06 Januari 2018

“DEKLARASI BALFOUR 1917” Mengingat 100 Tahun Penjajahan Yahudi Atas Palestina

Hasil gambar untuk DEKLARASI BALFOUR 1917
Oleh: Tiar Anwar Bachtiar


Setiap tanggal 2 November seharusnya umat Islam di seluruh dunia harus “memerahi” kalender mereka dan memberikan perhatian khusus. Mengapa demikian? Tepat pada tanggal inilah seabad yang lalu, tepatnya pada tahun 1917, diumumkan “Deklarasi Balfour” oleh Menteri Luar Negeri Inggris yang menjadi titik awal kekalahan telak umat Islam dari bangsa-bangsa Kristen Eropa. Selain pada tahun itu, Turki Usmani berhasil dilumat dalam Perang Dunia I oleh kekuatan Inggris dan sekutunya, Deklarasi Balfour telah mengizinkan kawasan Baitul Maqdis menjadi tempat tinggal orang-orang Yahudi. Inilah awal mula petaka yang dihadapi umat Islam seluruh dunia hingga saat ini.
Kekalahan Turki Usmani dalam Perang Dunia I (1914-1917) dari Inggris dan sekutunya telah mengubah peta politik di Timur Tengah. Usmani yang semula menjadi penguasa atas kawasan ini harus kehilangan banyak wilayah di bawah kekuasaannya di Tmur Tengah, tidak terkecuali kawasan Baitul Maqdis (Islamicjerussalem). Kawasan ini sudah sejak lama menjadi incaran Inggris dengan alasan ingin merelokasi orang-orang Yahudi yang bermasalah di Eropa; walaupun mungkin motif agama dan balas dendam Perang Salib ada di belakang itu. Akan tetapi, berkali-kali Sultan Abdul Hamid menolak permintaan Inggris dan komunitas Yahudi untuk membangun pemukiman resmi dan permanen untuk Yahudi di Baitul Maqdis, walaupun posisi Usmani sudah semakin lemah saat itu. Setelah kalah dalam Perang Dunia I, Usmani tiada kuasa lagi mencegah ketika Arthur Balfour mengeluarkan pengumuman bolehnya orang-orang Yahudi membangun pemukiman di kawasan ini, karena saat itu Baitul Maqdis secara de jure berada di bawah kekuasaan Inggris. Pemberian Inggris atas wilayah Baitul Maqdis dan beberapa kawasan di sekitarnya yang kemudian diberi nama Palestina kepada Zionis-Yahudi ini merupakan bagian dari kesepakatan atas dukungan Zionis internasional terhadap Inggris pada Perang Dunia I.
Sejak tahun 1917 ini dibuat suatu kesepakatan aneh yang tidak pernah terjadi dalam sejarah antara Inggris dengan Yahudi. Tepatnya tanggal 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menjanjikan kepada bangsa Yahudi bahwa mereka akan dibangunkan tanah-air khusus bagi bangsa Yahudi di kawasan yang oleh Inggris dinamai Palestina. Ini jelas aneh. Bangsa Yahudi tidak pernah menghuni kawasan ini; tidak pernah juga ikut menaklukkannya, walaupun Yahudi berada di pihak Inggris pada Perang Dunia I. Tiba-tiba bangsa yang tidak punya hak apa-apa di tanah ini ingin membangun negaranya di sini. Dari sinilah kezhaliman dimulakan di Baitul Maqdis. Apalagi pada tanggal 9 Desember 1917 Jendral Allenby berhasil menaklukkan Baitul Maqdis dan menganggapnya sebagai kemenangan Perang Salib.
Kejatuhan Baitul-Maqdis ke tangan Inggris ini kemudian secara bertahap diikuti dengan runtuhnya Kekhalifahan Usmani di Istanbul. Mula-mula Turki Muda berhasil melemahkan peran Khalifah yang kalah perang hanya sebagai simbol keagamaan. Akan tetapi kemudian pada bulan Maret 1924, secara resmi institusi kekhalifahan dihapuskan dan didirikan Negara Turki sekuler sebagai suatu negara bangsa. Dalam banyak riset disebutkan bahwa keruntuhan Usmani ini lebih disebabkan semakin melemahnya kekuasaan Khalifah daripada disebabkan karena kekalahan dalam perang. Salah satunya karena semakin kokohnya gerakan Turki Muda yang berkolaborasi dengan Inggris dan Zionis Yahudi yang menggerogoti kekuasaan Khalifah.
Runtuhnya kekhalifahan Usmani menyebabkan situasi di Baitul Maqdis semakin memburuk. Inggris melepaskan kawasan Baitul-Maqdis  secara keseluruhan dari Syria sesuai dengan kesepakatan dengan Prancis tahun 1916 (Perjanjian Sykes-Picot) dan membentuk kawasan sendiri setelah kawasan ini ditaklukkan  yang dinamakan “Palestina”. Kawasan ini, termasuk Baitul Maqdis di dalamnya, setelah dikuasai Inggris kemudian diserahkan kepemimpinannya kepada seorang Yahudi bernama Herbert Samuel antara tahun 1920-1925. Sampai berdirinya Negara Israel pada tahun 1948, penguasa-penguasa di Palestina yang diangkat Inggris semuanya dalam rangka memuluskan misi pendirian negara bagi orang-orang Yahudi dan mengusir bangsa Arab-Baitul Maqdis dari tanah mereka sendiri.
Setelah Israel berdiri tahun 1948 secara resmi, maka penjajahan atas Baitul-Maqdis semakin kokoh lagi. Apalagi, untuk kedua kali blok Barat yang kali ini dipimpin oleh Amerika memenangi lagi perang besar dunia, yaitu Perang Duni II pada tahun 1945. Amerika yang bersekutu dengan Inggris, Prancis, Rusia, dan China menjadi satu “imperium” dunia baru yang sangat mengendalikan gerak sejarah dunia pada masa-masa sesudahnya hingga saat ini. Dunia kembali dikuasai metamorfosis kekuatan “Romawi” untuk kedua kalinya setelah Muhammad Al-Fatih meruntuhkan Benteng Konstantinopel pada 1453 M sebagai penanda puncak penguasaan Islam atas dunia. Islam sendiri telah mengurangi banyak pengaruh Romawi sejak Umar ibn Khattab menaklukkan Illia (Palestina) pada masa kekhalifahannya. Ini menjadi awal dari kebangkitan kekuatan Islam menguasai dunia, termasuk menguasai kawasan Eropa.
Sejak masa kekuasaan Islam hingga kekuasaan Eropa Barat saat ini, ternyata Baitul Maqdis menjadi titik tolak munculnya kekuatan yang akan menjadi “raja” dunia. Saat Umar ibn Khattab berhasil menaklukkan Baitul Maqdis, maka generasi berikutnya dengan sangat optimis akan berhasil menaklukkan dunia; dan cita-cita ini terwujud. Saat umat Islam mulai melemah karena konflik dan kemewahan pada masa akhir periode Abbasiyah, bangsa-bangsa Eropa memanfaatkan situasi untuk kembali ke gelanggang menjadi penguasa dunia. Yang menjadi sasaran utama mereka sebagai titik tolak untuk kembali menguasai dunia adalah Baitul Maqdis. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya kembali dan berhasil pada Perang Salib I tahun 1097. Selama lebih kurang 90, bangsa-bangsa Eropa berhasil menguasai kawasan ini. Mereka sudah sangat optimis bisa kembali menjadi “raja dunia”. Namun, angan-angan itu kandas di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil merebut kembali kawasan Baitul Maqdis pada Perang Salib III tahun 1187 M.
Kembalinya Baitul Maqdis ke tangan umat Islam menandakan bahwa kekuatan dunia masih ada di tangan umat Islam. Bahkan tidak lama setelah itu, justru Konstantinopel yang selama belasan abad tidak ada yang berhasil menembusnya dapat diruntuhkan oleh pasukan Muslim pimpinan Sultan Mehmet II Al-Fatih dari dinasti Usmani di Turki pada tahun 1453. Kekuatan Islam pun menjadi semakin kuat mengontrol dan memberikan kesejahteraan pada dunia di berbagai kawasan.
Rupanya, jatuhnya Konstantinopel ke tangan kaum Muslim telah membakar api dendam kesumat bagi negara-negara Eropa pecahan Romawi ini. Paus di Roma dengan sangat bersemangat membuat Perjanjian Tordesillas 1494 yang memerintahkan Spanyol untuk menyusuri dunia ke sebelah utara dan Portugis ke sebelah selatan. Peristiwa ini telah membuka jalan bagi kerajaan lain seperti Inggris, Jerman, Prancis, Itali, Belanda, dan lainnya untuk menemukan berbagai kawasan, terutama di Afika dan Asia, untuk dijajah dan dikuasai satu per satu. Secara khusus mereka berusaha menaklukkan kawasan-kawasan yang dikuasai oleh kaum Muslim. Sejak saat ini, sedikit demi sedikit dunia menyaksikan dimulainya Era Kolonialisme bangsa-bangsa Eropa atas berbagai kawasan di Asia dan Afrika yang sebagian besarnya Muslim, termasuk di dalamnya kawasan Indonesia.
Abad ke-19 dan 20 merupakan puncak kolonialisme Eropa. Eropa diantarkan secara bertahap menuju singgasana kekuasaan dunia mengembalikan kejayaan Romawi dahulu. Pada saat yang sama, kekuatan kerajaan-kerajaan Islam, terutama Usmani yang saat itu dipercayai sebagai pemegang tampuk “kekhalifahan” yang menjadi payung untuk kerajaan-kerajaan Islam di seluruh dunia, semakin melemah. Sebab utamanya selalu berulang, yaitu kemewahan, perebutan kekuasaan, dan komitmen yang rendah dalam menjalankan ajaran Islam.
Sebagai titik balik pertama yang menandai come back-nya Eropa ke panggung kekusaan dunia adalah kesuksesan Inggris menempatkan Yahudi di Baitul Maqdis dan mengontol kawasan ini sepenuhnya setelah berdirinya negara Israel tahun 1948. Saat ini, sudah seabad Baitul Maqdis ada di tangan anak keturunan Romawi. Selama itu pula kita menyaksikan betapa lemahnya umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam benar-benar ada di bawah jari telunjuknya neo-Romawi dalam segala hal: politik, militer, ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan agama. Sampai kapan ini akan terus berlangsung? Baitul Maqdis yang akan menjawabnya. Kapankan umat Islam akan kembali menguasainya? Saat itulah umat Islam akan kembali ke gelanggang dunia untuk membuktikan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin; pembawa kebaikan bagi dunia. Wallâhu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar