08 Maret 2017

TANTANGAN GLOBAL UMAT ISLAM MENGHADAPI TAHUN 2017



Oleh: Dr. Jeje Zainudin

Jumat pekan ini adalah Jumat pertama pada tahun 2017. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dalam perubahan tanggal dan tahun masehi ini. Pergantian tahun masehi, sama sekali tidak ada kaitan dengan ibadah umat Islam berbeda dengan kelender hijriah yang banyak sekali kaitannya dengan peribadatan yang dilaksanakan umat Islam. Hanya saja, kesadaran kalender kita, bahkan umat Islam masih dipengaruhi oleh kalender masehi sehingga setiap momen pergantian tahun masehi selalu mengundang perhatian, hatta umat Islam sekalipun. Oleh sebab itu, agar perhatian umat tidak tertuju pada hal-hal negatif, maka tulisan ini ingin mencoba berbagi pandangan tentang tantangan-tantangan yang akan dihadapi dihadapi umat Islam secara global dan nasional pada tahun 2017.
Tantangan-tantangan yang akan dibahas dalam tulisan kecil ini berkaitan dengan tantangan eksternal umat Islam, sekalipun tentu saja tantangan internal pun tidak sedikit jumlahnya. Tujuannya adalah untuk membangun kewaspadaan terhadap potensi-potensi luar yang sewaktu-waktu mengancam umat Islam Indonesia. Kewaspadaan terhadap ancaman eksternak ini juga diharapkan dapat mengarahkan potensi internal yang harus dioptimalkan di dalam diri umat Islam.
Tantangan paling serius bagi umat Islam pada tingkat global saat ini adalah masalah konflik Timur Tengah. Sejak Arab’s Spring (Musim Semi Arab), yaitu gerakan penurunan penguasa yang dianggap diktator oleh rakyat sejak di Tunisia hingga Suriah, konflik-konflik di Timur Tengah masing belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai dalam jangka waktu singkat. Ini konflik baru. Belum lagi konflik lama yang hingga saat ini juga belum terlihat penyelesaiannya seperti Palestina, Afghanistan, dan Irak. Kawasan-kawasan ini hingga saat ini juga belum memperlihatkan tanda-tanda menuju kepada perdamaian yang substansial.
Dari konflik-konflik yang sudah lama, sebetulnya sangat terlihat kepentingan negara-negara kapitalis besar seperti Amerika, Inggris, dan Rusia yang cenderung membiarkan konflik-konflik di kawasan Palestina, Afghanistan, dan Irak terus terjadi. Keinginan negara-negara besar ini sebetulnya adalah menguasai sepenuhnya kawasan-kawasan ini. Akan tetapi, perlawanan rakyat, terutama yang digerakkan oleh para pejuang Islam menghalangi keinginan mereka. Oleh sebab itu, selain berniat menumpas gerakan-gerakan yang menghalangi kepentingan mereka, dengan konflik yang berkepanjangan pun negara-negara besar ini tetap mendapat keuntungan besar. Keuntungan yang mereka dapatkan antara lain: jual beli senjata dan konsesi-konsesi politik dari penguasa boneka yang mereka dukung untuk berkuasa di kawasan tersebut.
Sementara itu, rakyat di kawasan-kawasan tersebut mengalami kerugian besar. Kemiskinan semakin meningkat, kualitas kesehatan menurun, dan akses pendidikan semakin sulit. Rakyat yang sebagian besar adalah umat Islam, dalam situasi seperti ini sulit untuk bisa menaikkan kualitas hidup. Jangankan berpikir untuk mengembangkan peradaban, untuk bertahan hidup saja sangat sulit. Sebagian hanya mengandalkan bantuan dari luar negeri. Situasi ini kelihatannya sangat menguntungkan musuh-musuh Islam yang seolah-olah tidak punya saingan dalam menguasai dunia ini.
Di kawasan yang baru terjadi konflik seperti Irak, Suriah, Yaman, dan Libya pun situasinya tidak jauh berbeda. Bahkan, di kawasan yang terkena dampak konflik berkepanjangan setelah Arab’s Spring ini malah memunculkan keadaan baru yang semakin tidak menguntungkan umat Islam, yaitu semakin menguatnya polarisasi Sunni-Syiah. Syiah yang dimaksud di sini adalah Syiah yang disokong oleh kekuatan Iran. Setelah berhasil melakukan eksperimen kekuasaan di Libanon sejak tahun 1982 melalui Hizbullah pimpinan Hasan Nashrullah, Iran pun terus meluaskan pengaruhnya di kawasan sekitarnya. Sejak tahun 1980, sudah terlibat perang dengan Saddam Husain. Namun, belum menang. Saat Amerika meninvasi Irak 1993, kemudian 2003, kelompok Syiah Iran turut bersama pasukan Amerika dan mendapatkan jatah kekuasaan di Irak saat Saddam Husain berhasil ditumbangkan. Saat ini, Iran mencoba peruntungan di kawasan Suriah. Bersama dengan Rusia dan Prancis, Iran ikut membantu Asad merebut kembali kawasan-kawasan yang dikuasai kelompok oposisi. Tentu saja tidak ada yang gratis.
Selain berdampak di kawasan konflik, agresivitas Syiah Iran ini juga menyebar ke hampir semua negara Islam, tidak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, semakin serius untuk masuk ke dalam berbagai lini kekuasaan di Indonesia. Kedekatan Indonesia dengan China dan Iran dimanfaatkan untuk semakin memperkuat perkembangan Syiah di Indonesia. Konflik laten di tengah masyarakat pun tidak bisa dihindari. Apalagi, dengan sangat mudah orang-orang Syiah di Indonesia menyebut semua yang anti-Syiah adalah Wahabi. Sementara “Wahabi” selalu dikaitkan dengan Saudi Arabia yang memang di kawasan Arab saling berebut pengaruh dengan Iran. Alhasil, potensi konflik laten Sunni-Syiah di Indonesia pun cukup mengkhawatirkan.
Bila konflik  Sunni-Syiah ini terus semakin membesar pada tahun 2017 ini, maka hampir bisa dipastikan kekuatan-kekuatan asing akan dengan sangat mudah masuk ke dalam barisan umat Islam. Umat Islam akan dengan sangat mudah dilemahkan. Apabila, umat Islam sudah lemah, maka akan dengan sangat mudah kekuatan asing ini mengendalikan negara ini. Sebab, dalam sejarah, yang paling sulit ditaklukkan oleh kekuatan asing di negeri ini adalah semangat dan kekuatan umat Islam. Ketika umat Islam bersatu dan kokoh, maka tidak ada kekuatan apapun yang berarti. Akan tetapi, ketika umat Islam terpecah dan lemah, maka semua kekuatan akan dengan mudah masuk menyusup ke dalam tubuh umat Islam.
Oleh sebab itu, pada tahun 2017 ini umat Islam harus segera menyusun langkah strategis untuk mengokohkan langkah dan melipatgandakan kekuatan. Pertama, setelah peristiwa 411 dan 212, umat Islam diingatkan tentang “persatuan dan ukhuwwah”. Spirit 411 dan 212 harus menjelma menjadi kesadaran tentang keharusan ishlâh antar-elemen Ahlus-Sunnah di Indonesia. Di lapangan Monas 212, umat Islam dari berbagai unsur dapat berbaur, bersatu, dan saling membahu mewujudkan satu cita-cita dan tujuan bersama. Jangan sampai semangat ini pudar dan kembali ke kebiasaan lama: saling melemahkan antar-elemen Ahlus-Sunnah wal Jamaah.
Kedua, belajar dari kasus-kasus di Timur Tengah, umat Islam di Indonesia agar mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Persiapan yang paling pokok adalah penguatan akidah dan kedekatan dengan Allah Swt. melalui pengajaran dan pengalaman agama. Dalam hal ini dakwah harus terus ditingkatkan. Pengamalan berbagai ibadah pun harus terus digalakkan agar menjadi habit (kebiasaan) yang membudaya di tengah umat Islam di Indonesia.
Ketiga, selain meningkatkan akidah dan ketakwaan, mumpung masih dalam keadaan aman, umat Islam Indonesia harus menempan profesionalisme dan kualitas diri dalam berbagai bidang: politik, ekonomi, budaya, iptek, dan sebagainya. Kelemahan umat Islam saat ini adalah masih belum banyaknya expert (ahli-ahli) dengan kualitas nomor satu dalam berbagai bidang. Politisi Muslim, ekonom Muslim, teknokrat Muslim, ilmuwan Muslim, dan sebagainya dengan kualitas nomor satu masih harus terus disiapkan dan diciptakan. Sebab, bagaimanapun persaingan global tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan cita-cita, melainkan juga harus ditempuh dengan kerja nyata yang membutuhkan keahlian yang nyata pula. Dalam hal ini, berarti umat Islam harus terus meningkatkan kualitas lembaga-lembaga pendidikannya agar berkelas dan dapat menghasilkan SDM paling baik di negeri ini. Wallâhu a’lamu bi al-shawwâb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar