06 Januari 2018

Tauhid; Sebagai Paradigma Gerakan


 Foto Wildan Syamsuludin.



Oleh : H. Deni Solehudin, S.Ag, MSI

Kerinduan yang mendalam akan munculnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkemakmuran dan berkeadilan merupakan salah satu mabda awal bagi pergerarakan-pergerakan dakwah yang ada di NKRI yang kita cintai ini.
Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid, di Indonesia dalam pergerakan Islam sekarang ini dikenal dua strategi yaitu strategi struktural dan strategi kultural.
Menurut Kunto, strategi struktural disebut juga strategi politik, karena kebanyakan strategi struktural mengunakan sarana politik. Meskipun secara resmi tidak ada lagi Partai Islam dan aspirasi Islam dianggap dapat ditampung dalam partai-partai yang ada. Selanjutnya Kunto menjelaskan, strategi struktural mengalami pencanggihan. Dulu pada tahun 1950-an, “DI-TII” hanya mengenal satu jenis strategi politik, yaitu pemberontakan bersenjata. Sekarang strategi politik itu bermacam-macam ada yang terang-terangan, seperti pada OPP, ada yang tidak terang-terangan, seperti pada OTB, dan ada yang “remang-remang”, dengan menjadikan organisasi lain sebagai kuda tunggangan.
Adapun strategi kultural adalah strategi yang berusaha mempengaruhi prilaku sosial (cara berpikir masyarakat). kata kunci dalam strategi kultural ialah agama sebagai moral force dan inspirational (moral, etika, intelektual). Di lain pihak, ada lagi strategi yang ketiga berupa strategi mobilitas sosial yaitu strategi yang berusaha secara kolektif dan individual untuk dapat naik dalam tangga sosial. Metodenya ialah pendidikan SDM, yang secara sadar untuk mobilitas sosial, jadi tidak sekedar menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
Strategi apa yang harus dipilih? dari mana memulainya, Apakah mendahulukan strategi struktural atau strategi cultural? Secara ideal harusnya adanya kerjasama di antara pengusung  kedua strategi tersebut. Namun realitas yang ada justru memperlihatkan fenomena sebaliknya, masing-masing gerakan saling menegasikan gerakan yang lainnya.
Kerinduan yang mendalam adanya NKRI sebagaimana yang didambakan di atas akan tetap menjadi cita-cita bahkan utopia (khayalan,  mimpi) atau malah wisfull tinking (lamunan belaka), kalau tidak ada upaya untuk mewujudkannya. Tetapi permasalahannya, kembali kepada pertanyaan semula: dari mana kita memulainya?
Marilah kita perhatikan firman Allah Ta’ala dalam Q.S. As Syura ayat 13:
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Dalam ayat diatas Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk “menegakkan agama (dien)” . Apa yang dimaksud “dien” menurut ayat di atas? Menurut Iman Al Qurthuby yang dimaksud dien dalam ayat diatas adalah tauhidullah  (mengesakan Allah), mentaati-Nya, beriman kepada rasul-rasul dan kitab-kitab-Nya, beriman kepada hari pembalasan dan semua yang membuat dengan menegakkannya seseorang menjadi berserah diri kepada Allah.
Demikian pula pendapat mufassir lainnya. Imam Muqatil berpendapat bahwa yang dimaksud dien dalam ayat di atas adalah tauhid. Lebih lanjut, Imam Mujahid menegaskan, Allah SWT. tidak mengutus seorang nabi kecuali ia mewasiyatkan kepadanya untuk mendirikan shalat, membayar zakat, mengakui adanya Allah dengan jalan taat. Adapun imam Qotadah menjelaskan bahwa dien disana yaitu menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram”.
Sesungguhnya Tauhid yang murni dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allah Ta’ala. Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allah kepada Rasul-nya yang diutus kepada ummat manusia: “Sungguh kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyampaikan): sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut”.
Jelas, tauhid adalah fondasi agama Islam. Maka kalau fondasi ini roboh, roboh pula bangunan Islam yang lain. Sebaliknya, kalau tauhid ummat ini kuat berarti fondasi yang menopang seluruh bangunan Islam itu pun kuat juga. Dengan demikian mengembangkan tauhid merupakan masalah yang sangat strategi bagi upaya membangkitkan kembali ummat ini. Upaya-upaya untuk membangun kembali umat Islam, yang tidak memulai langkahnya dari pembinaan tauhid sama artinya dengan membangun rumah tanpa fondasi, sia-sia belaka. Oleh karena itu, pembinaan tauhid harus menjadi program yang harus diprioritaskan oleh seluruh kalangan kaum muslimin ini.
Bohong besar apabila bangunan yang mengaku Islam, ternyata berdiri diatas fondasi selain aqidah Islam, meskipun telah ditulis di papan nama dengan nama Islam, maka sesungguhnya itu merupakan pemalsuan di dalam materi dasar bangunan yang tidak menutup kemungkinan bangunan itu akan berakibat ambruk seluruhnya dan menimpa orang-orang yang ada didalamnya. Allah SWT berfirman:
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridlaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”
Dalam hadits disebutkan :
Artinya : “Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat satu garis seraya bersabda “Ini jalan Allah”. Kemudian beliau membuat beberapa garis dari sebelah kanannya dan dari sebelah kirinya, seraya bersabda “ini jalan-jalan yang pada masing-masing jalan ada Setan yang menyeru ke jalan tersebut”, kemudian beliau membaca (ayat 153 surat Al An’am) : dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Sunan Sa’id ibn Manshur, 5: 112).
Kalau kita ingin meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam maka yang pertama kali ia serukan adalah tauhid, bukan masalah yang lain. Sejarah membuktikan Sebelum membicarakan hal-hal lain, Rasulullah SAW. Selama  kurang lebih 13 tahun di mekkah menda’wahkan konsep pengesaan Allah Subhannahu wa Ta’ala ini kepada sahabat-sahabatnya. Dengan tauhid ia membangun ummat.
Oleh karena itu, sudah waktunya meraih kembali jalan kebenaran tersebut. Sudah lama kita terperosok dalam lubang kebodohan. Kita terlalu sering mengulang kesalahan serupa. Solusinya adalah kita pelajari kembali Islam ini dari masalah tauhid. Dan ingatlah jangan mengukur usia perjuangan dengan usia kita. ukurlah dengan usia perjuangan. Semoga Allah membimbing kita semua. amin, Wallahu A’lamu bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar