11 Oktober 2017

ANTARA KEWASPADAAN DAN PARANOID


        Memasuki tahun baru Hijriyah yang ke-1439, umat Islam di seluruh dunia dihadapkan pada berbagai masalah krusial yang kelihatannya belum menemukan titik terang untuk diselesaikan seperti konflik Syria, Irak, dan Yaman; penjajahan Palestina; genosida Rohingya, semakin melemahnya ekonomi negara-negara Islam, dan sebagainya. Pun demikian di negeri kita sendiri Indonesia. Memasuki tahun baru Hijriyah ini banyak sekali PR yang harus diselesaikan umat Islam. Selain dihadapkan pada masalah-masalah internal seperti pendidikan, ekonomi, dan ukhuwwah yang kadang-kadang tercoreng oleh ulah sekelompok orang tertentu, tantangan eksternal dari pihak-pihak yang sengaja ingin melemahkan umat Islam terus terjadi.
Di tengah berbagai situasi yang dihadapi ini, ada satu fenomena yang penting dicermati belakangan ini mengenai cara-cara umat Islam menyikapi berbagai hal yang secara berkala diciptakan menjadi isu di tengah masyarakat. Seringkali umat menyikapinya dengan sikap-sikap yang lebih tepat disebut “paranoid”. Paranoid ini sercara teknis sering didefinisikan sebagai suatu rasa takut terhadap sesuatu yang tidak jelas objeknya seperti ketakutan terhadap “hantu” yang sebetulnya bertemu pun tidak pernah. Sikap “paranoid” adalah suatu gejala psikologis negatif, sebab tidak melahirkan tindakan yang positif dan konstruktif, melainkan sebaliknya seringkali menyebabkan munculnya tindakan-tindakan destruktif.
Untuk sekedar menyebutkan contoh adalah munculnya isu kebangkitan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) yang secara resmi telah dilarang di Indonesia melalui Tap MPR tahun 1966. Isu PKI bagi umat Islam memang memiliki kenangan tersendiri. Konfrontasi umat Islam dengan PKI sudah bukan lagi pertentangan pemikiran dan ideologi semata, tetapi telah sampai pada konfrontasi fisik hingga saling bunuh-bunuhan satu sama lain. Belum lagi, gara-gara PKI ini banyak perkampungan Muslim di Jawa Tengah yang dikristenkan. Mereka yang Muslim, tapi terlibat PKI, ditawari untuk mendapat perlindungan dari gereja agar tidak ikut disangkutpautkan dengan PKI yang sudah dinyatakan sebagai partai terlarang. Diketahui hampir sekitar dua juta orang dalam waktu yang singkat berpindah dari Islam menjadi Kristen.
Boleh dikatakan bahwa umat Islam ini sudah sangat traumatik berhubungan dengan PKI ini. Sejak awal berdirinya tahun 1920, PKI telah membelah umat Islam dalam organisasi yang sangat besar dan berpengaruh saat itu, yaitu Sarekat Islam (SI). Tahun 1948, pemberontakan Madiun yang dirancang PKI menelan korban para ulama dan santri di berbagai pesantren di sekitar Madiun. Tahun 1960-an ketika Sukarno memberikan angin keberpihakan pada PKI dalam masa Demokrasi Terpimpin, banyak tokoh umat Islam dipenjarakan hanya gara-gara tidak setuju pada PKI. Pada tahun-tahun itu pula kekejaman aktivis PKI terhadap umat Islam yang tidak mau menerima PKI terus meningkat hingga puncaknya G30S/PKI yang juga menelan korban sangat banyak dari umat Islam.
Trauma atas kekejaman PKI terhadap umat Islam inilah yang menyebabkan umat Islam menjadi sangat sensitif ketika diisukan bahwa PKI bangkit kembali. Mereka yang menjadi korban langsung, baik dirinya maupun keluarganya, tentu tidak bisa menahan diri untuk tidak segera bereaksi. Amat wajar bila banyak yang menulis buku tentang apa yang telah dilakukan PKI pada masa lalu untuk mengingatkan kepada generasi muda atas sepak terjang PKI ini hingga dilarang di Indonesia. Juga wajar ketika ada yang menawarkan untuk memutar kembali film G30S/PKI yang sejak tahun 1998 tidak lagi diputar di TVRI segera disambut antusias oleh umat Islam. Demonstrasi pun banyak digelar hanya untuk menunjukkan bahwa umat Islam sangat tidak menyukai bangkitnya kembali partai berlambang palu arit ini.
Hanya saja reaksi terhadap isu bangkitnya kembali PKI ini kelihatannya lebih banyak dihadapi dengan sikap paranoid, suatu sikap yang secara psikologis tidak sehat dan secara strategis juga malah akan melemahkan posisi umat Islam sendiri. Apa indikasi sikap paranoid ini? Di era media sosial yang memudahkan orang membagikan apa saja amat sering disebarkan berita-berita tentang bangkitnya kembali PKI dengan bukti-bukti yang sebetulnya masih harus diteliti secara ilmiah. Misalnya gosip-gosip tentang rapat PKI di Istana, Kongres PKI yang sudah kesekian kalinya, gosip presiden yang orang tua aslinya adalah PKI, dan sebagainya. Gosip-gosip semacam ini beberapa waktu ke belakang berseliweran sebelum menelan korban penangkapan beberapa ustadz yang sering berceramah tentang kebangkitan PKI ini.
Akibat berita dari media sosial yang tidak jelas sumbernya ditelan mentah-mentah, apalagi yang isinya seringkali begitu mencekam dan menyeramkan, muncul sikap-sikap irasional dalam menyikapi isu-isu semacam ini. Misalnya segala hal yang terjadi kepada umat Islam dengan amat mudah dihubungkan dengan PKI. Para ulama ditangkap, dikatakan PKI yang menjadi dalangnya. China memberi pinjaman, dikatakan kolaboratornya PKI di pemerintah hanya gara-gara di China yang berkuasa adalah Partai Komunis China. Pengusaha-pengusaha China yang jelas-jelas kapitalis, banyak disebut-sebut mendanai kebangkitan PKI. Ahok yang China diduga-duga sebagai kaki tangan PKI; dan sebagainya. Dugaan-dugaan itu ketika dimintakan apa argumentasinya, tidak satupun yang berdasarkan bukti dan fakta kongkrit. Umumnya hanya dihubung-hubungkan karena ada satu faktor kesamaan antara PKI pada masa lalu dengan yang terjadi pada masa kini. Sangat mungkin sambutan umat Islam atas anjuran Panglima TNI untuk nonton film G30S/PKI pun merupakan buah dari sikap paranoid umat Islam yang tidak tahu harus melakukan apa bila PKI benar-benar akan bangkit di negeri ini. Sikap paranoid semacam ini sampai pada taraf tertentu akan sangat mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tententu. Dalam situasi ketakutan orang akan melakukan apa saja yang disarankan orang lain tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Lantas apa yang harus dilakukan bila PKI benar-benar bangkit? Bukankah beberapa indikasi seperti seminar-seminar untuk membersihkan nama PKI, terbitnya buku-buku yang menolak PKI sebagai pemberontak, semakin banyak anak-anak muda yang bangga menggunakan simbol-simbol PKI, juga sudah ada beberapa pejabat dan anggota dewan yang mewacanakan pencabutan tap MPR No.XXV/1966 tentang Pelarangan PKI? Keberadaan PKI sebagai gerakan yang pernah besar di Indonesia memang tidak bisa dikatakan mati sepenuhnya. Masih ada pengusung-pengusungnya pada masa lalu yang terus mewariskan semangat gerakan ini pada generasi yang lebih muda. Apalagi yang diusungnya adalah ideologi yang pernah berpengaruh di dunia, yaitu komunisme. Sebagai ideologi, komunisme bisa saja hidup lagi, walaupun di tangan orang yang tidak pernah besentuhan dengan PKI; juga tidak semua yang pernah terlibat dengan PKI bertaubat dari ideologi sesat ini. Indikasi-indikasi ini cukup memberikan alasan bahwa setiap waktu PKI dan ideologi yang diusungnya bisa bangkit lagi.
Sekalipun ada kemungkinan-kemungkinan ke arah sana, sikap yang paling teoat dilakukan umat Islam adalah meningkatkan “kewaspadaan” sambil menyingkirkan “paranoid” akan kebangkitan ideologi ini. Kewaspadaan ditunjukkan dengan kemampuan menggali data-data objektif. Bila yang dikhawatirkan adalah bangkitnya PKI, maka sebelum melakukan tindakan apapun yang dilakukan adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang perkembangan gerakan ini. Bila perlu dibentuk satu kelompok gerakan khusus yang bertugas menggali data-data tentang perkembangan gerakan PKI ini. Data-data ini kemudian diolah secara ilmiah untuk menghasilkan kesimpulan yang benar dan akurat. Mengetahui dan memetakan massalah merupakan setengah lebih dari penyelesaian terhadap masalah tersebut.
Apabila data-data sudah didapatkan, maka tindakan yang muncul dari kewaspadaan adalah tindakan-tindakan yang rasional dan terukur; bukan tindakan membabi-buta yang tidak jelas apa sasaran dan targetnya. Bagi kaum Muslim, menghadapi suatu ideologi dan aliran menyimpang, tentu yang harus didahulukan adalah “dakwah”. Mendakwahi meraka untuk kembali ke jalan yang benar adalah tindakan utama sebelum melakukan penghukuman. Bila kita sudah tahu di mana peta-peta penyebaran ideologi ini, maka dakwah harus segera diarhkan ke sana dengan berbagai pendekatan. Pada umumnya ideologi komunisme ini akan tumbuh subur di masyarakat miskin; maka dakwah pun harus dibarengi dengan pendekatan ekonomi dengan memanfaatkan zakat, infak, shadaqah, dan wakaf. Bila mereka sudah bergerak di ranah kekuasaan, maka umat Islam pun hars bergerak ke sana, juga dengan visi dakwah. Ini hanya sekedar contoh. Secara teknis banyak kreativitas yang bisa dibuat umat Islam. Intinya, kewaspadaan terhadap munculnya gerakan ini akan ditandai dengan tindakan-tindakan yang benar dan rasional. Inilah yang harus dilakukan umat Islam menghadapi kemungkinan bangkitnya kembali PKI. Wallahu A’lam bi Al-Shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar