25 September 2017

PESAN DARI SEJARAH QURBAN DALAM AL-QURAN



Oleh: Dr. Jeje Zainudin

Dalam Al-Quran bentuk ritual qurban diceritakan dalam tiga kisah. Pertama, disebutkan dalam kisah peristiwa perselisihan dua anak Adam, yang menurut para mufassir, nama mereka adalah Qabil dan Habil. Perselisihan mereka konon disebabkan rasa iri hati Qobil atas Habil ketika Habil dijodohkan oleh ayahnya dengan calon istri yang cantik, yang tiada lain adalah kembaran Qobil. Untuk meredam rasa irinya itu Nabi Adam memerintahkan mereka berqurban sebagai pembuktian di hadapan Allah siapa di antara mereka berdua yang paling layak menikahi perempuan itu. Sebagai peternak, Habil mempersembahkan qurban seekor domba yang besar dan gemuk, sementara Qabil mempersembahkan qurban berupa hasil-hasil tanaman yang kurang baik. Ternyata Allah Swt. hanya menerima qurban Habil dan tidak menerima qurban Qabil. Dengan demikian, Habil berhak menikahi adik Qobil. Qobil tidak puas dengan kenyataan itu. Ia menyimpan dendam kepada Habil yang kemudian berakhir dengan membunuhnya secara kejam. Al-Quran mengabadikan peristiwa ini dalam surat Al-Maidah ayat 27.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang di antara keduanya (Habil) dan tidak diterima dari yang lainnya (Qobil). Qobil berkata, “Aku pasti akan membunuhmu!” Habil menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima qurban dari orang-orang yang bertakwa.”
Pada kisah tersebut tergambar bahwa Habil adalah orang sholeh yang mempersembahkan qurbannya dengan tulus-ikhlas hingga diterima dengan baik oleh Allah Swt. Sementara itu, Qobil berkurban dengan motivasi yang buruk sehingga qurbannya tertolak. Tapi tragisnya, Habil yang sholeh itu justru menjadi korban pembunuhan Qobil yang berhati dengki.
Kedua, qurban disebutkan dalam kisah ujian Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim. Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail, anak kesayangannya, sebagai persembahan qurban. Setelah melewati proses perjuangan berat melawan keraguan hati yang bersumber dari kecintaan pada anak yang diidam-idamkannya sejak lama, gangguan Iblis, dan segala pertimbangan duniawi lainnya, akhirnya Ibrahim dengan kepasrahan yang tulus melaksanakan perintah itu. Allah memang hanya ingin menguji keikhlasan Ibrahim hingga kemudian ketika Ibrahim telah benar-benar akan menyembelih anaknya, Allah Swt. menggantinya dengan seekor domba yang besar dan gemuk. Konon peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah hinggga kemudian dipilih sebagai hari raya penyembelihan (Idul Adha). Berikut penuturan Al-Quran atas peristiwa di atas dalam surat Ash-Shâffât ayat 102-109.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين،َ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ  وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah olehmu apa pendapatmu.” Ia menjawab, “Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang Allah Swt. perintahkan kepadamu, Insya Allah, engkau akan mendapapatiku termasuk orang yang sabar. Tatkala keduanya telah beserah diri, Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya), kami panggil dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar satu ujian yang nyata. Dan Kami tebus dia dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu), “kesejahteraan dilimpahkan bagi Ibrahim.”

Ketiga, berqurban disebutkan dalam konteks mensyukuri nikmat Allah Swt. yang telah menghidupkan dan mengembangbiakkan berbagai macam hewan ternak untuk keperluan sembelihan dan angkutan manusia. Disebutkan hal ini dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 36-37 berikut.
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِين
“Dan telah Kami jadikan unta-unta itu sebagian dari syiar Allah Swt. kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaann berdiri. Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan berikanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang miskin tapi tidak minta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging dan darah unta itu sekali-kali tidak akan dapat mencapai (keridhoan) Allah. Tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu suapaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Dari ketiga konteks ayat-ayat qurban di atas, meskipun ditampilkan dalam kasus yang berbeda, namun dipersatukan oleh tujuan dan esensi yang sama, yaitu bahwa qurban adalah simbol dari ketundukan, pengabdian, dan rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya. Oleh karena itu, ketulusan dan keikhlasan niat merupakan syarat batiniyah paling utama untuk dapat diterimanya qurban oleh Allah Swt. manusia sering didominasi oleh sifat-sifat hewaniyah: egois, rakus, dendam, dan hedonistis. Sifat-sifat buruk tersebut selama ada pada hewan, tiadak akan mengancam kelestarian alam dan keharmonisan dunia. Akan tetapi, jika sifat-sifat tersebut telah menjadi prilaku manusia, bukan hanya keberlangsungan generasi manusia yang terancam, tapi seluruh alam dan penghuninya akn menjadi qurban.
Kisah Qabil yang membunuh Habil adalah contoh yang paling nyata betapa sifat hasud, iri dengki, dan dendam telah meporak-porandakan ikatan persaudaraan yang sangat kuat sekalipun. Itu artinya bahwa siapapun yang berqurban, ia sedang belajar mengorbankan kepentingan-kepentingan hawa nafsunya demi meraih kebahagiaan abadi, kebahagiaan Ilahi. Yang berqurban juga tidak hanya menyembelih hewan kesukaannya, melainkan sedang belajar menyembelih nafsu-nafsu hewaniyah yang banyak bersarang dalam jiwanya. Orang yang berqurban adalah mereka yang mendekatkan diri kepada Allah dengan memotong sifat-sifat hewaniah rendah yang melekat dalam jiwanya bersamaan dengan memotong hewan qurban yang dipersembahkannya untuk Allah.


HATI-HATI PENGKOTAK-KOTAKKAN ISLAM


Oleh: Teten Romli Komarudin

Kekhawatiran yang sangat berlebihan akan semakin masifnya gerakan umat (Islam), ditambah dengan kesadaran mereka akan tanggung jawabnya sebagai insan beragama dalam rangka menunaikan hak-haknya serta menjalankan kewajibannya, kini telah melahirkan suasana baru yang bagi sebahagian kalangan justru lebih terasa menegangkan. Munculnya pengkotak-kotakkan idiom Islam dengan penafsiran yang tendensius membuat Islam sebagai tertuduh dalam berbagai sisi.
Untuk menggambarkan kekhawatiran itu, sangat tampak dalam sejumlah karya dan penelitian yang nyata-nyata menggiring pada kesimpulan bahwa puritanisme Islammenjadi sebab dari segalanya. Khaled Abou el-Fadhl (Profesor Hukum Islam di UCLA Amerika Serikat) yang mendudukkan muslim puritan tak peduli pada Islam yang hidupdi masa kini maupun dalam sejarah. Mereka malah menggandrungi Islam yang dibayangkan”, baik sebagai mitologi masa silam maupun utopia masa datang. Mereka agresif, bersuara lantang dan didanai dengan baik. Yang terburuk dari semua itu, mereka berhasil melakukan aksi kekerasan mengerikan sehingga menyentak kesadaran semua orang, termasuk non muslim. (Khaled, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, terj. The Great Teft: Wrestling Islam from the Extremists, 2005).
Dalam pendekatan yang sedikit beda, Tariq Ali (seorang atheis yang tinggal di London), dengan pandangannya yang kiri membawakannya dengan seolah-olah penuh rasa keadilan. Pengagum Bung Karno dan Pramoedya Ananta Toer ini mengajak kita untuk melawan fundamentalisme Amerika dan fundamentalisme Islam, dan menciptakan sebuah ruang di dunia Barat dan Islam di mana kebebasan berpikir dan berimajinasi bisa dipertahankan. (Tariq, Benturan Antar Fundamentalis, terj. The Clash of Fundamentalisms; Crusades, Jihads and Modernity, 2004).
Dalam konteks tanah air, Mun'im A. Sirry (alumnus Islamabad Pakistan) menyuguhkan temuannya dalam rangka merespon issue-issue kekerasan dengan menyimpulkan, bahwa agama memiliki dua warisan; warisan pertama adalah pencerahan, sementara warisan kedua adalah kebrutalan. Di satu sisi, agama memunculkan dan mengembangkan etika, hukum dan gagasan-gagasan yang luhur seperti pemihakan pada kaum mustadh'afin, cinta kasih, pemuliaan martabat manusia, pemaafan dan pengampunan, serta keadilan sosial. Di sisi lain, agama menjadi kontributor utama perang, pertumpahan darah, kebencian dan intoleransi. (Mun'im, Membendung Militansi Agama; Iman dan Politik dalam Masyarakat Modern, 2003).
Pandangan agama menjadi sumber ketegangan, seolah mendapatkan tempatnya, hal ini bisa dilihat dari hasil riset The Wahid Institute yang menyebutkan bahwa kepentingan dan penguasaan terhadap resources tertentu tidak selalu bersifat material  dan besar, namun bisa juga yang bersifat sangat spiritual dan tak seberapa berharga. Di samping hal-hal bersifat materiil-ekonomis, ketegangan juga bisa terjadi karena problem penguasaan atas keseragaman praktik ritual keagamaan yang menjadi ciri khas kelompok tertentu untuk membedakan dengan kelompok lain, hingga pada penguasaan tempat ibadah. (Tim Penulis, Agama dan Pergeseran Representasi; Konflik dan Rekonsiliasi di Indonesia, 2009].
Babak berikutnya, sasaran tembak sudah mengarah pada lembaga keagamaan tertentu dan tuduhan pun semakin fokus. Munculnya dugaan, Islam Indonesia mengalami conservative turn, yaitu pembelokan ke arah konservatif bisa dilihat dari berbagai upaya dan pergerakan; upaya memasukkan Piagam Jakarta ke dalam tubuh konstitusi, pemberlakuan Perda Syari'ah di daerah-daerah, konflik internal kubu puritan dan kubu progresif di tubuh organisasi Islam arus utama, munculnya gagasan dan praksis Islam radikal yang bersifat transnasional, konservatisme MUI dan lain-lain. Maka, ramai-ramailah melakukan berbagai upaya penangkalannya. Buku editan Martin van Bruinessen dengan judul: Conservative Turn; Islam Indonesia dalam Ancaman Fundamentalisme terbitan Mizan, tahun 2014 adalah salah satunya. Kemudian disusul oleh buku Fawaizul Umam, Kala Agama Tak Lagi Merdeka, terbitan Kencana Prenamedia Group, tahun 2015 yang menyoroti MUI dalam praksis kebebasan beragama. Bahkan sebelumnya, buku senada pun sudah muncul sebagaimana ditulis M. Mukhsin Jamil, Membendung Despotisme Wacana Agama, terbitan Walisongo Press, tahun 2010.
Di samping idiom yang disematkan pada Islam itu menggunakan istilah-istilah yang bersifat keras seperti dengan istilah “Islam Radikal (Khamami Zada, 2002; M. Imdadun Rahmat, 2002; M. Zaki Mubarak, 2007; Bilveer Singh dan Abdul Munir Mulkhan, 2012), “radikalisme agama (Bahtiar Effendi, 2007; Zuly Qadir, 2014), Islam garis keras (Youssef M. Choueiri, 1990), Islam jihadi (Nur Khaliq Ridwan, 2002), atau seperti judul yang digunakan dalam buku Unholy War; Teror Atas Nama Islam (John L. Esposito, 2003). Ada pula yang menggiring dengan pendekatan istilah yang bersifat lembut dan renyah, namun esensinya sama, yaitu menolak cara pandang Islam yang fundamental. Di antaranya dalam buku Satu Islam (Redaksi Mizan, 1986), Islam Jalan Tengah (Tim Dian Rakyat, 2012), Islam Madzhab Cinta (Mukti Ali, 2015) dan Islam Tuhan Islam Manusia (Haidar Bagir, 2017).
Kaitannya dengan bahasan yang sedang kita diskusikan adalah adanya legitimasi terhadap pandangan-pandangan tersebut sebagai puncak cita-cita dari Islamisme yang terlahir dari amal laku para Islamis dalam menjalankan Islam tanpa mengklasifikasikan positif dan negatifnya menurut sudut pandang siapa yang menilainya. Sebagai contoh, pandangan Jalaluddin Rahmat yang kini tengah gencar-gencarnya dalam pembahasan ini, di mana  dirinya menjadikan pandangan Bassam Thibi (Pemikir asal Suriah berkebangsaan German) dalam bukunya Islamism and Islam. Menurutnya Islam itu agama, sedangkan Islamisme itu meng-agamakan politik. Lalu Kang Jalal  memberikan contoh sederhana; Khutbah jum'at itu adalah Islam, sedangkan berpolitik melalui mimbar jum'at itu adalah Islamisme. Secara sekilas nampak benar, namun apabila ditelisik lebih jauh tampak ganjilnya. Bukankah politik (dalam makna as-siyaasah as-syar'iyyah) pun tidak bisa dilepaskan dengan kehidupan dakwah yang di dalamnya ada al-amru bil ma'ruuf wan nahyu 'anil munkar? Tak terkecuali khutbah jum'at dan forum-forum mimbar lainnya. Namun demikian, adab mimbar dan etika publik hendaklah menjadi bagian yang penting untuk diperhatikan sebagai wahana edukasi dan pencerahan umat, di mana mereka sangat membutuhkan arahan, bimbingan, binaan dan kepahaman.
Semua itu, meminjam bahasa Dr. Muhammad 'Imarah (pemikir Muslim asal Mesir) merupakan perang terminologi atau perang istilah (ma'rakah musthalahaat), sebagaimana  yang pernah dikritikkan kepada George Graudy (seorang pemikir Prancis yang masuk Islam) ketika menyamakan istilah fundamentalis Kristen dengan fundamentalis Islam. Tujuannya hanya untuk menyerang dan menyudutkan Islam. Istilah-istilah di atas pun targetnya sama, yaitu ingin memperburuk citra Islam itu sendiri. Siapa yang menjalankan Islam dengan konsisten dan baik akan dicap seperti cap-cap di atas. Siapa yang kurang taat, apalagi setuju dengan semua yang datang dari Barat dianggap hebat dan Islam yang benar. Wallaahu a'lam