18 Juli 2023

HIJRAH : HARI DEMI HARI, DARI HABASYAH KE MADINAH

 Oleh: Drs. H. Uus Muhammad Ruhiat

 

Dua Kali Hijrah ke Habasyah

Bulan Rajab tahun kelima kenabian. Dua belas laki-laki dan empat  perempuan diam-diam menyelinap ke balik legamnya malam Kota Makkah. Cemas dan mencekam. Mereka menuju laut,  dan sampai ke Pelabuhan Syaibah.  Tujuan mereka Habasyah, sebuah kerajaan di  Benua Afrika. Penyeberangan mesti dilakukan, secepatnya, sebelum kaum Quraisy datang menghadang.

Takdir Allah  menjemput mereka yang sedang  mencari tempat yang aman untuk beriman. Dua buah kapal dagang yang sedang berlajar menuju Habasyah bersandar di Pelabuhan Syaibah itu. Mereka ikut berlayar dalam kapal yang tak pernah lelah menggergaji laut ini.  Benar, kaum Quraisy berhasil melacak mereka, tetapi terlambat. Muhajirin dan muhajirat pertama yang dipimpin Usman bin Affan itu sudah jauh meninggalkan pesisir Laut Merah yang terletak di Jedah ini.

Raja Habasyah, Najasyi,  atau disebut pula Negus, dikenal sebagai penerima tamu yang ramah. Media massa menyebut Habasyah sebagai negeri penyelamat sahabat Nabi Muhammad saw, sekaligus tempat hijrah pertama umat Islam.

Muhajirin dan muhajirat ini tinggal sekitar tiga bulan di Habasyah. Mereka pulang ke Makkah, dengan harapan, tak ada lagi intimidasi, ancaman, atau kekerasan fisik. Ternyata, kaum Quraisy tak pernah berubah, tetap kasar dan semakin bengis. Nabi Muhammad saw memerintah para sahabatnya hijrah lagi  ke Habasyah.  Inilah hijrah ke Habasyah yang kedua, dipimpin Jafar din Abi Thalib, dengan jumlah muhajirin sebanyak 83 orang (kalau Ammar bin Yasir ikut) dan muhajirat sebanyak 18 atau 19 orang (Al-Mubarakfury, penerjemah Hanif Yahya, 1422 H/2001 M : 125).

Kalau hijrah pertama tanpa pengejaran sampai ke Habasyah, kini kaum Quraisy mengutus dua orang cerdik, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah (keduanya kemudian masuk Islam). Kepada Raja Najasyi, kedua utusan ini meminta agar mengembalikan muhajirin dan muhajirat ke Makkah. Para uskup setuju, apalagi kedua diplomat Quraisy sebelumnya memprovokasi para uskup itu. Mereka dianggap pendatang haram di bumi Habasyah.

Raja Najasyi meminta penjelasan kepada Jafar bin Abi Talib, yang sekaligus juga sebagai juru bicara. Terjadilah dialog. Jafar bertutur santun dan “flamboyant”. Penjelasannya sampai ke otak dan hati. Diksi dan gaya bahasanya membangkitkan kesadaran, bukan membakar emosi. Cara dan ciri lomunikasi Jafar pantas dikaji. Komunikasinya sebening kristal. Raja Najasyi terkesima, lalu meminta bukti yang dibawa Jafar. “Buktinya ada,”  jawab Jafar, lalu membacakan permulaan surat Maryam. Raja Najasyi menangis. Kedua kelopak matanya jadi telaga air mata. Janggutnya basah. Para uskup pun menangis. Raja Najasyi kemudian menolak permintaan kedua diplomat kaum Quraisy ini. Hadiah-hadiah pun dikembalikan. Raja Najasyi tak punya alasan mengusir mereka, bahkan kemudian memberi  suaka (pengamanan dan perlindungan). Jafar jadi bintang di langit Kerajaan Habasyah. Cahayanya langsung menembus jantung sang Raja,  sehingga kemudian masuk Islam.

Habasyah, atau Abyssinia, sebuah kerajaan di daratan Benua Afrika itu,  kini jadi  Republik Demokratik Federasi Etiopia (ada presiden dan perdana menteri),  ber-ibu kota Addis Ababa, dengan penduduk  sekitar 110  juta jiwa. Jumlah umat Islam menempati posisi kedua setelah penganut aliran kepercayaan Ortodoks setempat (Kristen Ortodoks).

Perjalanan Historis dan Patriotis.

Darun Nadwah jadi saksi tentang  skenario pembunuhan  yang didesain kaum Quraisy. Kaum muslimin, termasuk Nabi Muhammad saw,  akan dihabisi. Kebencian kepada umat Islam  meluas dan memuncak di kalangan mereka. Tetapi, umat Islam kian kokoh nan teguh mempertahankan keyakinan tauhid. Nabi Muhammad saw kemudian tahu persis  rencana jahat kaum Quraisy itu melalui wahyu.  Firman-Nya :

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِين

“Dan ingatlah tatkala orang-orang kafir mengatur tipu daya terhadapmu buat menawanmu atau membunuhmu atau mengusirmu, mereka mengatur tipu daya, tetapi Allah balas mengatur tipu daya, karena Allah sebaik-baik pembalas tipu daya mereka” (Al-Anfal : 30)

Berdasarakan ayat ini, Nabi Muhamad saw memerintah kaum muslimin Makkah hijrah ke Madinah.  Para sahabat berhijrah secara bertahap, lalu Nabi Muhamad saw berhijrah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam perjalanan historis dan patriotis ini, mereka berdua sempat beristirahat di Gua Saur. Pada episode hijrah ini, Nabi Muhammad saw berhasil mengecoh kaum Quraisy di Makkah, sehingga bisa lolos ke Madinah. Di Makkah, Nabi Muhammad saw menugaskan Ali bin Abi Talib agar tidur di kamarnya. Kaum Qurasy mengira, Nabi Muhammad saw masih berada di rumahnya, padahal sudah lolos menuju Madinah.

Dua anak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah dan Asma, pun mampu mengecoh kaum Quraisy. Pada saat kaum Quraisy mencari-cari  Nabi Muhammad saw, dan bahkan penemunya akan diberi hadiah, dua anak muda inilah yang pergi pulang dari rumah ke Gua Saur. Asma membawa perbekalan yang disembunyikan di balik baju hijabnya. Abdullah membawa domba di belakang untuk menghapus jejak kaki mereka berdua. Supaya sulit dilacak, jejak  kaki kedua orang ini dihapus dengan jejak kaki domba.

Purnama dari Sela-Sela Bukit Wada’

Gemuruh dan gempita penyambutan terhadap Nabi Muhammad saw luar biasa. Penduduk seisi Yatsrib (yang kemudian diganti jadi Madinah) berhamburan keluar rumah. Keceriaan dan kegembiraan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Madinah. Nabi Muhammad saw dikawal pasukan bersenjata dari kalangan Bani An-Najjar.

Takbir, tahmid, dan taqdis bergema memenuhi ruang dan waktu. Gadis-gadis Madinah mendendangkan  bait demi bait puisi sanjungan sebagai ekspresi kegembiraan. Nabi Muhammad  saw mereka ibaratkan purnama yang muncul dari sela-sela Bukit Wada’.

Ya, laksana purnama yang muncul dalam legamnya malam Madinah. Nabi Muhammad saw laksana sinar kehidupan di tengah-tengah  zaman The Dark Age. Thalaal badru ‘alaina/min tsaniyyatil Wada’… (Purnama muncul/dari sela-sela Bukit Wada’….) Nabi Muhammad saw memasuki Kota Madinah, Senin, 1 Rabiul Awal tahun 1Hijriah. Tsaniyyatul Wada’ ini. kabarnya, digunaan masyarakat Madinah sebagai tempat melepas sahabat atau kerabat yang akan pergi jauh.

Ibnu Qayyim menampik bait demi bait syair itu didendangkan saat menyambut kedatangan Nabi Muhamad saw. Dalam kitab Zaadul Ma’aad, karyanya, Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai ilusi, alias wahm. Bagi Ibnu Qayyim, bait demi bait puisi ini didendangkan untuk menyambut kehadiran Nabi Muhammad saw sekembalinya dari perang Tabuk. Tetapi, sebagaimana dalam catatan kaki buku Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw, Al-Mubarakfury mengutip Al-Allamah Mansyurfury, bahwa bait demi bait puisi itu memang benar didendangkan untuk menyambut Nabi Muhammad saw saat tiba di Madinah.

Argumentasi Ibnu Qayyim dianggap tak memuaskan (Al-Mubarakfury, 1421 H/2001 : 250). Kata peneliti historical fact,  Staniyyatul Wada’ itu tidak dilewati dalam perjalanan Makkah – Madinah, tetapi dilewati dalam perjalanan Syam (Siria) – Madinah. Hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, dan – tentu saja -  bukan dari Syam ke Madinah.   Kita telaah hadis demi hadis tentang dendang puisi dan hijrah ini. Kita punya Dewan Hisbah.

Ayat-Ayat Hijrah

Al-Qur’an memuat ayat hijrah, baik berupa intruksi maupun motivasi (khabariyah atau insyaiyyah). Firman-Nya :

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  

Lalu Luth beriman kepadanya (ajakan Ibrahim) dan ia berkata, “ Sesungguhnya aku akan berhijrah kepada Tuhanku, karena sesungguhnya Ia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-‘Ankabut : 30)

Keterangan di atas menunjukkan, Nabi Luth as (keponakan Ibrahim as) beriman kepada ajakannya dan menyatakan kesediaannya berubah dan berpindah, asal  diperintah oleh Tuhan. Dialah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam segala hal.

Orang-orang  yang beriman, berhijrah, dan berjihad, baik dengan harta, maupun dengan jiwa, akan  Allah angkat derajat mereka, dan dinyatakan sebagai orang-orang yang meraih kemenangan. Firman-Nya :

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ  

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (At-Taubah : 20)

Ayat Al-Qur’an ini menunjukkan, di sisi Allah Swr,  betapa tingginya derajat orang yang memiliki paket kumplit beriman, berhijrah, dan berjihad,  baik dengan harta maupun dengan jiwa.

Pada ayat selanjutnya, Allah memberi kabar gembira dengan rahmat-Nya. Di sorga ada  kenikmatan yang kekal. Khusus  bagi orang yang berhijrah, Allah Swt menjanjikan keluasan tempat, rezeki,  dan pahala. Firman-Nya :

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا.  

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya ( sebelum sampai ke tempat yang dituju ), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (An-Nisa : 100)

Refleksi Hijrah

Malaikat akan “menggugat” orang yang menolak hijrah, padahal agama dan pengamalan agamanya terancam. Ini sebetulnya perbuatan zalim terhadap diri sendiri. Firman-Nya dalam An-Nisa : 97, “Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh Malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri mereka (para malaikat) bertanya, Bagaimana kamu ini ? Mereka menjawab,” Kami orang-orang yang tertindas di bumi ini (Makkah). Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu . Maka mereka itu tempatnya di neraka Jahannam dan Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali.”

Adanya keinginan untuk hidup dalam masyarakat yang tertib dan patuh terhadap aturan, undang-undang, dan hukum-hukum Allah Swt, berarti adanya keinginan hijrah untuk kehidupan yang lebih baik.

Hijrah dari kehidupan semrawut  menuju kehidupan yang tertib tentu akan mendapat derajat yang tinggi  di sisi Allah Swt, baik derajat hidup di dunia maupun di akhirat.  Janji-Nya memang begitu.

Para ulama membagi tiga bagian hijrah. Pertama, meninggalkan atau berpindah dari negeri yang berpenduduk kufur menuju negeri yang berpenduduk muslim. Kedua, meninggalkan syahwat dan akhlak buruk menuju kebaikan dan akhlak mulia Ketiga, mujaahadatu ‘n-nafs, melawan diri sendiri dari perilaku buruk untuk capaian  martabat  manusia yang hakiki.

Hijrah dari  Makkah ke Habasyah, juga dari Makkah  ke Madinah, tentu tak akan ada lagi. Kini, hari demi hari, kita isi dengan hijrah yang lain, yang berlaku sepanjang masa,  Seperti  Nabi Ibrahim as, “Sesungguhnya aku hijrah kepada tuhanku”. (Al-‘Ankabut : 26). Juga, kita jadi muhajir seperti  dalam hadis di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ رواه البخاري  

Dari Abdullah bin 'Amr, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah " (Al-Bukhary). =

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar