08 Desember 2016

WASPADA KOMUNIS BANGKIT LAGI!


Oleh: Ihsan Setiadi Latief 
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTqgvyRtL34Eqnu6BF6b6zRPeEIe9IkA0VnzLknZgSVRFKDg_6CeA
Sebagai sebuah ideologi, walaupun komunisme sudah dilarang di Indonesia sejak lama, pendukungnya tetap ada. Mungkin kaum komunis belum berani muncul secara terang-terangan saat ini. Namun bukan berarti mereka diam. Bila saatnya mereka rasakan sudah tepat, pasti mereka akan muncul kembali. Tulisan ini akan mengulas beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa sekarang kaum komunis tengah mulai mencari-cari kesempatan untuk menghidupkan ideologi mereka. Seperti yang diungkapkan ketua CCPKI Sudisma dalam sidang mahkamah militer luar biasa (Mahmilub) 1967, “Jika saya mati, bukannya PKI ikut mati. Tidak sama sekali tidak. Walaupun PKI sekarang sudah rusak berkeping-keping, saya yakin ini hanya sementara. dalam  proses sejarah, nanti PKI tumbuh kembali. Sebab PKI adalah anak zaman yang dilahirkan oleh zaman.“
Indikasi mulai bangkitnya komunisma dimulai sejak kejatuhan rezim Suharto. Mudahnya menggelar demonstrasi di era Reformasi ini membuat komunisme mudah pula untuk meyusup. Lambang-lambang komunis, palu dan arit, mudah ditemukan di atribut-atribut anak muda yang suka berdemonstrasi. Kalau pun bukan lambang itu, foto-foto Marx dan Engels sebagai penggagas komunisme banyak terpampang pada kaos-kaos mereka.
Slogan-slogan demonstrasi pun sudah mulai berbau komunisme:buruh bersatu tak bisa dilawan, rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, dan yang semacamnya. Komunisme pun ditengarai sudah menyusup dengan bentuk baru. Beberapa pihak mulai menyebut fenomena ini sebagai KGB (Komunis Gaya Baru).
Di tengah-tengah euforia reformasi ini juga, atas nama demokrasi, HAM dan keterbukaan, Tap MPRS No. 25/1996 yang berisi larangan komunisme dan UU no. 27 tahun1999 tentang larangan penyebaran paham Marxisme-Leninisme (komunisme) dipersoalkan dan dituntut untuk dicabut. Menurut mereka, TAP MPRS dan undang-undang itu menindas hak asasi manusia, sedangkan Indonesia termasuk negara yang menandatangani piagam HAM PBB, lalu mengapa TAP MPRS dan UU itu dipertahankan. Begitulah kilah mereka.
Lalu para tokoh dan simpatisan PKI itu ramai-ramai menerbitkan buku sesuai kisah masing-masing. Misalnya Hersri Setiawan, mantan aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat PKI) menulis Memoar Pulau Buru; Hasan Raid menulis Pergulatan Muslim-Komunis; Kresno Saroso menulis Dari Salemba ke Pulau Buru; Haji Ahmadi Moestahal menulis Dari Gontor ke Pulau Buru, dan Abdul Latief menulis Pledoi Latief; Soeharto Terlibat G30S dll.
Beberapa buku sejarah untuk sekolah formal mulai menghapuskan peristiwa pemberontakan PKI 1948 dan mencoba mengaburkan peristiwa G30S dengan menghilangkan singkatan PKI di belakangnya. Tercatat lebih dari 13 buku teks kurikulum pelajaran untuk tingkat SMP dan SMA tahun 2004 yang tidak mencantumkan aksi pemberontakan PKI pada tahun 1948 dan 1965 menjadi buku acuan pelajaran dan beredar di masyarakat. Belakangan, buku-buku aneh tersebut telah ditarik dari sekolah-sekolah.
Yang dianggap menjadi ikon mulai berhembusnya lagi angin komunisme ini ialah saat seorang anggoata DPR RI  dari Fraksi PDIP Ribka Tjiptaning meluncurkan bukunya pada awal Oktober 2002 dengan judul Aku Bangga Jadi Anak PKI. pada pertengahan 2006, dia meluncurkan buku kedua dengan judul Anak PKI Menjadi Anggota Parlemen.
Kongres PKI di masa orde lama merupakan kongres yang ke VII di Blitar pada tahun 1965. Sedangkan di masa orde reformasi, sudah berlangsung beberapa Kongres PKI. Pada tahun 2000 berlangsung kongres ke VIII di Sukabumi Selatan Jawa Barat, dan kongres kesembilan di adakan di Cianjur Selatan, Jawa Barat, 2006. Sementara kongres yang ke X berlangsung di Desa Ngabrak Magelang, Jawa Tengah, 2010 dengan kamuflase Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik.
Kongres PKI ke X ini menghasilkan pengurus yang dipimpin oleh Wahyu Setiaji (DN Aidit yunior) dan Teguh Karyadi (Nyoto muda). Sementara PRD hasil kongres VIII dipimpin oleh Agus Jabo, sebagai Ketua Umum dan Dominggus Oktavianus sebagai Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD/PKI).
Menjelang Reformasi muncul buku harian seorang kader Gerwani Muda, yang bernama Dita Indah Sari tertanggal 16 April 1996 yang berisi: ”Partai sudah berdiri, Well, 31 tahun terkubur, dibantai, dihina, dibunuh, dilarang, diawasi, dikhianati, sekarang dibangun lagi”.
Pernah dideklarasikan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Ada dugaan partai ini mengusung ide-ide komunis. Anggapan ini datang setelah melihat cara-cara gerakan partai ini selalu mengusung kemiskinan dan masalah sosial sebagai agenda utamanya. Ketua majelis pertimbangan Papernas, Dita Indah Sari mengatakan bahwa kelompoknya memang mengakui berhaluan kiri. Namun dirinya mengelak jika disebut berpaham komunis
Regenerasi PKI, semakin menguat ketika para diaspora PKI, yang kembali ke Indonesia setelah masa pelarian bertahun-tahun di luar negeri, berani muncul terang-terangan menuntut rehabilitasi pada pemerintah
Munculnya aliran-aliran sesat seperti Alqur`an Suci, Al-Qiyadah Islamiyah, Syiah, Ahmadiyah ditengarai juga dihembuskan oleh pihak-pihak yang menginginkan komunisme muncul kembali. Menurut penuturan orang tua yang dulu mengalami peristiwa 1965, keadaan ini serupa pada waktu itu. Saat itu, muncul aliran-aliran menyimpang yang menjanjikan datangnya ratu adil atau Al-Masih.
Pada tahun 2015, pemerintahan Jokowi mengarahkan pembangunan infrastruktur skala besar di bidang maritim, transportasi darat dan pertanian. Pembangunan di tiga bidang ini sepintas menunjukkan keberpihakan pada rakyat. Tapi ada sebagian kalangan yang mencurigai adanya target tersembunyi program pencarian dana raksasa dari proyek tersebut, yang akan dikelola oleh para taipan, dan kelak dialirkan ke perjuangan kebangkitan komunis di Indonesia.
Pengucuran dana ini adalah awal penguasaan Cina di tanah air. Nantinya Indonesia akan mirip Hong Kong. Dilihat dari mudahnya para pekerja kasar Cina masuk ke Indonesia dan nantinya akan ada ekspansi besar-besaran Rakyat Cina ke Indonesia yang membuat warga Pribumi tersingkirkan.
Masuknya Cina juga diduga akan menyebarkan ideologi komunis ke Indonesia sebagai konsekuensi kerja sama kedua negara. Ideologi komunis Cina akan mudah menyebar di Indonesia. Memang ada yang membantah, sistem ekonomi Cina sudah kapitalis sehingga komunis tidak laku. Tapi perlu diingat, ekspansi ideologi itu tidak akan pernah mati.
Indikasi ke arah sana misalnya dikuatkan dengan beberapa peristiwa antara lain: Kunjungan pertama kali ke Luar Negeri  sejak awal dilantik sebagai Presiden adalah kunjungan ke RRC, yang penguasanya adalah Partai Komunis; memfasilitasi Konsolidasi Korban 1965, melalui Menkopolkam Luhut B Panjaitan; menerima Delegasi Partai Komunis Cina di Kantor Presiden dengan merumuskan berbagai komitmen; menugaskan Menkopolkam utk mengusut kuburan korban 1965, PKI  untuk bukti rencana Pemerintah mengeluarkan Pernyataan Minta Maaf Pemerintah thdp para korban 1965; dan membiarkan adanya rencana Apel Besar HUT PKI di GBK.
Apakah semua itu menandakan Komunis benar-benar akan bangkit lagi di Indonesia dengan dukungan penguasa? Pastinya tentu Allah Swt. lebih tahu. Yang paling penting buat kita saat ini adalah terus meningkatkan kewaspadaan kebangkitan kembali komunisme yang merupakan salah satu musuh besar Islam dan umat Islam. Wallahu A’lam.

MENUJU PERSATUAN AHLUS-SUNNAH INDONESIA

Oleh: Wildan Hasan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjY1wCN8MUQeX3TkyW2R3ZuqlQnu6gKouAbBh4eAMYNlkih0opm5UrdklX0n6WUvJvSgAgui_FIC7uE783_jPntumyeV6bqX1PAQpdSt6i7L7liW4jJawqqUutHXng7EFaC7Kd1qvCHfZBG/w1200-h630-p-nu/aksi+bela+islam.jpg 
Saat ini kehidupan kaum Muslimin di tanah air sangat berat. Begitu banyak masalah, beban kehidupan, dan tantangan yang harus dihadapi. Di negeri sendiri, kita menghadapi masalah kemiskinan, kebodohan, liberalisasi ekonomi dan pemikiran, konflik sosial, merebaknya budaya barat, tirani media, tirani minoritas, korupsi birokrasi, eksploitasi kekayaan nasional, berkembangnya aliran-aliran sesat, dekadensi moral, kriminalitas, apatisme publik dan lain-lain. Masalah-masalah ini saling kait-mengkait, terkoneksi secara komplek satu jalur dengan jalur lainnya.
Dalam kondisi demikian, mestinya kita berfikir arif dan bijak, menghemat energi kehidupan (waktu, tenaga, pemikiran dan harta), memaksimalkan kerja dan peluang, merapatkan barisan, menambal kebocoran, saling menolong mewujudkan kebaikan, saling menjaga, mengasihi, peduli dan setia kawan antara sesama Muslim. Namun kenyataannya, tidak mudah mewujudkan harapan-harapan itu. Dalam situasi penuh tantangan ini, kita tidak tergerak untuk bersatu, atau mencari jalan mengishlahkan perselisihan; tetapi kita justru banyak terlibat dalam konflik dan perselisihan antar sesama. 
Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum Muslimin di nusantara yang menghalangi terwujudnya persatuan umat, ialah sulitnya menyatukan barisan Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA). Kita patut bersyukur, bangsa ini didominasi oleh kalangan Ahlus Sunnah. Tetapi eksistensi Ahlus Sunnah sendiri tersebar di berbagai organisasi, lembaga, sikap politik, dan bidang aktivitas. Andaikan semua ini dipandang sebagai sebuah keragaman yang saling melengkapi, tentu kita sangat mensyukurinya. Namun dalam kenyataannya, antara sesama Ahlus Sunnah kerap terlibat dalam perselisihan sengit yang akhirnya saling menegasikan.
Ketika Ahlus Sunnah terpuruk dalam labirin pertikaian, akibatnya umat Islam di Nusantara terus-menerus didera kelemahan, penderitaan, dan akhirnya berdampak pada kelamnya wajah Indonesia saat ini. Karena kondisi bangsa ini adalah cerminan dari kondisi umat Islam sebagai mayoritas rakyat tanah air. Saat ini kita sangat dituntut untuk mencari jalan perdamaian, titik temu dan jembatan penghubung yang bisa menyatukan hati sesama Ahlus Sunnah. Kita harus berusaha sekuat tenaga membangun kekuatan umat. Kalau tidak bisa menyatukan pemikiran, setidaknya memiliki komitmen untuk saling menghormati dan mengasihi. Kalau tidak mampu berkomitmen, berarti kita harus mampu menahan diri dari sikap-sikap yang bisa memperlebar jurang perpecahan. Apalagi musuh-musuh Islam terus berupaya memerangi umat Islam dengan memecah belah dan mengadu domba berbagai kalangan Ahlu Sunnah satu sama lainnya. Sebagai contoh, mereka mengadu domba antara Wahabi dan NU yang keduanya sejatinya berada di rumah besar Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sama dengan meniup-niupkan isu takfiri dan sebagainya.
Tidak diragukan lagi, bahwa persatuan umat adalah dambaan kita semua. Banyak dalil syariat yang menyerukan umat Islam agar bersatu padu, merapatkan barisan dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa. Hingga disebutkan dalam riwayat, “Berjamaah itu adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab”. [HR. Al Qadha’i, dari Nu’man bin Basyir]. Persatuan kaum Muslim akan tercapai, jika Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa bersatu. Karena Ahlus Sunnah merupakan mayoritas dari kalangan umat Islam di seluruh dunia; mereka adalah pengikut salah satu dari imam-imam Ahlus Sunnah, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, Ibu Taimiyyah, dan lainnya. Ahlus Sunnah inilah yang dijanjikan mendapatkan keselamatan dan pertolongan.
Namun dalam praktiknya, tidak mudah menyatukan Ahlu Sunnah, karena terdapat perselisihan antara elemen-elemen Ahlus Sunnah sendiri yang tidak jarang dijadikan celah bagi musuh-musuh Islam untuk merusak ukhuwah Islamiyah. Mereka berselisih dalam perkara fiqih, cabang-cabang aqidah, pemikiran, hingga kepentingan politik. Salah satu perselisihan yang menonjol ialah antara paham Asy’ariyah-Maturidiyah di satu sisi dan Salafiyah di sisi lain.
Setiap kelompok kaum Muslim yang meyakini kemurnian dan kebenaran paham Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam proses pengajaran dan pergerakan dakwahnya. Ada banyak sekali kebaikan ormas dan warga NU bagi umat dan bangsa. Peran warga Nahdliyyin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia amatlah besar. Di sisi lain ada banyak pula kebaikan pada gerakan dakwah Modernis seperti Persis, Muhammadiyah dan lainnya yang sering dikategorikan sebagai Salafi Wahabi terutama dalam dakwah pemurnian aqidah Islam dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Melihat bahwa gerakan dakwah Islam sesungguhnya telah demikian marak digerakkan para aktivisnya. Lembaga dakwah dengan berbagai kecenderungan muncul di mana-mana, baik yang hadir secara formal maupun yang tidak formal. Semua ini tentu merupakan realitas yang menggembirakan. Namun, bersamaan dengan maraknya gerakan dakwah itu, muncul pula realitas lain yang potensial menghambat laju gerakan dakwah itu sendiri. Realitas itu banyak yang justru lahir dari dalam sendiri.
Ternyata umat belum bisa bersatu dalam mempersepsi persoalan. Keragaman itu lahir dari ragamnya cara pandang dan pemikiran tentang dakwah. Berikutnya gerakan dakwah pun hadir dalam format yang bermacam-macam, visi yang aneka warna, dan orientasi yang bervariasi, meskipun semua mengusung semangat Islam sebagai tujuan akhirnya.
Sebenarnya, ragam pendapat dan pemikiran itu sendiri merupakan persoalan yang ada sejak zaman dahulu. Para sahabat berbeda pendapat tentang beberapa persoalan dan Rasulullah tidak menganggapnya sebagai hal yang negatif. Rahasianya apalagi kalau bukan kenyataan bahwa Rasulullah berhasil menanamkan akidah dan akhlak demikian kuat dalam dada mereka hingga mampu menjadikan perbedaan pendapat sebagai realitas manusiawi yang tidak berpengaruh terhadap prinsip dasar itu. Itulah didikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Tampaknya hal inilah yang kini menjadi barang langka.Terkadang sebuah gerakan dibangun pertama kali dengan landasan loyalitas kepada lembaga. Setelah itu pembinaan keislamannya secara murni tidak berlangsung dengan baik. Akhirnya fanatisme kepada golongan lebih dominan muncul daripada pembelaan terhadap aqidah dan keimanan yang merupakan Kalimatun Sawa di antara semua kelompok kaum muslimin dan gerakan dakwah Islam.
Orang sering mengatakan bahwa keragaman institusi Islam yang ada sekarang sebuah realitas positif belaka, agar menjadi media persaingan yang sehat. Sampai batas tertentu pendapat ini bisa dibenarkan. Namun realitas juga yang menjawab bahwa sungguh keragaman yang terus terjadi dan tak kunjung bisa disatukan ini telah melemahkan kekuatan Islam. Umat yang besar ini ternyata tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi berbagai tantangan besar yang dihasilkan dari konspirasi berbagai kekuatan sebagaimana disebutkan di atas.
Istilah Ahlu Sunnah wal Jama’ah bukan milik salah satu kelompok dan golongan dari jama’ah kaum Muslimin. Aswaja adalah nilai dan karakter yang harus dimiliki oleh seluruh umat yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikrarkan diri Aqidah, ibadah, akhlaq dan semua amaliyah hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As Sunnah. Maka agar tidak ada lagi sikap saling menegasikan antara kelompok kaum muslimin. Hadits tentang iftiraqul ummah semestinya digunakan untuk mendakwahkan “karakter selamat” bukan “klaim selamat”. Karena Nabi tidak pernah menyebut nama khusus. Para ulama pun tidak memastikan bahwa kelompok fulan atau si fulan sebagai golongan yang selamat. Rasulullah hanya menyebutkan “karakter” (sifat) kelompok yang selamat dengan, "Al-Jama'ah" atau "Maaana 'alaihiwa ash-habi."
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan dalam banyak sabdanya tentang bahaya perselisihan dan pertengkaran, selain tentu saja dampak negatif yang ditimbulkannya. Beliau menyeru untuk senantiasa berpegang teguh dengan prinsip, berkasih sayang, saling meringankan beban sesama, di atas landasan I’tisham bihablillah di samping ukhuwah dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila itu dipelihara dan diamalkan oleh seluruh elemen umat dan gerakan dakwah, maka insya Allah umat ini akan mendapatkan kejayaannya kembali.
Berkaca kepada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Umat Islam adalah elemen paling penting dan paling berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan umat Islam di tanah air ini adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Oleh karena itu sangat penting untuk mengupayakan persatuan dengan saling menghormati dan memahami di antara kelompok-kelompok Ahlus Sunnah di nusantara. Sebab, bila Ahlus Sunnah di nusantara ini tidak bersatu maka akan membahayakan keutuhan NKRI. NKRI dibangun, dipelihara dan dijaga oleh umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena Indonesia ada dengan adanya umat Islam. Maju dan mundurnya bangsa ini sangat bergantung kepada maju mundurnya kaum Muslimin di tanah air. Marilah kita jaga NKRI ini dengan menjaga persatuan di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah internal maupun eksternal umat demi terwujudnya Indonesia yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

INTIFADHAH PALESTINA JILID III



Ahmad Syahidin, MA

Masalah Palestina sampai hari ini masih menjadi persoalan umat Islam seluruh dunia. Bahkan dalam setiap pertemuan negara-negara Islam seluruh dunia, topik ini selalu menjadi perhatian utama seperti pada KTT OKI beberapa waktu yang lalu di Jakarta. Hanya saja, walaupun setiap KTT dibicarakan, namun realisasi pembebasan Palestina dari tangan penjajah Israel dan Amerika hingga saat ini kelihatannya masih sebatas wacana. Justru yang berjibaku mempertahankan kawasan ini adalah para pejuang Palestina sendiri.
Sejak tahun 1987, mereka sudah merancang suatu gerakan perlawanan yang disebut “Intifadhah”. Intifadhah yang berarti perlawanan dan kebangkitan rakyat dalam melawan ketidakadilan, kezaliman yang dilakukan tirani penjajah Zionis terhadap bangsa Palestina, terus bergulir dan semakin besar, baik intensitas maupun kualitasnya. Intifadhah terakhir adalah Intifadhah Al-Quds. Hanya saja, jarang sekali pemberitaan mengenai Intifadha terakhir ini di media masa dunia yang umumnya dikuasasi Yahudi dan pendukung Yahudi ini, termasuk di Indonesia. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, sangat penting umat mengetahui masalah ini sebagai bagian dar kepedulian kepada masjid Al-Aqsha.
Intifadhah Al-Quds terjadi awal Oktober tahun 2015. Intifadhah ini dikobarkan sebagai respon atas kebijakan-kebijakan Israel yang semakin diskriminatif. Mereka juga semakin semena-mena terus menodai kesucian Masjid Al-Aqsha dengan mengotorinya setiap hari. Ditambah kebijakan terakhir Israel, yaitu pembagian tempat di Al-Aqsha. Ada tempat-tempat khusus yang diklaim sebagai hak milik kaum Yahudi seperti gerbang Al-Mugaribah dan gerbang Silsilah. Ada juga ada pembagian waktu yang membatasi kaum Muslim dapat berkunjung ke Al-Aqsha. Ada waktu-waktu khusus untuk kaum Yahudi dan juga ada waktu khusus untuk kaum Muslim. Intifadhah ini juga meletus di tengah berbagai krisis dan mandegnya perundingan antara otoritas Palestina dan Israel serta berlanjutnya perpecahan internal di Palestina.

Sejarah Intifadhah
Intifadhah Al-Quds ini adalah yang ketiga kalinya dalam sejarah Palestina untuk membebaskan diri dari penjahahan Zionis. Sebelumnya, ada Intifadhah Batu yang dikenal sebagai Intifadhah jilid pertama yang meletus pada 1987. Intifadhah ini dipicu oleh penabrakan sengaja truk Israel terhadap sebuah kendaraan Palestina yang ditumpangi buruh Palestina  di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza yang menyebabkan empat warga Palestina meninggal. Aksi masa dan perlawanan di jalan-jalan Palestina  ini terus berkobar di seluruh wilayah Palestina  secara spontan hingga tahun 1991. Aksi Intifadhah kemudian mereda setelah Kesepakatan Oslo tahun 1993 digelar antara PLO dan Israel.
Intifadhah pertama lebih dikenal dengan Intifadhah Batu karena rakyat Palestina, sebagian besar dari kalangan anak-anak dan pemuda melakukan aksi perlawanan dengan batu. Mereka menyerang kendaraan militer dan patroli Israel. Selama sekitar lima tahun Intifadhah ini, sebanyak 1.162 warga Palestina gugur syahid, 241 di antaranya anak-anak; 90 ribu luka-luka; dan 15 ribu warga ditangkap. Selain itu, infrastruktur Palestina juga luluh lantak. Sementara di pihak Israel hanya sekitar 160 warganya yang tewas.
Setelah Intifadhah Batu berakhir, kemudian muncul Intifadhah Al-Aqsha. Intifadhah ini meletus pada 28 Desember tahun 2000. Perlawanan rakyat ini dipicu oleh penistaan terhadap kiblat umat Islam pertama Masjid Al-Aqsha oleh PM Israel  Ariel Sharon. Ariel Sharon merusak dan mengotorinya dengan pengawalan ketat pasukan militer dan polisi zionis. Perlawanan dan bentrokan kembali berkobar. Konfrontasi kali ini lebih dahsyat dan berkobar hingga tahun 2005.
Kerugiaan kedua belah pihak meningkat dibanding Intifadhah sebelumnya. Sebanyak 4412 warga Palestina  gugur dan 48.322 luka-luka. Sementara di kalangan Israel  sebanyak 735 tewas, 4500 luka-luka. Akibat kerugian inilah, Israel  akhirnya memutuskan hengkang dan menarik diri dari wilayah Jalur Gaza. Walaupun jumlah korban dari pihak Israel lebih sedikit, namun secara moral Israel sudah kalah.
Intifadhah yang tengah terjadi sekarang ini adalah Intifadhah Al-Quds atau Intifadhah Jilid III. Perlawanan rakyat ini terjadi sejak 1 Oktober hingga saat ini (22/4/2016). Intifadhah ini telah mengakhiri mimpi Israel. Penjajah Zionis yang hendak memanfaatkan situasi krisis di kawasan Timteng dan menurunnya kepedulian terhadap persoalan Palestina dari negara-negara Arab karena kesibukan masing-masing negara mengurusi urusan dalam negerinya yang dihantam konflik internal sebagai efek dari Arab’s Spring.  
Mimpi Israel selama beberapa tahun terakhir ini adalah ingin menerapkan status quo baru melalui aksi Yahudisasi dan pembangunan pemukiman di Al-Quds. Aksi mereka dimulai dari rencana pembagian waktu dan tempat di Masjid Al-Aqsha. Selanjutnya target mereka adalah merobohkan tiang-tiang masjid Al-Aqsha untuk membangun Kuil Sulaiman sesuai rencana mereka. Dengan mengubah kondisi Al-Aqsha ini, menurut analis Mesir Yusuf Zaidan akan berdampak pada sikap umat Islam yang tidak lagi akan menganggap masjid ini sebagai masjid yang terdapat dalam surat Al-Isra sehingga tak akan menggugah kesadaran umat. Ini akan memudahkan Israel untuk melancarkan rencananya menguasai seluruh Palestina.
Israel berusaha mencari alasan untuk meloloskan rencananya dengan mengintensifkan penggerebekan ke masjid Al-Aqsha. Tahapan rencana Israel di sekitar masjid Al-Aqsha yang telah direalisasikan hingga saat ini adalah pembangunan infra struktur untuk warga Yahudi. Kini sudah terbangun 102 sinagog Yahudi. Semuanya di sekitar masjid Al-Aqsha dan tidak ada sebelum tahun 1967. Perluasan terowongan bawah masjid kini sudah mencapai 56 galian besar.
Tahap kedua yang sudah terwujud adalah pembangunan lembaga-lembaga Talmud untuk mengajarkan kepada warga ekstrim Yahudi bagaimana menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap pembangunan kuil mitos mereka. Tahap berikutnya adalah menyelesaikan desain bangunan “yang paling kudus”, yaitu Kuil Sulaiman dan kendil lilin dan letak lokasinya persis di bawah masjid Al-Asha. Setahap demi setahap mereka terus akan menghancurkan bangunan masjid dan akan menggantinya dengan Kuil Sulaiman impian mereka.
Intifadhah yang hingga saat ini  sudah berjalan selama tujuh bulan tampak terus berkobar dengan penuh percaya diri. Bahkan sudah tiga kali Menlu Amerika John Kerry berusaha unutk menghentikannya, namun gagal. Dengan Intifadhah ini tampaknya mimpi Israel benar-benar buyar. Semua warga Al-Quds bersama Palestina. Mereka siap datang ke masjid Al-Aqsha dan siap berkorban menghadapi rencana jahat Israel.

Keberhasilan-Keberhasilan
Selama enam bulan aksi intifadhah Al-Quds, penjajah Zionis telah menangkap 1899 anak-anak Palestina. Angka ini merupakan 37 persen dari total warga Palestina yang ditangkap selama Intifadhah Al-Quds. Angka anak-anak yang ditangkap naik 338 persen dibandingkan dengan rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Badan Urusan Tawanan Palestina mengatakan, hingga kini pemerintah Israel masih menahan 450 anak-anak Palestina yang usianya antara 12-18 tahun, termasuk 16 anak putri, yang paling kecil berusia 12 tahun bernama Dima Alwawi. Gadis kecil ini ditahan sejak Februari lalu. Anak-anak Palestina yang ditahan mengalami berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikhis.
Kebanyakan hukuman yang dijatuhkan pada mereka disertai dengan pembayaran denda yang sangat besar. Puluhan dari mereka telah dijatuhi hukuman “tahanan rumah”. Jumlah anak-anak Palestina dari total jumlah penduduk, berdasarkan data dari Pusat Data dan Statistik Palestina tahun 2015, sekitar 2.165.288 anak, 1.105.663 laki-laki dan 1.059.625 wanita.
Sementara itu, hasil kajian yang dilakukan Pusat Kajian Al-Quds menyebutkan jumlah warga Palestina yang telah gugur syahid sejak awal Oktober 2015 mencapai 198 orang. Terakhir gugur di Al-Quds dan Salvet. Hasil kajian juga menyampaikan jumlah syuhada terbanyak berada di kawasan Hebron yang mencapai 53 orang. Menurut pengamatan di lapangan, jumlah sebanyak itu sudah termasuk 42 anak-anak yang mencapai 22 % dari jumlah syuhada keseluruhan. Ia juga mengisyaratkan, jumlah tersebut mencakup para syuhada yang tidak disebutkan namanya atau yang tidak ada di daftar departemen kesehatan. Di kawan lain, yaitu Al-Quds syuhada sebanyak 44 orang; dan di Gaza mencapai 25 orang; sementara di Ramallah, Al-Birah, dan Jenin masing-masing 19 orang.
Sementara dari pihak Zionis menurut catatan Pusat Kajian Al-Quds berjumlah 27 orang tewas dan 350 orang tewas dalam 77 kali aksi sniper, 77 aksi penikaman, 44 aksi upaya penikaman dan 19 aksi penabrakan. Jumlah ini cukup mencemaskan Isarael bila Intifadhah terus berjalan.

Akhir Intifadhah
Menurut Dr. Isham Shawir, Intifadhah Al-Quds bukan proyek politik sehingga para politisi tidak mungkin memetik hasilnya. Ini adalah murni kehendak rakyat yang ingin bangkir melakukan perlawanan terhadap kezhaliman penjajah. Saat ini sudah memasuki bulan ke-7 dan akan berlangsung terus dengan izin Allah karena tekad rakyat Palestina. Rakyat sudah memutuskan untuk mengubah realita pahit hidup di bawah penjajah Israel dan carut marutnya perpecahan internal di kalangan politisi Palestina. Pahlawan-pahlawan kecil dan besar dari bangsa Palestina adalah bahan bakar Intifadhah yang terus mereka glorakan.
Rakyat Palestina tidak mau kecolongan ada orang yang memanfaatkan jihad dan pengorbanan ini untuk kepentingan sesaat. Mereka yang menuntut gencatan senjata atau menghentikan Intifadhah, dipersilahkan menuntut Israel untuk menghentikan kejahatan-kejahatannya dalam membangun pemukiman illegal, Yahudisasi, penistaan Al-Quds dan tempat suci di sana. Silahkan mereka menuntut politisi Palestina menjamin dan memberikan kehidupan yang layak dan harapan cerah bagi rakyat Palestina. Jika itu dipenuhi, bisa jadi Intifadhah akan mereda. Jika itu tidak dipenuhi, kemungkinan Intifadhah Al-Quds ini akan terus bergelora.