27 Januari 2018

PEMIMPINMU ADALAH CERMINAN KAMU


Hasil gambar untuk tahun politik pemilu



Oleh: H. Deni Solehudin

Suasana menjelang PILKADA serentak tahun 2018 ini nampak dan terasa makin ramai. Sebagai bagian dari sebuah bangsa, kita tidak bisa melepaskan diri dari keterlibatan, minimal keterpengaruhan dengan hiruk pikuk kegiatan politik. Apalagi jika kita menyadari bahwa masalah siyasah dan ketatanegaraan adalah bagian integral (tak terpisahkan) dari syari'at Islam. Sebagian masyarakat muslim memahami syari'at Islam itu sebatas Rukun Islam, ada juga yang memahaminya sebatas hukum hudud, seperti potong tangan bagi pencuri, cambuk bagi pemabuk, dan rajam bagi penzina. Padahal cakupan Syari'at Islam itu bagitu luas. Menyangkut masalah-masalah : akidah, ibadah, mu'amalah, munakahah, akhlak, ekonomi, budaya, keamanan dan pertahanan, pendidikan, sosial kemasyarakatan serta politik dan ketatanegaraan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda : Ajaran Islam itu akan lenyap dari tangan kaum muslimin satu persatu, setiap kali satu ajaran hilang, maka akan diikuti dengan lenyapnya bagian dari ajaran Islam yang lainnya. Ajaran yang akan pertama lenyap adalah masalah pemerintahan, dan yang terakhir lenyap adalah ajaran tentang shalat. Pernyataan Nabi saw ini tentu bukan sebuah ramalan, melainkan sebuah tadzkirah atau peringatan yang harus menjadi perhatian kaum muslimin semua. Ajaran tentang shalat menjadi bagian yang terakhir lenyap, karena penanaman keyakinan dan kesadaran akan posisi shalat dalam kehidupan seorang muslim sudah begitu mantap. Doktrin-doktrin seperti : Shalat itu salah satu rukun Islam, Shalat itu tiangnya agama, shalat yang lima waktu itu wajib, Orang yang meninggalkan shalat sama sekali dinyatakan kafir, Nabi saw tidak mau menyalatkan orang yang mati ketika hidupnya tidak pernah shalat, amal yang akan pertama kali dihisab adalah shalat, dsb. Doktri-doktrin tersebut terhujam kuat dalam sanubari, tertanam kokoh dalam fikiran. Wajar menjadi bagian dari ajaran Islam yang terakhir lenyap. Sementara masalah pemerintahan menjadi  bagian ajaran yang lenyap, mungkin karena selama ini perhatian kita tentang masalah yang satu ini relatif kurang, kalaupun terlibat hanya sebatas partisipan. Bahkan sering dipandang soal pemerintahan itu adalah urusan "orang lain ", maka tidak heran jika pemerintahan itu sering jatuh ke tangan " orang lain " ( yakni mereka yang tidak memiliki keberpihakan bahkan kadang memusuhi Islam dan muslimin). Ketika kebijakan yang mereka buat merugikan Islam dan muslimin, baru menyesalinya.

       Dalam Islam jabatan dan kedudukan  bukanlah semata-mata anugrah, tapi juga amanah, yang harus dipertanggung jawabkan, bukan hanya  di hadapan rakyat, tapi terutama di hadapan mahkamah Allah Yang Maha Adil kelak.  Jika seseorang mendapatkan jabatan dan kedudukan bukan dengan cara yang haq , tapi dengan cara-cara bathil,  dengan menghalalkan segala cara, seperti  politik uang dengan segala macam bentuknya, dengan menyebar fitnah (hoax), dengan menempuh cara-cara mistik dan syirik,  dsb.  Kemudian setelah ia menduduki jabatan dan kedudukan  itu  ia menipu, ingkar atas janji-janjinya, korup, dan zalim, maka jabatan dan kedudukan itu hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan  di hari kiamat, dan ia akan diharamkan masuk surga.  Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.  bersabda :  " Sesungguhnya jabatan itu adalah amanat, dan pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali mereka yang mendapatkan jabatan itu  dengan cara yang haq  ( atau ia orang yang paling berhak ) dan ia menunaikan tugas dan kewajiban yang ada pada jabatan itu ( termasuk memenuhi janji-janjinya )  "  HR Muslim.   Dalam  hadits lain Beliau          bersabda  :  " Seorang hamba yang oleh Allah dipercaya untuk memimpin sebuah bangsa, lantas ia mati, dan ketika memimpin ia menipu  ( zalim ) terhadap rakyatnya, pasti Allah mengharamkan baginya masuk surga . "  HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Dan yang akan dipinta pertanggung jawaban oleh Allah swt bukan saja mereka yang dipilih sebagai pemimpin, tapi  para pemilihnya juga sama, akan dipinta tanggung jawab.  Nabi shollallahu alaihi wasallam Mengingatkan : Barangsiapa yang mengangkat seseorang menjadi pemimpin atas dasar ta'ashub ( fanatisme buta), padahal di tengah mereka masih ada orang-orang yang diridlai oleh Allah, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman ( HR. Al-Hakim). Memilih pemimpin hanya karena ikatan emosional, tanpa memperhatikan kelayakan dan kriteria yang dikehendaki  Allah dan Rasul-Nya, apalagi hanya karena iming-iming materi, akan menjadi berat pertanggungjawabannya kelak. Pertanggungjawaban seorang pemimpin di hadapan Allah swt kelak akan menjadi ringan, jika ia mendapatkan jabatan itu karena ia adalah orang yang layak mendapatkannya, ia mendapatkan jabatan itu dengan cara-cara yang baik dan benar, bukan dengan cara-cara, culas, licik dan kotor.

       Hisyam bin Urwah meriwayatkan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam yang menyatakan bahwa pemimpin itu  ada yang baik, ( taqwa, jujur, adil , cerdas dan berakhlakul karimah ) dengan segala macam kebaikannya, dan ada pemimpin yang buruk,  ( jahat, zalim, dan korup, ) dengan segala macam keburukannya. Pemimpin bertaqwa akan selalu menghindarkan diri dari perbuatan maksiat dan zalim. Pemimpin yang  jujur akan menumbuhkan kepercayaan rakyat dan jauh dari tindak korupsi dan kolusi yang di negri ini sudah menjadi kejahatan luar biasa. Pemimpin yang adil akan melahirkan ketentraman bagi seluruh rakyat dan mendatangkan berkah dan rahmat Allah. Pemimpin yang cerdas dan visioner akan bisa membawa sebuah bangsa  ke arah yang lebih baik dan maju. Pemimpin yang berakhlakul karimah akan menjadi panutan rakyatnya, dan akan mendahulukan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bagaimana bisa seseorang  bertindak jujur, jika ia lebih percaya kepada mistik dan takhayyul dari pada iman kepada Allah swt ?  Bagaimana ia bisa berbuat adil, mampu menegakkan hukum, memberantas korupsi dan kolusi, dan munkarat lainnya, jika  ia  naik menjadi pemimpin dengan uang hasil korupsi atau dengan dukungan para koruptor, konglomerat hitam, atau Bandar togel ?  atau ia mendapatkan jabatan dan kedudukan itu dengan cara-cara kotor dan machiavelis ?  Bagaimana seorang pemimpin bisa membawa bangsanya menjadi bangsa yang mandiri, jika ia lebih berpihak kepada kepentingan  dan hegemoni asing dari pada kepada rakyatnya sendiri ? dst.  Pemimpin yang zalim, jahat dan korup hanya akan membawa sebuah bangsa  kepada kehancuran dan laknat Allah.

       Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam Menyatakan bahwa  kondisi pemimpinmu mencerminkan kondisi rakyat yang dipimpinnya. 

كما تكونوا يولى عليكم – ر الحاكم
Sebagaimana keadaan kamu, begitulah diangkat pemimpin untuk kamu. H.R. al-Hakim

Dalam kitab An-Nihayah hadits tersebut dijelaskan bahwa jika  rakyat  beriman, beramal sholeh, jujur, dan cerdas , maka yang akan tampil sebagai pemimpin mereka adalah orang yang punya karakteristik seperti itu. Tapi jika rakyatnya  terdiri dari orang-orang yang jahat, senang maksiat, senang merusak, maka yang akan tampil sebagai pemimpin mereka juga manusia seperti itu.  Bagi sekelompok santri tentu tidak akan memilih koruptor sebagai pemimpin mereka. Sebaliknya bagi segerombolan pencoleng tidak akan memilih ustadz sebagai pemimpin mereka, mereka pasti akan memilih " Super pencoleng " . Nabi saw. pernah mengingatkan pula bahwa barang siapa yang memilih seseorang sebagai pemimpin hanya atas dasar ta'ashub ( fanatisme buta ) tanpa menjadikan  petunjuk Alah dan rasulNya  sebagai barometer, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman ( HR. Muslim ).
Allah SWT. telah mengingatkan :
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (QS. Al Mujadalah: 22)

      Siapapun yang tampil memimpin bangsa ini ke depan, akan menjadi cerminan kondisi dan kwalitas  ilmu dan iman  mayoritas bangsa ini. Wallohu a'lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar