negara Barat angkanya kian meningkat, sebetulnya hal demikian amat wajar sebagai konsekwensi logis dari sekularisme yang merupakan induk pemikiran dari neo-liberalisme.
Bila atheisme telah merebak, maka tidak perlu diherankan bila berbagai masalah turunannya dalam wujud perilaku-perilaku menyimpang terus bermunculan: bunuh diri, pencurian, perzinaan, hancurnya rumah tangga, LGBT (homoseksual), spiritulisme ekstrim, serta perilaku menyimpang lainnya. Akibat agama sudah tidak difungsikan dan hanya diletakkan sebagai konsumsi pribadi, bukan untuk menyelesaikan masalah publik, maka apa yang bisa diselesaikan oleh agama malah menjadi semakin tidak terkendali seperti angka bunuh diri yang cenderung terus meningkat.
Bagi Islam, Allah SWT sejak awal memang sudah mengingatkan bahwa ancaman-ancaman terhadap Islam bukan hanya dari agama-agama selain Islam seperti Yahudi dan Kristen, tapi juga dari kaum anti-Tuhan dan anti-agama. Tokohnya di dalam Al-Quran dicontohkan seperti Firaun yang berkata, “Dan Fir’aun berkata,...aku tidak tahu ada Tuhan selain aku bagi kalian.” (Al-Qashsash: 38). Al-Quran juga mengingatkan akan ada manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya sendiri, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya tersesat dengan sepengetahuan-Nya. Allah mengunci pendengaran dan hatinya, dan Allah pun jadikan penutup bagi penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberikan petunjuk setelah Allah (membiarkannya tersesat), mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jastiyah: 23). Orang semacam ini ditegaskan pada ayat lanjutannya merupakan orang-orang atheis yang hanya meyakini bahwa kehidupan ini hanyalah di dunia dan bendawi semata-mata. “Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanya kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup; dan tidaklah ada yang dapat membinasakan kita, melainkan masa belaka. Akan tetapi, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang itu (secara meyakinkan), melain mereka hanya menduga-duga belaka. (Al-Jatsiyah: 24). Wallâhu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar